
Firlan memasukkan papper bag besar yang dibawa Vira ke dalam bagasi mobilnya. Kemudian pria itu masuk dan duduk di kursi belakang kemudi.
Firlan menekan pedal gasnya dan pergi menjauh dari kediaman Satya. Selama di perjalanan tak ada perbincangan diantara Vira dan Firlan, keduanya nampak sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Hem ... apa yang tadi diucapkan tuan Satya..." ucapan Firlan terhenti.
"Aku akan memberimu kesempatan," kata Vira.
Cyiiiiiiittttttt.
Firlan menekan rem mendadak.
"Astagaaaaa! kenapa ngerem mendadak, sih?" Vira mengusap dadanya.
Sedangkan Firlan melepas sabuk pengaman dan memutar badannya menghadap Vira.
"Tadi kamu bilang apa, Vir?" Firlan menatap Vira dalam.
"Bilang apa emangnya? nggak ada..." ucap Vira yang juga menghadap Firlan.
"Yang tadi ... yang barusan..."
"Yang mana?" Vira balik bertanya.
"Viraaaaa!" Firlan mulai kesal, dia merasa dipermainkan.
"Makanya kalau orang ngomong kuping dipasang dua-duanya. Jadi nggak ngerepitin orang buat ngomong dua kali," Vira sewot.
"Ulangi sekali lagi..." pinta Firlan.
"Iya iya sabar dulu napa! ya ... aku tadi bilang, ya udah aku kasih kamu satu kesempatan buat balikan," ucap Vira.
"Serius? makasih ya, Ay ... aku akan berusaha jadi laki-laki yang terbaik buat kamu. Terus kapan aku ke rumah kamu buat ngelamar kamu? kapan?" ucap Firlan tidak sabaran, ia memeluk Vira dengan hangat.
Perlahan tangan Vira pun membalas pelukan itu, benar kata Satya dia terlalu lama menggantung perasaan Firlan. Dan tidak ada salahnya jika memberi pria menyebalkan ini satu kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang sempat kandas.
Firlan melepaskan pelukannya dan mendaratkan satu kecupan di kening Vira.
Cup.
"Makasih ya kamu udah kasih aku kesempatan ini, aku bahagia banget, Ay..." ucap Firlan sedangkan Vira hanya mengangguk, tersenyum tipis.
"Kita beli makanan dulu sebelum pulang, biar kamu nggak usah pergi keluar," kata Firlan.
"Iya..." jawab Vira.
Dan Firlan tak melepaskan senyuman dari wajahnya, akhirnya usahanya selama setahun ini membuahkan hasil. Vira mau membuka lagi hatinya. Dan pria itu yakin dia tidak akan mengecewakan wanitanya untuk yang kedua kalinya.
Firlan sempat berhenti di sebuah kedai untuk membelikan ayam bakar dengan nasi gurih untuk Vira, sedangkan wanita itu hanya menunggu di dalam mobil.
"Semoga keputusanku ini nggak salah," gumam Vira.
Tak lama Firlan kembali masuk ke dalam mobil dengan menyerahkan satu kantong keresek berwarna putih pada Vira.
"Makasih," ucap Vira agak canggung.
__ADS_1
Firlan hanya tersenyum, sebelum kembali memacu kendaraannya menuju kontrakan Vira.
Tak lama mereka sampai juga dinkontrakan Vira setelah hari sudah gelap. Vira keluar dari mobil begitu juga Firlan. Pria itu tak lupa mengeluarkan dua buah papper bag besar dari bagasi terlebih dahulu sebelum menghampiri Vira yang berdiri di depan pintu rumah.
Vira memutar kunci dan kini pintu perlahan terbuka. Wanita itu kini berbalik.
"Udah malam, lebih baik kamu pulang aja. Nggak enak, nanti jadi bahan omongan tetangga..." ucap Vira.
"Emh, baiklah kalau begitu. Oh ya, ini papper bag-nya..." Firlan menyerahkan jinjingan yang ada di tangannya pada Vira.
"Aku pulang," ucap Firlan.
"Hati-hati ... dan makasih buat gaunnya," kata Vira yang masih berdiri melihat Firlan yang berjalan ke arah mobilnya. Pria itu membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
Vira masuk ke dalam rumah setelah mobil Firlan sudah pergi menjauh.
Vira berjalan ke arah dapur setelah mengunci pintu depan.
.
.
.
Keesokan harinya.
Drrrrttt...
Drrrrtttt...
Ponsel Vira bergetar, ia sengaja mengubah settingan ponselnya ke mode getar, supaya dia tidak kaget kalau ada telpon di pagi hari seperti sekarang ini.
"Mas pacar..." ucap si penelepon pria.
"Pacarnya siapa?" tanya Vira sambil menguap.
"Pacarnya Vira Anugrah..."
"Salah sambung!"jawab Vira sewot sambil menutup panggilan telepon itu.
Namun setelah 5 detik berlalu, mata Vira terbuka, dan bangun dari tempat tidurnya secara tiba-tiba.
"Astaghfirllah!" pekik Vira. Dia langsung melihat ponselnya.
Dan dilihatnya panggilan yang terakhir masuk, dan itu nomor Firlan.
"Astaga, kacau!" Vira cuma bisa menoyor kepalanya.
Ddrrrrttt...
Drtrrrtttt...
Ponsel Vira kembali berdering.
"Angkat nggak, ya?" gumam Vira.
__ADS_1
Drrrrrttt...
Drrrrrrttt...
Karena benda pipih itu terus bergetar, akhirnya mau tak mau Vira mengangkat panggilan dari orang yang mengaku mas pacar padanya beberapa menit yang lalu.
"Halo..." sapa Vira saat panggilan terhubung.
"Udah kumpul nyawanya?" tanya Firlan.
"Belum diabsen satu-satu jadi belum tau udah kumpul semua atau nggak..."
"Hahahah, yaelah gitu aja marah, Ay...." kata Firlan.
"Ada apaan?" tanya Vira.
"Astaga, yang lembut dong Vira kalau mau nanya mas pacar..."
"Ini juga lembut..." Vira tidak mau kalah.
"Ya sudahlah, jangan lupa sarapan. Hari ini kita makan siang bersama," ucap Firlan.
"Ya..." sahut Vira singkat.
"Semoga harimu menyenangkan," ucap Firlan.
"Kamu juga," ucap Vira.
Panggilan itu pun terputus. Vira menyibak tirai yang menutupi jendela kamarnya.
"Hoaaaaammm! matahari cepet banget nongolnya, padahal aku masih ngantuk loh!" ucap Vira sambil meregangkan sendi-sendi nya.
Vira menyambar handuk kemudian pergi mandi. Setelah beberapa saat dia keluar dengan keadaan yang jauh lebih segar dan wangi. Ia melangkah ke arah dapur dengan handuk yang membungkus rambutnya.
"Sarapan apa hari ini?" Vira membuka kulkas dan mengabsen persediaan makanannya.
"Makan apel aja lah..." Vira mengeluarkan dua buah apel yang sudah di cuci. Ia mengambil piring dan meletakkan buah kesukaannya diatas piring putih berbentuk oval.
"Perlu belajar masak nggak sih? nggak usah lah ya, kan warung makan banyak ... mereka kan butuh orang kayak aku yang nggak bisa masak," Vira ngomong sendiri sambil menyuapkan satu potong apel ke dalam mulutnya.
Setelah menyelesaikan sarapan yang terlalu simple itu Vira bersiap untuk pergi ke tempat les privatnya.
Wanita itu mengoleskan lip tint berwarna pink pada bibirnya, dia juga sedikit menyapu pipinya dengan bedak tipis dan sedikit cheeck tint, supaya wajahnya terlihat lebih segar.
"Perfect!" Vira memuji dirinya sendiri di depan cermin, setelah rapi dia segera mengambil kunci motor, tas dan jaketnya. Wanita itu pun melangkah keluar kamar
Vira mengunci pintu sebelum melangkah menuju motornya yang kini sudah terparkir di pelataran.
Vira segera menaiki motornya dan berganung dengan kendaraan lain untuk menggunakan jalan raya.
Setelah 20 menit memacu motornya,Vira pun sampai di tempatnya mengumpulkan pundi-pundi uang. Wanita itu memarkirkan motornya di depan ruko, ternyata di depan pintu sudah ada Zanna dan Fidya.
"Kalian sudah lama menunggu?" tanya Vira yang baru kini menghampiri kedua pegawai barunya.
"Tidak, Bu. Kami baru saja datang 5 menit yang lalu..." ucap Zanna.
__ADS_1
Kemudian Vira membuka pintu, "Ayo, masuk..."
...----------------...