
****
**Dikediaman bu Maryam semua berkumpul untuk makan malam, hanya tinggal menunggu Habil yang belum hadir.
"abang mana sih mah ,, aku sudah lapar mah ,, boleh duluan gak," Hana merengek kepada ibu nya.
"sabar lah sebentar mungkin abang masih memakai baju, kenapa tak setia sekali sama abang mu" balas bu Maryam
Tak berselang lama Habil datang dengan tubuh yang segar dan rambut yang sedikit basah. Melihat anak lelaki nya yang duduk berhadapan dengan nya, bu Maryam pun memandang dengan tatapan berbinar , ada maksud terselubung mungkin????
Mereka makan dengan tenang , twins pun melahap makanan itu dengan semangat apalagi ada paha ayam goreng kesukaan nya. Sedangkan Habil lebih menyukai sayuran.
Setelah selesai makan mereka berkumpul di ruang tengah ,bersantai dan berbincang menunggu kantuk menyerang.
"Bil kamu sudah menghubungi Mila belum, takut nya belum makan kan dia masih harus minum obat?" tanya bu Maryam hati-hati takut ketahuan ada maksud tertentu.
"belum mah" jawab Habil singkat
"idiiiihhh abang ini cemen sekali , wajah saja tampan tapi mental tak ada" seloroh Hani seakan tak takut tanggapan abang nya yang mendengar nya.
Hana menyenggol tangan Hani yang lancang menyambar pembicaraan abang dan ibu nya.
Mendengar adik nya yang lancang , Habil menatap tajam twins yang asal bicara.
"hubungi dia Bil mamah mau dengar apa dia sehat" ucap bu Maryam tak perduli dengan perang dingin anak nya.
"ini nomor nya mah , mamah saja yang menghubungi nya" tegas Habil
"mana bisa begitu, kamu ini di suruh mamah malah balik nyuruh memang mamah ini apa ha!!" ketus bu Maryam memulai akting nya.
Habil tak menjawab ia langsung menghubungi nomor Mila.
Lama tak berdering tak kunjung dapat jawaban.
"tak diangkat mah , sudah lah besok lagi" ucap Habil malas
"lagi ,,,,siapa tahu lagi repot" kekeh bu Maryam
Habil pun kembali menghubungi Mila untuk yang ketiga kali nya, dan ya,,,, diangkat juga.
"assalamualaikum mas,,,," jawab Mila di seberang sana
"walaikumsalam , mamah ingin bicara padamu" jawab Habil singkat
__ADS_1
Habil langsung memberikan ponsel nya kepada bu Maryam yang sangat antusias ingin berbicara pada Mila.
"assalamualaikum Mila" ucap bu Maryam
"waalaikumsalam bu, bagaimana kabar nya bu?" tanya Mila
"jangan panggil ibu dong mamah saja sama seperti twins Mila" jawab bu Maryam dengan santai nya
"ah,,,, ii,,iya bu ,, maksud ku mah" jawab Mila kikuk
"nah begitu kan akrab,, Mila sehat ?sudah makan belum?" tanya bu Maryam
"Mila sehat gimana mamah dan keluarga???" tanya Mila kembali
"sehat Mila sangat sehat, apa Mila tak pusing atau merasa lemah??" tanya bu Maryam khawatir
"alhamdulillah tidak mah Mila sudah bekerja kembali kok , sudah sehat terima kasih mamah sudah perhatian" ucap Mila
"ya iyalah kamu kan calon menantu ku"batin bu Maryam seolah sudah mgenghakk patenkan Mila.
"kapan-kapan Mila kesini ya main kerumah kan ada twins kita bisa berbincang kan" ucap bu Maryam penuh harap
"insya Allah mah kalau senggang Mila akan berkunjung" jawab Mila sopan
"ya sudah kalau begitu bekerja lah assalamualaikum" Habil berbicara dan hendak memutuskan sambungan telepon itu
"baiklah terima kasih wassalamualaikum" balas Mila singkat , ia pun canggung mau berbicara apa pada Habil.
Habil memutuskan sambungan telepon itu.
"kamu ini gimana sih Bil seharus nya di tanya sudah makan belum, sudah minum obat belum disuruh ngomong kok malah dipatiin kamu ini di bilang bodoh tapi pintar , dibilang pintar tapi bodoh huh,,, gimana sih pah anak kamu ini" ucap bu Maryam mengomel pada anak nya
"tadi kan Habil sudang dengar mah , mamah kan tadi sudah bertanya kenapa mamah mempermasalahkan ini" ucap Habil lembut
"dengar pah anak mu itu malah membantah mamah" ketus bu Maryam
Ayah Habil hanya menonton drama yang di buat sang istri, sedangkan Habil meninggalkan ruangan itu tak mau berdebat dengan ibu nya , ujung-ujung nya nanti keluar ancamam kutukan-kutukan dari ibu nya.
Ibu dan ayah Habil masuk kedalam kamar mereka dan menutup pintu rapat-rapat.
"gimana pah bagus kan akting ku" ucap bu Maryam menyombongkan diri nya
"bagus mah ,, sangat bagus tapi mamah harus ingat jangan terlalu memaksakan takut nya ada salah satu dari mereka yang tersakiti"
__ADS_1
"iya pah , papah tenang saja mamah gak akan egois kok , mamah akan menghubungi orang suruhan mamah , kemaren lupa" ucap bu Maryam
"haduhhh mah gimana belum punya cucu sudah pikun" jawab ayah Habil
"papah kok gitu sihhh kan cuma lupa , mamah ini masih kuat pah ,papah jangan asal bicara ya!!!" seru bu Maryam tak terima
Inilah sejati nya wanita ayah Habil hanya menggeleng-gelengkan kepala nya , apa yang di bicarakan menjalar kemana-mana pada akhir nya para lelaki lah yang meminta maaf.
"jangan marah dong mah ,papah kan hanya bercanda nanti keriput loh mah" balas ayah Habil mencolek hidung lancip istri nya.
"kan papah yang mulai" ketus bu Maryam menyilangkan lengan nya dan memunggungi suami nya.
Ayah Habil tak kehabisan ide agar sang istri tak marah lagi ,
"mah kan mau nelpon jadi gak papah nungguin nih kan mau dengar juga" ucap ayah Habil lembut merayu sang istri.
"oh iya ,,, mamah hampir lupa lagi , gara-gara papah ini" jawab bu Maryam.
Bu Maryam mengambil ponsel nya di atas nakas dan segera menghubungi orang kepercayaan nya. Sekilas orang yang melihat bu Maryam tak akan percaya jika wanita anggun ini memiliki sikap bar-bar akut, semua itu tertutup karna penampilan nya yang berhijab dan anggun.
"aku mau kau mencari tahu informasi secara detail tentang gadis bernama Mila yang bekerja di kafe XX segera" ucap bu Maryam tegas.
"baik nyonya beri saya waktu 24 jam saya akan pastikan informasi ini secepat nya" ucap seseorang di seberang sana.
"baiklah ku tunggu kabar mu aku tak menerima kegagalan dan keterlambatan ku hitung dari sekarang" tegas bu Maryam yang mengangkat dan melihat jam tangan yang melingkar di tangan sang suami.
Bu Maryam mematikan sambungan itu ,, sang suami masih setia memandangi dengan penuh kagum. Memang istrinya sangat istimewa di balik sikap bar-bar yang dimiliki istrinya masih banyak nilai plus nya dimata sang suami , apalagi kesetiaan dan kepercayaan sang istri yang tak pernah luntur selama ini.
"kenapa melihat mamah seperti itu pah" tanya bu Maryam
"tak apa hanya rindu" jawab pak Sultan singkat.
"sama siapa" selidik bu Maryam menyipitkan mata nya tajam
"sama mamah lah,," ucap pak Sulatan memeluk dan menuntun sang istri ke atas king size nya.
"kenapa kamu jadi pandai merayu pah" jawab bu Maryam geli dengan sikap sang suami yang sedang manja
"kan sama mamah saja merayu nya" ucap pak Sulatan lalu mencium kening istri nya lama.
Mereka berharap bisa mendekatkan sang anak dengan gadis itu agar membuka hati Habil. Mereka takut kalau anak nya menjadi perjaka tua**.
*******
__ADS_1