Istriku Penyanyi Malam

Istriku Penyanyi Malam
103 Seperti Maling


__ADS_3

**πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Matahari kian meninggi, tapi rasa itu tak memperngaruhi aktivitas sepasang suami istri itu yang sedang di mabuk kepayang akan kenikmatan surga dunia. Tak ada kata lelah bahkan rasa lapar seperti tak dihiraukan, labih tepatnya sang suami. Jika Mila sedari tadi sudah tak sanggup membuka mulutnya, seolah Mila di bungkam akan gosip yang berkeliaran di luar sana.


Lain lagi dengan dua wanita paruh baya yang masih setia mondar mandir seperti tak kenal lelah. Bahkan seketika di depan pintu ukir raksasa itu terdapat kursi yang nyaman dan meja tak lupa cemilan dan juga minuman yang para asisten siapkan. Sesekali terdengar umpatan khawatir terlontar dari bibir tipir Maryam, berbeda dengan Laila yang sedikit santai bahkan ia sudah mengajak sahabat sekaligus besannya itu untuk pergi ke ruang tengah.


"bagaimana ini, mengapa Mila belum membuka pintu??" risau Maryam


"lebih baik kita menunggu di ruang tengah lebih santai" balas Laila


"apa kau tidak khawatir, mengapa sesantai itu atau jangan-jangan menantu kesayanganku itu bukan anak mu ya?" ucap Maryam melirik Laila yang mendelik tajam ke arah besannya itu


"hei,,,heii kau wanita tua jaga bicaramu itu" balas Laila ketus


"heiii, aku dan kamu itu hanya selisih bulan jika aku tua maka kau juga, lagian memang kamu dan Mila tidak mirip. Mila lebih cantik sangat malah" jawab Maryam tak kalah ketus


"heiii, besan tak tahu diuntung dia anak ku dan apa kamu tak melihat bibir dan mata karamel nya menurun dari ku" begitulah seterusnya mereka saling melempar tuduhan tak berguna semua itu karna sudah 3 jam lebih mereka menunggu.


...**********...

__ADS_1


Sementara di dalam kamar Habil tengah menyelesaikan mandinya, tapi tidak dengan Mila wanita itu tergolek lemah di atas ranjang megah itu, matanya sembab. Ia tak menyangka apa yang selalu ia dengar dari teman-temannya benar adanya. Dulu ia tak percaya bahwa jika ritual melepas perawan akan sesakit ini, akan tetapi semua terpatahkan hari ini. Bahkan ia seperti anak kecil menangis sesenggukan sampai sang suami menunda beberapa saat.


Habil keluar dengan rambut dan wajah yang sudah segar, ia menatap kearah sang istri yang juga menatap nya tajam. Ia berjalan dan duduk di samping sang istri lalu tanpa rasa bersalah mengecup kening Mila hingga turun ke bibir sexy sang istri.


Mila mendorong dada Habil hingga Habil menaikkan satu alisnya,wajah Mila menyiratkan kekesalan yang luar biasa, bagaimana tidak bagian inti perih, ************ seperti ada yang mengganjal bisa di pastikan jalannya akan aneh.


"jangan marah sayang" ucap Habil seraya membelai pipi Mila


"bisa-bisanya mereka bergosip kamu tidak normal" umpat Mila yang mendapat kekehan Habil


"mau mandi sekarang? Mas akan siapkan airnya" ucap Habil lembut


"banti mas, sekarang mas tolong ambilkan minum dan Mila hanya mengingatkan bahwa Mila belum sarapan dari pagi tadi" balas Mila penuh dengan sindiran


Setelah berganti baju ia segera membuka pintu, alangkah terkejutnya ia melihat sang ibu dan mertuanya sedang beradu mulut entah apa penyebabnya.


"mamah, bunda kok di depan pintu dan ini" sapa Habil sedikit terkejut kala melihat meja dan kursi sudah hampir menutupi pintu kamarnya. Kedua wanita itu lantas menengok dan tanpa aba-aba langsung masuk kedalam kamar tanpa bisa Habil cegah karna mereka spontan masuk dan terburu-buru.


Habil menyadari Mila yang masih belum mengenakan pakaian dan hanya di tutupi selimut tebal. Habil paham ibunya tak kan bisa di cegah ia pun segera turun untuk mengambil sarapan.

__ADS_1


Lain hal yang terjadi di dalam kamar, Mila tercengang kala melihat bundanya dan mertuanya berada di hadapannya. Begitu juga dengan kedua wanita paruh baya itu mereka tercengan melihat kondisi Mila persis korban pelecehan. Bagaimana tidak rambut seperti singa,mata sembab belum lagi lebel dimana-mana. Mila hanya menggelung dirinya dengan selimut.


"are you ok?" tanya Maryam seolah tak melihat semburat merah dipipi sang menantu, Mila hanya menunduk dan mengangguk bagai Maling yang tertangkap basah.


Laila yang menyadari hal itu menepuk keningnya akan pertanyaan sahabat sekaligus besannya itu, dan tak lama ia menggeret Maryam keluar, tahu akan apa yang dirasakan istrinya.


"maafkan bunda dan mertua mu ini sayang kami akan keluar" ucap Laila dengan menggeret Maryam


"heiii, aku bukan mertua aku mamahnya!!" seru Maryam tak terima


"itu sama saja"balas Laila cuek.


Percakapan mereka terdengar Habil yang membawa nampan berisi makanan sehat dan jus. Ketika sampai didepan Habil Maryam berhenti dengan bangga ia menepuk bahu anaknya.


"rawat anak mamah dengan baik, dan jangan terlalu ganas ok" ucap Maryam dengan riang


Laila hanya menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu.


"kami akan pulang" ucap Laila singkat

__ADS_1


Habil hanya mengangguk, ia juga tentu malu akan tetapi ia lebih pandai menetralisir rasa itu lain hal dengan Mila yang saat ini mengurung seluruh tubuhnya di dalam selimut.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•**


__ADS_2