
Sesampainya di rumah kontrakan Vira, Firlan tak dapat masuk karena gerbang yang dikunci. Dia tak mungkin melompati pagar itu dengan setelan jas seperti ini. Selain takut kalau dikira maling di siang bolong, ia juga takut celananya kecangkol saat dia panjat pagar berwarna hitam itu.
"Masa iya dia nggak keluar dari pagi?" gumam Firlan.
"Nyari siapa, Mas?" tanya seorang wanita paruh baya yang kebetulan akan pergi dengan sepeda motornya.
"Perempuan yang mengontrak rumah ini, Bu..." kata Firlan.
"Oh, mbak Vira? tadi pagi kayaknya berangkat kerja tuh! mungkin belum pulang,"
"Oh, begitu ya? kalau begitu saya ke tempat kerjanya saja. Permisi..." kata Firlan sopan.
Firlan pun kembali masul ke dalam mobilnya.
"Masih sakit malah berangkat kerja. Keras kepala banget nih bocah satu!" kata Firlan seraya menyalakan mesin mobilnya.
Sementara di sebuah ruko.
"Akhirnya selesai juga," kata Vira yang kini membereskan satu persatu gulung benang dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak yang bertuliskan nama seorang muridnya.
Vira berjalan menuju loker dan memasukkan kotak itu sesuai nama anak mempunyai kotak itu.
Ia menurunkan maskernya, wanita itu meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal.
"Masih ada waktu untuk makan siang sebelum jadwal selanjutnya," kata Vira ketika melihat jam di dinding.
Namun ketika Vira akan mengambil tasnya. Ada suara ketukan dari luar sebelum pintu terbuka perlahan. Vira memasang kembali maskernya dan menoleh ke arah pintu.
"Firlan?" cicit Vira yang sudah mencangkolkan tasnya berniat pergi mencari makanan.
"Kenapa berangkat kerja? kamu kan lagi sakit," kata pria itu dengan satu tangannya yang membawa makanan.
"Kenapa kesini?" tanya Vira malas saat prianitu sudah melepas alas kakinya dan berjalan mendekat.
"Bawain kamu makanan," ucap Firlan santai.
"Bawain aja buat yang lagi di rumah sakit," sindir Vira.
"Dia kan udah ada yang ngurus. Banyak perawat disana, kalau kamu kan nggak ada..."
Vira kembali duduk bersila di lantai parket yang sudah dilapisi pazzle yang empuk dan aman untuk anak-anak.
"Bukannya kantor kamu jauh dari sini," ucap Vira dingin.
"Nggak juga, kan aku ngebut..." jawab Firlan seraya meletakkan apa yang dibawanya.
Firlan segera menuju wastafel yang ada di ruangan itu. Dia menggeser tangga injakan yang di peruntukkan untuk anak-anak. Melihat itu Vira hanya menggelengkan kepalanya, saat Firlan mencuci tangannya di wastafel yabg berbentuk kotak dan terdapat cermin berbentuk lingkaran itu.
Firlan kembali menuju tempat Vira duduk.
__ADS_1
"Kamu balik lagi aja ke kantor, karena aku udah janjian sama temen," Vira beralasan.
"Cancel aja! bilang kamu lagi ada tamu dadakan," ucap Firlan mulai ngatur.
"Tamu tak diundang," sindir Vira.
Pria itu meletakkan papper box berisi crispy dan spicy chicken diatas meja kecil yang ada di hadapannya.
Pria itu juga mengeluarkan burger, kentang goreng beserta air mineral.
"Aku tahu kamu makannya banyak, jadi aku beli banyak kayak gini," ujar Firlan seakan membaca raut wajah Vira yang mrlihat makanan yang ada di hadapannya.
"Hemmm..." Vira hanya berdehem.
Firlan menodong Vira dengan burger yang sudah ia buka sedikit.
"Makanlah," kata Firlan kaku. Padahal sewaktu pacaran mereka sering melakukan ini, tapi entahlah sekarang semuanya menjadi serba canggung apalagi setahun belakangan ini. Seakan Vira membuat dinding pembatas yang sangat kentara antara dirinya dan Firlan.
"Aku bisa sendiri," kata Vira yang mengambil makanan yang ada di tangan Firlan. Ia pun memasukkan satu gigitan beef burger ke dalam mulutnya. Pria itu kini membukakan botol air untuk Vira.
"Makasih," kata Vira yang menerima botol air mineral kecil, kemudian meneguknya sedikit. Lalu ia menaruh botol itu kembali. Vira melihat Firlan sedang menikmati ayam paha bawah super crispy dengan lelehan saos di atasnya. Firlan dengan seenaknya menyambar air minum milik wanita itu.
"Jangan!" Vira merebut kembali minuman miliknya.
"Aku lagi sakit. Nanti kalau ketularan aku lagi yang disalahin," kata Vira yang mengambil air minumbyang lain yang masih utuh laku menyodorkannya pada Firlan.
"Kamu suka sayap atau..." Firlan melihat isi papper box yang berbentuk kotak sedikit melengkung itu.
"Aku sudah," jawab Vira.
"Mana mungkin sudah kenyang dengan satu burger ukuran segitu. Makanlah lagi," kata Firlan yang menjejalkan satu paha bawah dengan rasa sedikit pedas ke dalam mulut Vira. Mau tak mau Vira memakan makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulutnya
Ketika Firlan sedang menikmati ayam keduanya, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Firlan yang kedua tangannya berminyak pun meminta Firlan untuk mengambilkan ponsel yang ada di saku jas bagian dalamnya dengan satu tangan yang masih bersih.
"Tolong," kata Firlan
"Ambil sendiri," kata Vira. Ponsel itu masih berdering.
"Tanganku kotor," jawab Firlan.
"Tinggal cuci tangan, tuh ada wastafel..." tunjuk Vira dengan dagunya.
"Tolong, Vira!"
"Astaga, makhluk ini sungguh menyusahkan!" gumam Vira kesal. Vira bergerak ke wastafel dan mencuci tangannya terlebih dahulu.
"Apa dia bilang? makhluk? astaga bener-bener ya," gumam Firlan dalam batinnya.
Vira duduk di samping Firlan dan mengambil sebuah ponsel yang ada di dalam saku jas sebelah kiri.
__ADS_1
"Bukan disitu, Ay!" Firlan keceplosan memanggil Vira dengan sebutan yang dulu pernah mereka gunakan, Ayank.
"Sengaja banget nih mesti," lirih Vira kesal setelah mendapatkan apa yang dicarinya.
"Tolong terima panggilan itu, dan tempelkan ke telingaku," jawab Firlan modus.
Vira yang akan mengusap benda berbentuk pipih itu namun ia tertegun dengan nama yang menelepon pria yang ada di sampingnya.
Vira tak banyak bicara ia hanya melakukan apa yang diminta, Firlan.
"Halo," sapa Firlan.
"Halo, pak Firlan..." ucap seorang wanita.
"Ehm," Firlan pun terkejut dengan suara yang menyapa telinganya. Ia kira itu adalah panggilan dari Satya.
"Ya, ada apa?" Firlan menggigit bibirnya, benar-benar suatu kesalahan mengangkat panggilan itu saat ini.
"Kata dokter, aku harus disini sampai besok. Tapi..."
"Tapi apa?" Firlan memejamkan matanya, dadanya bergemuruh ia takut Vira akan lebih menjauh lagi dari dirinya.
"Tapi, aku tidak punya baju ganti. Bisa kah..."
"Kau telfonlah temanmu untuk mengambilkan itu. Karena saat ini aku ada pertemuan penting," jawab Firlan.
"Hem, begitu ya? ya sudah, maaf sudah mengganggu..." kata wanita itu.
Vira sudah tahu kalau Alia lah yang menelepon Firlan. Namun ia bersikap biasa saja dan seolah tidak mendengar percakapan kedua orang itu.
Panggilan pun terputus. Firlan menjauhkan telinganya dari benda yang ditempelkan Vira.
"Sudah," kata Firlan. Vira pun menurunkan tangannya dan meletakkan ponsel Firlan di atas meja.
Vira kembali ke tempatnya dan tidak memperdulikan sepasang mata Firlan yang memandangnya intens.
"Kamu nggak pergi?" tanya Vira tiba-tiba.
"Aku sedang makan siang bersamamu," ucap Firlan santai.
"Oh," Vira menanggapi singkat.
"Aku harus bekerja kembali," kata Vira yang setengah mengusir pria itu.
"Benarkah? tapi jam makan siangku masih 15 menit lagi," ucap Firlan yang tak mau meninggalkan tempat itu. Ia masih menikmati ayam yang ada di tangannya.
"Astaga, sangat menyebalkan!" gumam Vira dalam batinnya.
...----------------...
__ADS_1