Istriku Penyanyi Malam

Istriku Penyanyi Malam
Bab 25 Perasaan tak Menentu


__ADS_3

******


Setelah membersihkan diri Habil merebahkan tubuhnya, ia merasa lelah dan mengantuk.


Ia mengambil jaket yang berada di sampingnya,


ia mengendus aroma parfum yang menenangkan. Harum mawar yang di hisapnya seperti aroma terapi menenangkan jiwanya hingga ia tertidur.


Pagi hari mereka semua kumpul di meja makan seperti biasa, ibu memulai pertanyaan yang sudah penuh di kepalanya.


"Bil twins bilang kamu tidak memakai bajumu semalam , lantas baju siapa yang kamu pakai"


Habil hanya melirik twins dengan datar,


"baju Mila mah"jawab Habil singkat.


Jawaban itu mampu membuat mereka semua menganga tak percaya. Bagaimana tidak di keluarga Habil paling pembersih dari segi apapun dan dia anti memakai barang yang bukan miliknya walaupun kepepet, tapi kali ini dia memakai pakaian orang yang baru ia kenal dab itu membuat mereka tak percaya termasuk sang ayah.


"abang pakai baju kak Mila , tak alergi bang" ucap Hana masih dalam mode terkejutnya


"mana mungkin alergi orang cantik begitu, cuma pria tidak normal yang alergi Na" sambung Hani


Habil hanya diam saja , sebenarnya ia pun berfikir demikian mengapa ia mau memakai barang orang asing.


Pak Sultan dan bu Maryam juga berfikir demikian , perubahan anaknya memang drastis pasalnya Habil memang orang yang sangat pemilih dan sangat pembersih.


Tapi mereka menyadari satu hal , ada kemungkinan sang anak tertarik dengan gadis itu. Bu Maryam pun mulai senyum-senyum sendiri mungkin tak lama lagi misi nya berhasil.

__ADS_1


Mereka sudah selesai makan dan beranjak mengerjakan rutinitasnya. Habil pergi ke kantor sedangkan twins bersantai sambil bersiap-siap karna mereka kuliah siang, sementara ayah dan ibunya duduk di gazebo belakang bersantai dan memberi makan ikan-ikan peliharaannya.


"pah,, mamah nemuin twins dulu ya" ucap bu Maryam kepada suami nya


Bu Maryam duduk bersama twins untuk membahas perihal misi nya.


"apa kalian sudah menghubungi calon kakak ipar kalian" ucap bu Maryam sudah menandai Mila calon menantu nya


"belum mah kami luoa minta nomornya sama abang" jawab Hana


"kalian ini bagaimana mengapa lemot sekali ha ,,," balas bu Maryam geram mengapa anaknya lemot sekali


"lupa mamah , nanti minta kirim abang" jawab Hani


"sekarang jangan nanti-nanti, nanti lupa lagi ayoo,, hubungi abang kalian sekarang juga mamah tunggu" ucao bu Maryam tak sabar


"mamah ada ide apa mah , mamah tahu tidak mah sekertaris dari kolega papah itu sepertinya naksir sama abang mah" ucap Hana antusias


"kamu kata siapa , perasaan mamah kalian kan tidak pernah berkunjung ke kantor" balas bu Maryam


"walaupun kami tidak pernah kesana mah tapi kami punya mata-mata , perempuan itu genit sekali mah, nih video nya kalau mamah tidak percaya" ucap Hani lagi dan memberikan ponselnya


Bu Maryam melihat itu sangat tidak suka dengan perilaku perempuan itu.


"mah jadi mamah ada ide apa mah" tanya Hana lagi penasaran dengan ide sang ibu


"pokoknya ada, yang jelas ini harus berhasil karna mamah akan sedikit repot mengurus nya" ucao bu Maryam , ia sudah menyiapkan ide ini sejak lama tapi ia harus meminta bantuan kepada sang suami.

__ADS_1


*****


Habil yang berada di kantor masih berkutat dengan berkas yang menumpuk, dengan mode serius dan kaca mata yang bertengger di hidung mancung nya menambah kharisma nya.


Marko juga membantu Habil menyelesaikan pekerjaan nya.


"apa ada jadwal di luar ko?" tanya Habil


"hari ini kosong tuan , anda bisa bersantai" jawab Marko


Habil melirik Marko penuh arti,


"apa mungkin dengan berkas yang menggunung di hadapanku ini aku bisa bersantai" balas Habil ketus


Marko hanya diam serba salah juga, mau di bantah memang kenyataan nya kerjaan menumpuk , hanya pertemuan di luar saja yang tidak ada. Marko juga heran mengapa bos besarnya sangat senang mengerjai anak nya dengan menumpuk berkas pekerjaan , alhasil ia juga ikut membantu tuan muda nya itu.


Setelah jam makan siang datang , Habil beristirahat sebentar ia duduk di sofa dan Marko memesan makanan. Habil memang tak suka keluar walaupun jam istirahat , ia memilih makan di ruangan saja dengan Marko yang menemani nya.


"harum mawar" gumam Habil masih mampu didengar Marko


"apaan Bil mawar siapa yang harum mawar" ucap Marko.


Habil memang tak suka Marko memanggilnya dengan formal, terlalu tegang menurut nya apalagi Marko adalah sahabat nya sendiri.


"tidak siapa yang bilang" jawab Habil mengalihkan pembicaraan.


Habil pun bingung dengan perasaannya mengapa ia memikirkan harum jaket itu. Perasaannya tak menentu jika ia mengingat malam hujan bersama gadis itu.

__ADS_1


********


__ADS_2