
**πππππ
Tak ada percakapan yang terdengar di dalam mobil hitam itu selain keheningan yang menyergap dan menguasai baja itu. Seolah bibir seksi nan indah itu terkunci, bayangan sang suami di permalukan tanpa sengaja memutar di kepelanya, Habil pun tak membuka suaranya entah mimpi apa dia semalam hingga terjadi hal memalukan seperti ini.
Akan tetapi Habil bukan tipe pria emosian dan labil, Habil memang sangat penyabar dan bijak terlebih lagi memang apa yang di bicarakan ibunya ada benarnya kecuali gosip gay yang dindengarnya barusan.
Tak terasa sampai lah di mansion hangat milik mereka, Habil memarkirkan mobilnya dan bergegas membukakan pintu untuk Mila. Habil menggenggam tangan lentik Mila dan membawanya masuk, Habil melangkah tanpa melihat Mila. Mila pun hanya menunduk rak tahu apa yang akan terjadi nanti, bayangan Mila Habil akan berteriak dan memarahinya. Mila berpikir ini akan menjadi pertengkaran pertama setelah satu bulan tinggal satu atap.
Habil membuka pintu kamar mereka dan melepaskan cekalan tangannya, ia melepas jas dan dasi yang seolah mencekik lehernya. Habil duduk di sofa dan meraih air mineral umyang ada di meja itu, sedangkan Mila jangan di tanya bergerak pun tidak dari tempat pertama yang ia pijak.
Habil meneguk habis gelas yang cukup besar tersebut, lalu ia mendongak.
"bisa di jelaskan" ucap Habil lembut, tapi terdengar seperti penekanan di telinga Mila
"maaf" lirih Mila singkat
__ADS_1
"mas tidak nggak marah kok, cuma mau tahu saja jadi bisa jelaskan" tegas Habil yang paham sang istri sedang ketakutan
Mila menghela napas sebelum bercerita, sungguh memalukan batin Mila
"jadi tadi setelah mas pergi Mila menerima chat dari mbak Retno, dan juga dia berkata agar Mila menontonnya"
Habil menaikkan alis nya tontonan, apa yang di tonton hingga menjadi seheboh ini pikir Habil.
"Mila klik linknya dan Mila lihat melalui laptop, ternyata itu film,,, emmm,, filmmm itu massβ¦β¦
"film dewasa mas,, dan waktu Mila lihat ada adegan yang menjijikan dan Mila muntah-muntah karna mual mas. Kebetulan bel berbunyi dan Mila membuka pintu ternyata bunda dan mama, Mila masih mual dan tetus muntah mas setelah itu Mila di paksa untuk ikut ke rumah sakit danβ¦β¦
"sudah" potong Habil dia sudah tahu bagaimana kelanjutannya tanpa Mila beru tahu.
"sini" ucap Habil menepuk sofa di sampingnya.
__ADS_1
Mila pun menurut dan duduk di sisi Habil.
"maafkan Mila mas" lirih Mila bahkan masker dan kacamata hitamnya pun masih seperti di mobil tadi. Habil melepaskan kacamata dan masker Mila, di kecupnya kening sang istri.
Harum mawar di tubuh Mila menenangkan Habil, belum lagi aroma ruangan ini sangat kental dengan mawar.
"tak apa, istriku ini tidak salah mama memang seperti itu, tapi apa kamu tahu alasan mas masih belum menyentuhmu?" ucap Habil, Mila hanya menunduk malu akan pertanyaan Habil.
"mas tahu kamu memiliki trauma dengan laki-laki, sebab karna itu mas belum menyentuhmu kita sembuhkan dulu trauma mu sayang, mas nggak mau terjadi sesuatu sama kamu, mas memang belum sempat ajak kamu ke psikolog karna mas sangat sibuk" ucap Habil panjang lebar, sedangkan Mila tercengang dengan alasan Habil.
"mas tahu dari mana aku ada trauma?" tanya Mila heran
"dari bunda dan Leo, jadi mas tidak mau memaksakan kehendak mas, sekarang mas tanya separah apa trauma kamu?" tanya Habil
Mila mendengus mendengar ucapan Habil barusan, bunda dan adiknya memang berlebihan dan terkesan membesar-besarkan masalah.
__ADS_1
ππππππ**