
**
**Sarapan pagi itu tanpa Mila, ia masih malu dengan kelakuannya tadi yang menyelonong masuk dengan keadaan kedua pria itu masih bertelanjang badan.
Leo dan Habil sangat akrab, Leo sangat senang karna lawan bicara nya membuat ia semangat akan motivasinya lain dengan twins yang hanya membanggakan abangnya saja dan merayu agar Mila menjadi kakak iparnya pada Leo.
"bun, acara malam ini apa siap?" tanya Habil dengan nada datar karna memang itu sifatnya
"ya, tentu saja bunda butuh bantuanmu, tolong dampingi Mila bunda tak kan sanggup menenangkannya"
"hemm,," balas Habil singkat lalu ia meminum teh buatan Leo
Hari ini Habil sangat santai karna ia sudah mengerjakan urusan kantor dari jauh-jauh hari malam ini ia akan berada di samping Mila full karna ayahnya akan menemuinya, hanya Mila yang belum mengetahui itu.
*
Sedangkan di dalam kamar seorang gadis itu merutuki sikapnya tadi ia luoa bahwa semalam Habil lah yang menenangkan saat lampu padam karna ada perbaikan.
"mengapa aku bisa lupa ada mas Habil disini,, mas huhhh rasanya kurang pas jika kupanggil mas" gumam Mila
__ADS_1
Mila yang masih saja mengoceh tak jelas terkejut ketika ponselnya berbunyi di samping telinganya terlihat bu Maryam yang menelpon.
"halo mah"
"halo sayang, mamah mau tanya apa kamu sudah ada gaun untuk malam ini, kalau belum mamah sekarang masih di butik ni kamu susul kesini dong, bagaimana?" tanya Maryam ia tak tahu bahwa Mila sudah mendapatkan gaun dari anaknya sendiri
"maaf ya mah, tapi Mila sudah ada mas Habil yang lasih" ucap Mila sopan
"oo,, begitu ya , manah tak tahu hiss,, anak itu apa dia tahu seleramu La kalau kamu tak suka kemari saja"
"suka kok mah, pakai yang ini saja tak apa kan mah?"
"ya mah"
"ya sudah mamah tutup telpon nya ya daaa sayang" ucap Maryam bersemangat ia tak menyangka Habil sudah memilihkan gaun untuk Mila tapi ia penasaran apa anaknya tahu model pakaian wanita.
**
Habil sudah kembali ia singgah di penthouse miliknya, lantai tertinggi gedung milik Dewanto group, sesekali ia singgah jika tak memungkinkan untuk pulang ke rumah utama karna jarak nya tak jauh dengam kantornya dan kantor ayahnya.
__ADS_1
Panggilan dari marko menyadarkan Habil yang sedang duduk bersandar di sofa seraya menghisap sebatang rokok miliknya.
"ada apa?" tanya Habil to the point
"Maria datang lagi"
"tak ada pekerjaan yang melibatkan dia hari ini"
"baiklah" Marko mengerti akan bahasa tuannya yang berarti tak mau di ganggu dalam arti kasar 'usir saja dia'.
"mungkin akan menjadi akhir masa lajang ku" gumam Habil yang masih menyesap rokok dengan pandangan lurus, ia duduk di balkon dengan begini ia merasa fresh dan segar tanpa ada yang mengganggu.
Sedangkan Mila yang sedang mengotak-atik ponselnya ia bingung karna tak tega meninggalkan ponsel lama nya, bukan meninggalkan tepatnya mengistirahatkan sekejap, tak lama lagi ia harus bersiap karna ia akan berdandan dan menyiapkan segalanya hari ini entah mengapa ia ingin tampil beda dan hati nya selalu bergetar kala mengingat malam ini ia akan menemani Habil, bukankan itu sangat romantis**………
*
*
*
__ADS_1