
"Jangan galak-galak, Lan..." kata Andini.
"Sudahlah, aku mau pergi..." Firlan berdiri namun lengannya dicekal wanita yang pernah menjadi kekasihnya.
"Kenapa sih, Lan? dulu kamu nggak gini loh..."
"Kita udah selesai dan aku udah punya calon istri jadi tolong singkirkan tanganmu itu!" Firlan menepis tangan Andini.
"Nggak, nggak boleh Lan..." Andini malah memeluk Firlan, pria itu dengan kasar melepaskan dirinya dari wanita itu.
"Aaahhh!" Andini memekik kesakitan saat tangan kekar Firlan memgang kedua lengannya dengan sangat keras.
"Aku sudah bilang jauhkan tanganmu itu!" Firlan melepaskan Andini begitu saja.
"Sejak kapan kamu sangat kasar dengan wanita, Lan?" Andini memegang salah satu lengannya dengan satu tangan.
"Kita sudah tidak ada urusan, jadi lebih baik berhenti mengikutiku!" Firlan menatap wanuta di hadapannya dengan sorot mata yang tajam.
"Nggak bisa. Karena aku pengen balik lagi sama kamu, aku tau aku salah. Dan aku..."
Firlan tak menggubris omongan Andini, dia meninggalkan wanita itu begitu saja.
"Kenapa bisa aku bertemu lagi dengan wanita itu! sialan!" umpat Firlan.
"Firlan! Firlaaaaan...! aaarrrrghhhh, sial!" Andini memanggil Firlan namun pria itu tetap saja berjalan cepat dan tak menoleh sedikitpun.
"Sialan kau Firlan! padahal sepanjang hari ini aku sudah mengikutimu!" ucap Andini.
"Aaargghhh," wanita itu memekik kesakitan dan memegangi perutnya.
"Apa yang harus aku lakukan? kenapa aku begitu bodoh? hiks..." Andini terduduk sambil menyesali kesalahannya dulu. Seandainya dia masih bersama Firlan, tentu mereka mungkin sudah menikah dan bahagia.
.
.
.
Sedangkan Firlan kembali ke hotel. Dia melepaskan jasnya dan melemparkannya asal.
"Astaga, kenapa dia mengikutiku seperti seorang penguntit!" kata Firlan, dia memijit pelipisnya.
Pria itu tak habis pikir dengan Andini yang bisa-bisanya muncul malam ini di hadapannya dan membuat moodnya hancur seketika.
"Lagian bos ngapain nyuruh aku buat liatin peternakan lebah, ya ampuuuuun! kalau ngasih kerjaan suka aneh-aneh banget ya Allah itu bos laknaat. Nggak bisa banget liat asistennya nyantai bentar," keluh Firlan.
Ia membuka dasinya dan membuka beberapa kancing bajunya. Pria itu kini melenggang ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.
Firlan menyalakan air hangat, ia membasahi rambutnya dan rintik air dari shower seperti memberikan pijatan tersendiri. Rasanya begitu menenangkan, paling tidak otot-otot tubuhnya yang begitu tegang kini mulai bisa rileks kembali.
Setelah menikmati air hangat di malam hari, Firlan segera menyudahi mandinya. Ia menggosok kepalanya dengan handuk dan mengeringkan rambutnya terlebih dahulu dengan mesin pengering rambut.
"Kepalaku bisa sakit kalau tidur dengan rambut yang basah!" Firlan mengacak-acak rambutnya yang kini masih setengah kering.
.
.
.
__ADS_1
Malam itu Vira tidur tanpa peduli Firlan berada di mana. Entah mengapa dia begitu kecewa saat pria itu tidak menepati janjinya tanpa memberi kabar sebelumnya.
Namun pagi harinya, Vira merasa ingin sekali mendengar suara pria yang menyebalkan yang membuatnya menunggu tanpa kepastian.
"Harusnya kan aku sebel, kenapa malah pagi-pagi kayak gini pengen nelfon tuh orang!" Vira menggerutu sendiri. Sejak subuh tadi dia tak bisa memejamkan matanya kembali.
Wanita itu memandangi layar ponselnya, beberapa kali ia menekan kontak kekasihnya. Namun berulang kalu juga ia mengurungkan niat itu.
"Nelfon nggak ya?" Vira menimbang-nimbang apa yang akan ia lakukan, baru saja ia akan menekan tombol dial. Kontak 'Ayang Embe' tiba-tiba saja memanggil.
"Halo," refleks Vira menjawab panggilan itu.
"Halo, ehm cepet amat jawabnya? atau jangan-jangan emang sengaja nungguin telfon dari aku, ya?" tanya Firlan.
"Dih, pede! nggak, ya! nggak sama sekali, aku cuma..."
"Cuma apa?"
"Aku cuma tadi mau nelfon Fidya, eh ada orang nyebelin yang nelfon. Ini juga karena nggak sengaja kepencet aja, kamu tuh harusnya bersyukur aku nggak sengaja angkat tadi!" jelas Vira.
"Masa sih? tapi kok aku nggak percaya ya?" ucap Firlan.
"Terserah!"
"Dih, ngambek..."
"Bodo!"
"Jangan gitu, akh! iya aku salah, kemarin aku nggak sempat ngabarin. Soalnya, kemarin itu banyak kerjaan yang diluar kendaliku, aku harus kesana kari dan berakhir disini, ngecekin peternakan lebah punya tuan Satya..." ucap Firlan.
"Kamu nggak pengen tau aku disuruh ngapain?" tanya Firlan.
"Nggak!"
"Hari ini aku disuruh ngambil sarang madu langsung dari peternakannya, gila nggak tuh?"
"Kok bisa?" akhirnya Vira penasaran juga.
"Ini karena nyonya Amartha yang katanya lagi pengen banget makan sarang madu, tapi suaminya itu pengen memastikan sarang madu yang dimakan istrinya nanti benar-benar terjamin kualitasnya..."
"Sambil aku disuruh memantau perkembangan nih peternakan, karena rencananya dia mau impor lebah lagi. Bosku itu bener-bener nggak bisa liat orang nyantai dikit!" lanjut Firlan yang terkesan curhat.
"Ya itu resiko kerjaan, dari dulu bukannya kayak gitu? kenapa sekarang ngeluh?" sindir Vira.
"Dulu kan belum punya kamu, kalau sekarang kan ada wanita yang bakal kesepian kalau aku sering tinggal-tinggal..." jawab Firlan, wajah Vira bersemu mendengarnya.
"Nggak juga!" kata Vira, sambil mengibas-ngibaskan tangannya di dekat wajah.
"Ya sudah kalau emang ternyata nggak, aku bisa tenang kerja disini selama beberapa hari ke depan!"
"Memangnya mau berapa hari?" tanya Vira.
"Ya tergantung,"
"Oh ya terserah kan emang itu kerjaan kamu!" Vira sewot.
"Hahahaha,"
"Dih ketawa, nggak lucu woy!" Vira kesal mendengar suara tawa Firlan.
__ADS_1
"Habisnya ada yang bilang nggak peduli padahal dalam hati ... hahahaha," Firlan tertawa lagi.
"Heh, pagi-pagi ketawa kayak gitu kayak irang kesurupan tau, nggak?"
"Ya ya ya! hari ini aku pulang kok, tapi setelah urusanku disini selesai tentunya. Kamu jangan lupa makan dan istirahat yang cukup, nggak usah ngajar, tutup aja dulu tempat lesnya!" perintah calon suami.
"Aku udah kelamaan tutup! udah ah, aku juga udah sehat kok..." kata Vira.
"Ya udah terserah kamu aja, yang penting jangan kecapean aja! ya udah, aku mau mandi..."
"Hemm, selamat bertugas!" Vira mematikan sambungan telepon itu.
Vira kini berjlaan ke arah dapur dengan suasana hati yang lebih baik daripada sebelumnya. Matahari sudah mulai terlihat, kini saatnya dia menyiapkan diri untuk mulai beraktivitas lagi.
"Hari ini banyak yang harus aku lakuin, termasuk nyari tempat kursus masak..." ucap Vira seraya. menyalakan kompor dan menaruh teko yang berisi air di atasnya.
"Nggak mungkin aku nyuguhin mie seduh kayak gini tiap hari buat Firlan, dan nggak mungkin setiap hari mau order makanan dari luar..." Vira bicara sendiri sambil membuka seal pada mie instant seduh berbentuk cup.
Air sudah matang, ia tuangkan ke dalam cup yang berisi mie yang sudah di beri bumbu. Bau wangi mie instant menyeruak ke seantero ruangan.
Sambil menunggu mie nya matang, Vira mengambil puding dan cake yang dia simpan fi dalam lemari pendingin, dia juga mengambil air dingin dari dalam sana.
"Hari pertama bekerja setelah sekian lama libur, jadi aku harus punya tenaga extra..." ucap Vira sembari mengaduk mie dan mulai menyantapnya perlahan.
Sedangkan di tempat lain, Zanna sudah sampai di tempat les. Dia datang terlalu pagi sebenarnya, dia memandangi amplop berwarna putih yang ada di tangannya. Dia sudah menyiapka segala sesuatunya untuk mengajar hari ini.
"Bagaimana aku menghadapinya? apa dia masih mau melihatku disini atau..." Zanna mulai berandai-andai. Dia melihat sekitar ruangan, ia ingat pertama kali ia datang ke tempat inj.
Wanita itu menghela nafasnya, ia menyandarkan punggungnya ke sofa. Hari ini dia menguncir rambutnya yang sebahu itu.
Dan ketika Zanna sedang duduk sambil memejamkan matanya, dia mendengar seseorang datang dan menarik handle pintu...
"Zanna?" pekik seseorang yang terkejut melihat Zanna yang sudah ada di dalam ruangan.
Zanna membuka matanya dan menoleh ke arah pintu.
"Fidya?"
"Ngapain kamu disini sepagi ini?" tanya Fidya seraya masuk ke dalam.
"Kamu juga ngapain?" Zanna balik bertanya, dia berusaha mengusir rasa gugupnya.
"Aku kesini pagi-pagi karena kak Vira minta aku buat nyiapin ruangan, soalnya kan udah beberapa hari nggak dibuka. Takutnya banyak debu," jawab Fidya sembari duduk di samping Zanna dan meletakkan tasnya di atas pangkuannya.
"Kalau kamu kenapa datang pagi-pagi? aku kira kamu nggak bakal kesini," ucap Fidya.
"Aku mau nyiapin ruangan buat yang terakhir kalinya..." ucap Zanna.
"Maksudnya?"
"Ya sebelum aku resign, Fid. Kayaknya aku nggam bisa lama-lama disini. Aku udah tau kesalahan aku, dan kamu emang bener. Makasih kamu udah ngebuka pikiran aku yang bebal ini," Zanna meraih tangan Fidya.
"Tapi nggak usah pakai acara keluar segala, Zan. Cari kerjaan sekarang susah, apalagi yang nyaman kayak gini, pasti susah banget!" Fidya mencegah keinginan Zanna.
"Dengan apa yang udah aku lakuin, aku nggak ada myka lagi buat berdiri di hadapan kak Vira, Fid!"
"Tiap orang bisa melakukan kesalahan, Zan. Cuma bagaimana kita menyikapi kesalahan itu sendiri. Kamu bicara drngan kak Vira dan minta maaf, aku yakin dia bakal maafin kamu, Zan..." Fidya mencoba memberi dukungan pada Zanna. Dia bersyukur Zanna sudah menyadari kekeliruannya.
"Semoga aja ya, Fid. Aku pasti minta maaf kok, cuma tetap disini atau nggaknya tergantung nanti. Tang jelas, aku udah siapin surat ini..." ucap Zanna seraya menunjukkan amplop putih yang berisi surat pengunduran dirinya pada Fidya.
__ADS_1
...----------------...
...----------------...