
Vira mengabaikan apa yang di bawa Fidya, wanita itu menaruh diatas meja sedangkan Vira masih melanjutkan percakapannya dengan sang pujaan hati.
"Halo, Ay?" tanya Vira lagi.
"Iya, Ayam..." jawab Firlan yang sepertinya sedang sangat sibuk.
"Kok ayam, sih?" Vira sewot.
"Maksudku ayang, lah kok jadi ayam, ya?" ucap Firlan.
"Ay, aku mau ke rumah Amartha. Kamu nggak usah kesini, ya?" ujar Vira sambil seseklai melihat ke arah buket bunga mawar merah dengan baby breath diatas meja.
"Oh, iya. Aku lupa, aku juga tadi mau bilang kalau aku nggak bisa kesitu, aku lagi banyak kerjaan dari bos. Padahal aku pengen kita makan siang bareng lo, Ay..." kata Firlan.
"Ya besok aja, aku mungkin bisa sampai sore disana. Tau sendiri kalau aku ketemu sama Amartha bakal lama banget ngobrolnya,"
"Atau mau aku jemput?" tanya Firlan.
"Nggak usah, aku naik motor kok kesananya," Vira menolak tawaran Firlan.
"Bukannya itu terlalu jauh?" Firlan mengerutkan keningnya mendengar ucapan kekasihnya.
"Masa iya aku tinggal nih motor disini, terus naik taksi ke rumah Amartha dan sorenya aku harus balik lagi ngambil motor kesini lagi? ribet, aman kok. Kan aku udah punya SIM, dan udah biasa naik motor juga, jadi nggak usah khawatir. Aku pasti nggak akan ditilang..." Vira berusaha meyakinkan Firlan.
"Aku nggak masalahin tilang tapi..."
"Percaya, deh. Aku bisa kok..." serobot Vira.
"Ya sudah, hati-hati. Nggak usah gaya-gayaan ngebut di jalanan..." Firlan seperti sedang menasehati anak SMA yang baru belajar naik motor.
"Ya udah ya, Ay. Aku berangkat dulu, ada yang mau aku beli dulu soalnya..."
"Assalamualaikum," ucap Firlan mendahului Vira.
"Waalaikumsalam," sahut Vira yang menarik satu lengkung senyuman di bibirnya.
Melihat Vira sudah selesai dengan telfonnya, Fidya segera memberikan buket bunga pada bosnya itu.
"Kak, bunga..." ucap Fidya.
"Bunga?"
__ADS_1
"Iya ini bunga tadi dikirim buat Kakak..." jawab Fidya.
"Dari siapa?" kening Vira mengerut, pasalnya tadi Firlan tak mengatakan kalau dia akan mengirim bunga untuknya.
"Katanya nama pengirimnya ada di dalam kartu ucapan yang diselipkan di bunga," ucap Fidya.
"Oh gitu, makasih ya..." ucap Vira pada karyawannya.
"Dari siapa, sih?" gumam Vira sembari mengambil bunga itu dengan penuh tanda tanya di kepalanya.
Vira mencium bunga itu terlebih dahulu sebelum mengambil satu kartu ucapan yabg terselip diantara bunga.
"Semoga kamu menyukainya. Gusti Alvaro," ucap Vira.
"Jadi bunga ini dari mas Gusti? atau dia jangan-jangan salah kirim? soalnya nggak ada keterangan buat aku juga di dalam sini..." Vira jadi garuk kepala, Fidya yang melihat itu pun tak kalah bingung.
Sementara Zanna yang melihat Vira memegang sebuah buket bunga namun dengan ekspresi yang bingung pun bertanya pada Fidya dengan hanya lirikan mata, sedangkan Fidya hanya mengendikkan bahunya.
"Ada apa emangnya, Kak? ada yang salah dengan bunganya?" Fidya memberanikan diri untuk bertanya.
"Tadi, emang bunga ini ditujukan buat saya?" tanya Vira.
"Oh gitu, ya?"
Namun dari jawaban Fidya ia masih tak yakin kalau Gusti sengaja mengirimnya bunga. Melihat jarum jam di dinding, Vira teringat akan janjinya dengan Amartha. Ia pun segera mengambil tasnya di loker, sembari membawa bunga itu bersamanya.
"Zanna, saya tinggal ya. Saya ada urusan mendadak..." ucap Vira.
Kemudian Vira pun berpamitan pada Fidya sebelum akhirnya dia keluar dari ruangan itu menuju motornya yang diparkirkan di teras depan.
"Kenapa tiba-tiba mas Gusti ngirim bunga? aneh..." gumam Vira seraya memasukkan bunga ke dalam kantong dengan berbahan dasar kain.
Vira pun tak ingin memikirkan soal bunga, karena dia harus mencari kang cimol dulu untuk Amartha yang sekarang mungkin sudah menunggunya. Vira mencantokan kantong tadi di bagian depan, lalu dengan perlahan motornya bergerak meninggalkan tempat privatnya.
Vira yang memakai helm putih itu menuju street food yang menjual berbagai macam aneka jajanan khas kaki lima.
"Kalau nyari jajanan kayak gini tuh jadi inget jaman SMA, lagian ada-ada aja si Amartha kalau dia pengen cimol kan dia bisa nyuruh pembantunya buat bikinin..." ucap Vira sembari tetap fokus pada jalanan, ia memakai jaket berwarna abu-abu dan juga kaos tangan untuk melindungi tubuhnya dari sengatan matahari.
"Untung aku keluar jam segini, jalanan masih lengang. Tapi panasnya, beuuh ... nggak kuat!" gerutu Vira yang kini mulai memperlambat laju motornya dan melihat-lihat penjual cimol diantara banyaknya pedagang kaki lima.
"Amartha nggak bakalan bonjrot makan jajanan pinggir jalan kayak gini kan, ya?"gumam Vira yang kini menghentikan motornya tepat di depan sebuah gerobak bertuliskan cimol dan olos.
__ADS_1
"Mbak, beli cimolnya 50 ribu..." seru Vira seraya membuka sedikit hrlmnya dan menurunkan maskernya supaya suaranya terdengar oleh si penjual.
"Berapa, Neng? 5 ribu?" tanya balik si penjual.
"Bukan 5 ribu tapi 50 ribuuuuu!" seru Vira lagi.
"Siap, Neng!"
"Kasih bumbunya jangan pelit, ya!" pinta Vira.
"Berens, Neng!" jawab si penjual cimol.
Si penjual yang ketiban rejeki nomplok itu pun segera membuatkan pesanan Vira. Dan tak lama menyerahkan sebuah kantong keresek berwarna putih pada Vira.
"Nih, Mbak uangnya..." Vira membayar dengan uang pas.
"Makasih ya, Neng!" kata si penjual, Vira hanya mengangguk dan kembali menutup kaca pada helmnya.
"Astaga panas banget, sekarang tinggal nyari minuman. Eh, tapi kok aku pengen takoyaki ya..." gumam Vira yang melihat penjual takoyaki.
Akhirnya Vira mampir sebentar untuk membeli takoyaki barulah dia kemvali melajukan motornya untuk membeli es boba kesukaan Amartha.
"Nah itu dia kedai bobanya!" Vira terlihat bersemangat ketika dia akan sampai pada tpat yang ditujunya. Wanita itu menghentikan motornya dan masuk ke dalam kedai dengan membawa banyak tentengan. Bukan apa-apa, karena memesan boba harus masuk ke dalam, Vira takut belanjaannya bisa diambil orang jika ditinggal terlalu lama.
"Brown sugar 4, pakai extra toping coconut jelly!" ucap Vira.
"Atas nama siapa, Kak?"
"Vira..." sahut Vira. Vira pun segera menyodorkan sejumlah uang untuk membayar semua pesanannya.
"Ditunggu pesanannya ya, Kak..."ucap pelayan saat menerima pembayaran dari Vira.
Petugas kasir yang lumayan ganteng itu mebyuruh Vira untuk duduk sembari menunggu pesanannya dibuatkan.
"Astaga, lumayan bisa ngadem bentar!" lirih Vira dengan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya. Padahal ruangan itu lumayan dingin, tapi karena Vira datang dari luar wanita itu butuh waktu agak lama untuk merasakan hawa sejuk yang kini menelusup ke pori-pori kulitnya.
"Silakan, Kak..." ucap lpetugas kasir yang mendatangi Vira dengan satu kantong bening yang ia letakkan diatas meja.
"Makasih, ya?" ucap Vira seraya menyambar pesanannya tadi dan keluar dari kedai itu.
...----------------...
__ADS_1