Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Siapa Yang Sakit?


__ADS_3

Di dalam mobil, Andini beberapa kali menemprl pada Firlan.


"Duduklah yang benar!" suruh Firlan.


"Aku hanya ingin menyuapimu, Lan. Kamu pasti belum makan juga, kan?" ucap Andini.


"Kau saja, aku tidak lapar..." ucap Firlan.


Namun tak sampai disitu, Andini malah memeluk dan bersandar pada bahu Firlan.


"Kau sedang makan bubur, aku tidak mau jasku dikotori makanan!" kata Firlan yang menjauhkan kepala Andini dari bahu lebarnya.


"Makanlah yang benar!" ucap Firlan.


"Baiklah, baiklah..." Andini menyerah. Dia makan dengan tenang tampa mengganggu Firlan menyetir.


Andini menghabiskan makanannya bertepatan dengan Firlan yang memperlambat laju kendaraannya dan berbelok menuju ke rumah sakit milik sahabat istrinya, Amartha.


"Ngapain kita kesini, Lan?" tanya Andini.


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu" ucap Firlan.


"Apa ibumu sakit?" tanya Andini yang malah mengira kalau Ratna sedang di rawat di rumah sakit.


"Cepatlah keluar, jangan biarkan dia menunggu!" ucap Firlan.


Tante Ratna kenapa? perasaan terakhir ketemu sehat-sehat aja. Ah masa bodo, yang penting kan hari ini aku bisa berdua dengan Firlan. Batin Andini.


"Hey, jangan cepat-cepat! kakiku sakit!" keluh Andini yang memakai high heels.


"Aku tidak menyuruhmu memakai sepatu seperti itu!" ucap Fitlan tal peduli Andini dengan susah payah mengikutinya dari belakang.


Firlan mengeluarkan ponselnya danengjubungi seseorang.


"Sudah sampai?" tanya Firlan pada seoarang wanita.


"Sudah," jawab wanita itu.


"Di ruang perawatan, kan?" tanya Firlan.


"Iya," sahut wanita itu singkat.


"Baiklah, aku segera kesana!" ucap Firlan.


Firlqn berjalan menuju lorong-lorong kamar perawatan. Hal ini membuat Andini semakin bertanya-tanya, siapa orang yang akan mereka kunjungi sebenarnya.


"Kita mau ketemu siapa, sih?" tanya Andini ketika berhasil menyamai langkah panjang Firlan.


"Nanti juga kamu tau!" jawab Firlan.


Dan kini mereka sudah sampai di depan sebuah ruang perawatan.

__ADS_1


Ceklek.


Firlan membuka pintu.


"Ayo, masuk!" ucap Firlan pada Andini. Wanita itu pun dengan langkah ragu masuk ke dalam ruangan yang tentu asing baginya.


Firlan juga ikut masuk ke dalam. Andini melihat seorang dokter dengan beberapa alat pemeriksaan dan juga monitor duduk bersama seorang wanita yang sangat ia kenal.


"Apa-apaan ini?" tanya Andini pada Firlan.


"Aku mau pulang!" Andini berbalik dan hendak membuka pintu namun tindakannya itu dicegah oleh Firlan.


"Tidak, sebelum kau melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Bukankah kau belum pernah memeriksakan kandunganmu? jadi, ini saat yang tepat untuk melakukan itu..." kata Firlan dengan seringai di wajahnya.


"Aiiish, kau menjebakku!"


"Bukan aku, tapi kau yang menjebakku. Jadi sekarang waktunya yang tepat untuk membuktikan ucapanmu waktu itu..." ucap Firlan yang mengunci pergerakan wanita itu. Andini menggigit tangan Firlan.


"Akkkh!" Firlan memekik, tapi dia tak melepaskan Andini begitu saja.


Vira yang melihat itu segera menghampiri Andini dan menampar wajah wanita itu dua kali berturut-turut.


Plak!


Plak!


"Diam dan jangan bertingkah!" ucap Vira.


"Nggak usah ngelawan! kita itu berbaik hati mau priksain janin yang ada di dalam rahim mu itu!" kata Vira yang sudah sangat geram dengan tingkah Andini.


Dokter pun mulai mengoles gel dan menempelkan sebuah alat untuk mendeteksi janin di perut Andini.


"Bagaimana, Dok? berapa usia kandungannya?" tanya Vira, Firlan berdiri di samping wanita itu sambil menggenggam tangannya. Sedangkan Andini tak bisa berbuat apa-apa.


Sialan! kenapa aku bisa sebodoh ini! Batin Andini.


"Hemmm," Dokter masih meneggerakkan alat di perut Andini.


"Maaf tapi tidak ada kantong kehamilan, yang ada malah kista..." ucap dokter.


"Apa, Dok? kista?" Firlan mengernyit.


"Jadi, kista ini seperti kantung yang berisi cairan yang berkembang pada rahim. Ini bisa menyebabkan nyeri..." jelas dokter.


"Berarti benar kan kalau Andini tidak hamil?" tanya Firlan.


"Anda benar, Tuan..." ucap dokter.


"Kau dengar kan? wanita ini hanya berbohong untuk mencari simpati ibu..." ucap Firlan pada Vira.


"Bisa tinggalkan kami sebentar, Dok?" ucap Firlan pada dokter.

__ADS_1


"Baiklah, silakan Tuan..." ucap dokter tersebut yang kini sudah mengenal kalau Firlan ini merupakan tangan kanan Satya, suami dari Amartha pemilik rumah sakit ini.


Andini bangun dari posisi tidurnya, Firlan mendekat dan menatapnya dengan tatapan menusuknya.


"Caramu ini sangat murahan Andini, kau menjual cerita bohong dan air mata palsu hanya untuk menghancurkan rencana pernikahanku dengan Vira.."


"Kalau iya memang kenapa? ibumu saja yang bodoh, dia mudah sekali terpengaruh!" ucap Andini.


Plak!


"Jaga bicaramu, Andini! tidak seorang pun yang boleh menghina ibuku!"


"Sudah wanita seperti ini jangan diladeni, yang jelas semuanya sudah terbukti dengan jelas. Dia nggak akan bisa lagi mengancam, kita ridak perlu repot-repot melakukan tes DNA, karena dia hamil saja tidak. Mungkin kamu benar, otaknya memang sudah bermasalah!" kata Vira.


Namun Andin yang mendengar ucapan Vira tidak terima. Andini mendorong Vira dengan tiba-tiba dan ingin membenturkan wanita itu ke tembok.


Namun, sebelum hal itu terjadi, Firlan langsung menangkap dan memjauhkan tubuh Andini dari Vira hingga Andini jatuh tersungkur.


"Jangan coba-coba kau menyakiti calon istriku!" ancam Firlan.


"Aku tau kamu ingin aku menikahimu karena sudah tidak ada lagi yang menyokong kehidupanmu, iya kan? dulu kau tidak seperti ini Andini. Dulu kau tidak haus harta, tapi lihatlah sekarang? kau sudah berubah, bahkan aku seperti tidak pernah mengenalmu..."


"Hikks ... hikss, itu juga karena kamu, Firlan! seandainya saja dulu kamu punya waktu buat aku, aku pasti nggak akan mengenal pria lain. Pria yang memberiku segalanya!" ucap Andini.


"Maaf, mungkin aku memang dulu tifak pernah bisa meluangkan waktu untukmu. Tapi itu tidak berarti kau bisa berhubungan dengan pria lain di belakangku, Andini. Aku sudah memafkanmu sejak lama, dan aku harap kita tidak perlu bertemu lagi. Kita jalani hidup masing-masing," kata Firlan, ia mengajak Vira untuk pergi dari ruangan itu. Sementara Andini ia menangis sambil terduduk. Dia memang seperti tidak mengenal dirinya sendiri.


Firlan menggandeng tangan Vira melewati lorong-lorong rumah sakit. Namun,endadak wanita itu berhenti, membuat Firlan pun menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Firlan.


"Maaf," ucap Vira.


"Maaf untuk apa? aku nggak ngerti..."


"Maaf, karena beberapa waktu yang lalu aku menghindar dari kamu..." ucap Vira.


Firlan memegang kedua bahu wanita itu.


"Aku ngerti, kamu pasti marah dan kecewa dengan keadaan. Disaat kita seharusnya fokus terhadap persiapan pernikahan, kita malah dihadapkan dengan permasalahan receh seperti ini..." jawab Firlan.


"Wajar jika kamu butuh waktu, aku pun sama. Aku butuh waktu buat menenangkan diri dan berpikir jernih supaya aku bisa memutuskan apa yang harus aku lakukan," lanjut pria itu sambil menarik Vira ke dalam pelukannya.


"Tapi dengan kejadian ini, aku bisa melihat kalau ibu belum memberikan restunya buat kita, Ay..." ucap Vira.


"Dengan ibu nggak memaksa aku buat menikahi Andini secepatnya dan memberikan aku kebebasan untuk membuktikan apa yang aku yakini benar, secara nggak langsung ibu sudah memberikan restunya untuk kita, Vira. Hanya saja sikap ibuku yang seperti itu yang membuat kita terkadang salah mengartikannya..." kata Firlan.


"Semoga itu benar, semoga ibu bisa menerima aku sebagai menantunya," ucap Vira. Dia membalas pelukan Firlan.


"Maafkan ibu, Vira..." ucap suara seorang wanita yang berada di belakang Vira.


Vira pun menoleh dan melihat sosok wanita yang berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2