
**
**Hari berganti seakan tak terasa begitupun hari-hari yang Mila lalui kedekatannya dengan anak sulung konglomerat itu pun semakin dekat, terkadang Habil menyempatkan untuk menjemput Mila di kafe.
Sedangkan Mila layaknya wanita pada umumnya meskipun sudah dewasa ia tetap berpikir bahwa Habil hanya menganggap nya saudara saja, tak hayal terkadang ia mengaharapkan lebih akan tetapi Habil tak pernah bebicara yang menjerumus ke arah sana.
Seperti malam ini Habil menyempatkan untuk menjemput Mila di kafe, bagaimana perasaan Habil entahlah terkadang seorang pria hanya mengikuti naluri rasa nyaman saja sedangkan untuk mengungkapkan masih ada perasaan sungkan dan takut kala takdir tak berpihak.
"sudah lama mas?" tanya Mila berdiri di hadapan Habil yang bersandar di samping kendaraannya
"belum, ayo masuk ini sudah larut"
Habil membukakan pintu Mila segera masuk, Habil melajukan mobil itu meninggalkan area parkir
"ini mas belikan untuk keperluan besok malam"
ucap Habil memberikan tiga paper bag kepada Mila
"apa ini mas?" tanya Mila sungkan karna selalu mendapat perhatian ia takut hati yang ia bentengi terbuka perlahan
__ADS_1
"itu gaun,
"tapi mas ini……
"aku tak menerima penolakan" pungkas Habil
Lama Mila termenung wanita mana yang tidak baper jika menghadapi situasi seperti ini, wajah Habil yang tampan dengan rahang tegas tak lupa segudang perhatian Mila takut terjatuh terlalu dalam.
"pasti mamah yang pilihkan ya mas?" ucap Mila lirih
"ini pilihan mas, besok malam di pakai mas akan jemput jam 8 malam" jawab Habil
"mas mau mampir dulu?" tanya Mila
"boleh" Habil melangkah mengikuti Mila ia juga membawakan paper bag Mila
Sampai di lift mereka masuk, didalam lift itu hanya ada mereka berdua saja tanpa perbincangan hanya hening yang menemani mereka, ruangan bunda Mila memang berada di lantai lumayan tinggi.
Tak berselang lama tiba-tiba lift itu berhenti dan plap………
__ADS_1
"aaaaaa!!!" Mila histeris ketika lampu itu padam
Hal yang paling mengerikan bagi Mila adalah kegelapan, ia masih bisa tenang jika masih ada remangan cahaya walaupun hanya sesidikit, tetapi jika gelap total napas Mila seolah berhenti dan pengaplah yang menyelimuti.
Habil mendekekap Mila terasa tubuh Mila bergetar hebat keringat meluncur dari kening Mila yang tampak shok, satu hal yang dapat Habil tangkap Mila phobia kegelapan tapi ini sangat parah melihat Mila meremas kemeja Habil dengan sangat kuat.
"heii,, tenanglah ada aku disini jangan khawatir okey ini tak akan lama" ucap Habil menenangkan akan tetapi tak ada pengaruh pada Mila yang masih dalam ketakutan
Tak lama kemudian lampu dan lift itu berjalan lagi hanya sekitar 1 menit tapi Mila sudah separah ini.
Ketika penerangan itu kembali seperti semula Habil terkejut melihat wajah Mila yang sudah pucat keringat sudah membasahi wajahnya tangan nya bergetar, seolah tubuh itu tak mampu lagi untuk berdiri.
"Mila kau tak apa?" tanya Habil khawatir yang melihat Mila terdiam dengan peluh yang mengalir, belum sempat Mila menjawab lift itu terbuka terlihatlah lantai dimana ruangan Mila berada.
"ayo apa kamu masih sanggup berjalan?" tanya Habil yang melihat Mila diam saja
Mila hanya mengangguk, entah mengapa ia tak bisa mengendalikan rasa takut yang teramat sangat pada kegelapan itu** ……
*
__ADS_1
*