
Sekarang Vira berada di dalam taksi online, dia harus segera sampai ke tempat les privatnya. Selain tak mau membuat anak-anak lama menunggu, ia juga tak mau banyak pertanyaan dari Firlan.
"Pak, ngebut dikit dong, Pak! saya lagi buru-buru," Vira bersuara.
"Bahaya, Mbak kalau ngebut-ngebut di jalanan. Tapi ini saya usahakan cepet sampai," kata si supir taksi.
Vira melihat jam tangannya dengan gelisah.
"Semoga aja Firlan belum sampai, aku males banget kalau ditanyain ini itu," gumam Vira.
"Pak, cepetan dikit, Pak!" seru Vira.
"Iya, Mbaaak!" jawab si supir.
Dan mobil yang ditumpangi Vira mendadak berhenti, wanita itu pun langsung protes.
"Pak kok berhenti, sih?"
"Lampu merah, Mbak! saya bisa kena tilang kalau main jalan terus!" kata si supir setengah bete.
"Oh, lampu merah..." lirih Vira.
Dan setelah 60 detik, lampu lalu lintas yang semula berwarna merah kini menyala warna hijau, mobil yang ditumpangi Vira pun segera melaju membelah jalanan.
"Astaga, lama bangeeeettt!" gumam Vira tidak sabaran.
Dan setelah sekian lama, akhirnya Vira sampai juga di tempat ia mengajar.
"Ini, Pak! ambil aja kembaliannya," Vira menyerahkan uang pada si supir taksi.
Vira membuka pintu dan keluar dari mobil. Namun, si supir taksi membuka kaca mobilnya dan berteriak.
"Mbaaaak tasnya ketinggalan!"
Vira yang diteriaki oleh si supir taksi online pun menepuk jidatnya.
"Astaghfirllah!" Vira lari lagi menuju mobil dan mengambil tasnya yang ketinggalan.
"Makasih ya, Pak!" ucap Vira yang sudah menyambar tasnya.
Wanita itu berlari lagi masuk ke dalam tempat privat nya.
"Asaalamualaikum," ucap Vira saat sudah melepas alas kakinya dan membuka pintu ruangan. Hawa sejuk langsung menerpa kulitnya yang putih.
"Waalaikumsalam," ucap Fidya.
"Waalaikumsalam, Bu..." ucap Zanna.
"Loh, anak kecil yang ikut Bu Vira tadi mana?" tanya Zanna.
"Dia udah pulang," ucap Vira yang kemudian duduk di bawah selonjoran.
"Berarti tidak jadi les dong, Bu?" tanya Zanna.
__ADS_1
"Iya, nggak jadi, dia ketiduran. Tadi saya antar ke rumahnya. Saya cepat-cepat kesini takut anak-anak keburu datang, masih untung saya nggak telat, ya..." kata Vira.
"Kalian sudah makan siang?" tanya Vira.
"Sudah, Bu..." ucap Fidya.
"Kalian boleh ambil minuman di kulkas, ya?banyak minuman kotak itu. Ambil aja bebas," kata Vira menunjuk kulkas kecil berwarna putih.
"Baik, Bu..." ucap Zanna.
"Jangan panggil Ibu, ya? saya nggak biasa," kata Vira yang sedikit risih jika dipanggil ibu.
"Lalu kami harus memanggil apa, Bu?" tanya Fidya.
"Kakak atau apa gitu," kata Vira.
"Baik, Kak Vira..." ucap Fidya.
"Nah gitu aja boleh,"
Zanna pergi membuka kulkas, ia menunduk mengambil sesuatu.
"Minum dulu, Kak. Kayaknya capek banget," kata Zanna yang menyodorkan sebuah teh dalam kemasan kotak.
"Makasih, Zan. Panas banget di luar," Vira mencoblos minuman itu dengan sedotan.
"Kalian tau, nggak? tas aku hampir aja ketinggalan di dalam taksi online! masih untung pak supirnya baik hati, dia bilang kalau tas aku ketinggalan!" kata Vira menunjuk tas nya yang berwarna putih tulang.
"Wah, masih rejeki itu, Kak!" kata Fidya.
Dan pembicaraan mereka terpotong karena ada beberapa anak yang masuk ke dalam ruangan.
"Kaaaak Viraaaaaaaaa!" sapa anak-anak yang langsung menubruk Vira yang sedang duduk.
"Astaga, Kak Vira langsung nyungsruk inih!" kata Vira yang tak bisa berkutik karena mendadak dapat serangan yang tiba-tiba. Kemudian satu persatu anak itu bangun dan melepaskan pelukannya pada Vira.
"Eemh, kalian telat 5 menit," kata Vira yang menunjukkan kelima jarinya dihadapan ketiga anak kecil itu.
"Sorry..." ucap salah satu anak.
"Hahahah, baiklah. Ayo kita mulai bermainnya. Are u get ready?"
"Yeeeeessss!" jawab anak-anak.
Hari ini Vira hanya mengajari 3 anak untuk belajar membuat kreasi dari bahan clay.
Zanna memperhatikan bagaimana Vira berinteraksi dengan anak-anak. Bukan seperti tutor, Vira lebih seperti teman bagi anak-anak ini.
Menangani anak itu susah-susah gampang, kita nggak boleh fake. Karena mereka itu bisa merasakan orang itu tulus atau nggak sama mereka. Kita nggak bisa pura-pura happy, kita beneran harus happy. Apa yang ada di dalam hati, pasti akan langsung terpancar keluar, itu yang setidaknya Vira terapkan ketika menghandle anak-anak ini.
"Oh ya, girls! Kak Vira sekarang punya temen baru buat nemenin kalian, namanya kak Zanna. Nah, Kak Zanna ini juga bisa melukis seperti Kak Vira. Kalian kenalan dulu ya sama Kak Zanna..." kata Vira.
"Hai Kak Zanna.." kata anak-anak itu.
__ADS_1
"Haiii, kenalin aku Zanna..." Zanna tersenyum ramah.
"Aku Grace..." ucap anak yang berkulit sawo matang
"Aku Cilla," kata anak berambut pendek sebahu seperti Vira.
"Kalau aku, Revita..." ucap anak yang mengunciir rambutnya seperti ekor kuda.
"Hai, Grace, Cilla, Revita..." ucap Zanna menyapa ketiganya secara bersamaan.
Ketika kelas berlangsung selama 20 menit, seseorang mengetuk pintu dari luar.
Vira dan Zanna pun menoleh secara bersamaan, mereka melihat penampakan sosok tampan berbalut jas.
"Vira..." ucap pria itu.
"Ehm, Zan. Tolong kamu temenin anak-anak dulu," ucap Vira yang kemudian bangkit.
Namun Zanna yang penasaran pun akhirnya curi-curi pandang pada sosok Firlan.
"Kok udah dateng?" tanya Vira.
"Ya kan aku udah ngomong, aku mau kesini. Lagian kerjaan aku udah selesai..." kata Firlan yang menyelipkan rambut di telinga Vira.
"Ya udah, kamu kamu duduk dulu di sofa..." kata Vira yang canggung karena ada Zanna dan Fidya.
"Mau minum apa?" tanya Vira.
"Apa aja,"
"Oke, deh..." Vira bergerak menuju kulkas. Ia mengambil satu minuman kaleng kopi rasa vanilla latte untuk Firlan.
"Minumnya," kata Vira yang menaruh minuman kaleng di atas meja.
"Mereka pegawai baru?" tanya Firlan menunjuk Zanna dan Fidya dengan dagunya.
"Iya, ya udah aku mau balik kerja lagi..." kata Vira.
"Oke, aku tunggu..." ucap Firlan.
Vira pun kembali ke meja kecil tempat anak-anak membuat kreasi clay.
"Siapa, Kak?" tanya Zanna yang kepo tingkat dewa. Tapi Vira hanya tersenyum tanpa berniat menjawab keingintahuan Zanna.
"Kamu buat apa, Grace?" tanya Vira pada anak yang ada di sampingnya.
"I think, ini mirip seperti little cup cake," kata Grace.
"Woow, beri springkle diatasnya..." kata Vira.
Zanna pun beberapa kali melihat ke arah sosok Firlan yang duduk dengan melihat layar ponselnya dengan wajah yang serius.
"Apa itu pacarnya Kak Vira ya? jutek amat mukanya," gumam Zanna dalam hatinya.
__ADS_1
Merasa diperhatikan, Firlan pun mendongak. Dan matanya menangkap Zanna yang ketahuan sedang melihat ke arahnya.
...----------------...