
**πΉπΉπΉπΉ
Setelah kejadian malam itu, Mila dan Habil jadi semakin dekat sedikit banyak nya mereka mengerti watak masing-masing. Seperti pagi menjelang siang ini Mila mengunjungi Habil di kantornya dan membawa makan siang untuk calon suami nya itu.
Mila melangkah pasti seperti biasa ia selalu mengenakan masker dan topi tak lupa kacanata hitam yang bertengger di hidung mancungnya menambah kesan misteri.
"Apa mas Habil ada di dalam?" tanya Mila kepada seorang wanita dewasa yang merangkap sebagai sekertaris Habil
"ada, silahkan masuk" ucap Danis sopan karna sudah paham dengan Mila yang sering berkunjung ke kantor ini, Mila tersenyumbdan langsung beranjak dari meja Danis.
Mila mengetuk pintu dan masuk kedalam, terlihatlah Habil yang sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya seraya tersenyum melihat visual yang ada di hadapannya. Mila melangkah menuju sofa tak memperdulikan Habil yang ketika Mila datang selalu mengbangkan senyumnya dan tidak mendengar apa yang Mila katakan hingga Mila kesal dan alhasil seperti sekarang ini.
Mila masih diam seraya mempersiapkan makan siangnya dan Habil, seperti biasa hingga Mila selesai Habil tetap tersenyum melihat kearah Mila tanpa berkata apapun hanya jemari nya saja yang mengetuk-ngetuk meja.
"apa dengan melihat dan tersenyum perut anda bisa kenyang tuan muda" ucap Mila kesal karna beberapa minggu selalu seperti ini entah apa yang ada dalam pikiran Habil Mila tak tahu.
Habil berdiri melangkah kearah sofa dengan santai tanoa memperdulikan raut wajah Mila yang meradang kesal melihat tingkah Habil seperti orang tak bisa bicara.
"kalau mas masih seperti ini, Mila nggak mau lagi ya buatkan makan siang mas!" ucap Mila ketus, Habil terkekeh mendengar suara Mila yang nampak geram
__ADS_1
"okeyy, maaf mas salah" balas Habil santai lalu dudul di hadapan Mila, mereka masih menjaga jarak aman, karna yang di ingatan Habil Mila mengalami trauma tanpa ia bertanya dengan yang bersangkutan.
"ayo mas, nanti dingin" ucap Mila
"tangan mas sakit" balas Habil singkat
"kenapa, apa mas jatuh atau kenapa mas" ucap Mila panik
"tidak hanya sakit jika mengangkat sendok"
Mila memicingkan matanya, ia sudah memeriksa jemari Habil dan tak ada apapun
"bohong" ucap Habil keceplosan
"bilang saja mas mau Mila suapin kan!!" jawab Mila dengan mata menyipit
Habil mengangguk dan terbahak karna melihat respon Mila yang mebggemaskan, Mila langsung meraih sendok dan menyuapi Habil dengan takaran penuh, ia kesal karna Habil mempermainkannya jelas-jelas Mila sangat khawatir.
"jadi ingin cepat-cepat bulan depan" ucap Habil
__ADS_1
Mila yang mendengar hanya memutar bola matanya malas, memang rencana pernikahan mereka bulan depan, dan Mila tak mau mengadakan pesta besar cukup di hadiri keluarga saja dan kolega terdekat dan Habil pun menyetujuinya.
"kamu mau minta mahar apa sama mas sayang?" tanya Habil yang kembali duduk berhadapan seperti semula setelah Mila menyuapi nya tadi
"apapun, Mila terima jangan berlebihan" balas Mila yang masih membereskan wadah makanan nya,
Habil menggenggam tangan Mila, dengan spontan Mila berhenti dan menatap Habil, terlihat bahwa Habil tengah serius bertanya.
"mas tanya lagi, mas kan tak tahu apa yang kamu mau" ucap Habil serius
"maharkan Mila kesetiaan, itu saja cukup mas" ucap Mila membalas genggaman tangan Habil
"kalau kesetiaan insya Allah, kalau Mila tak mau mahar yang lain mas yang akan siapkan ginana?"
Mila hanya mengangguk, sungguh ia beruntung mendapat calon suami yang seperti Habil, Mila melepaskan genggaman tangan Habil hingga Habil tersadar. Mereka memang tidak berani lebih mengingat Habil sangat menjaga Mila selama ini.
πΉ
πΉ
__ADS_1
πΉ**