Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Hilang Kesabaran


__ADS_3

"Firlan?" gumam Vira seraya mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Ehm, mau ngapain kesini?" tanya Vira dengan suara seraknya.


"Ngajak kamu lari pagi,"


"Aku nggak butuh lari pagi. Aku butuhnya lari dari kenyataan! dah pulang aja, sana!" ucap Vira ketus. Ia berniat menutup pintu namun pria itu segera menahannya dengan satu tangan.


"Galak banget, sih?"


"Nah itu tau! jadi mendingan kamu balik badan terus pulang!" ucap Vira mengusir pria itu.


"Aku udah perjuangan lompatin pager, nama baik jadi taruhan kalau-kalau ada yang liat dan ngira aku mau maling, dan kamu usir gitu aja? hati nurani kamu taruh dimana, Vira?" pria itu nyerocos kayak kaleng rombeng.


"Pertama, aku nggak minta kamu kesini. Yang kedua, aku nggak nyuruh kamu lompatin pager, dan yang ke tiga, aku nggak peduli!" ucap Vira yang tiba-tiba ada sesuatu yang menggelitik hidungnya.


"Huatchiiiih!"


"Kamu sakit? kamu sakit apa, Vira?" Firlan mendorong pintu selagi tangan Vira menutup mulutnya sendiri. Tentu ini menjadi kesempatan Firlan untuk bisa masuk ke rumah itu. Pria itu segera melepas alas kakinya dan duduk di samping Vira yang lagi meler.


"Huatchih, uhukk!" Vira mengambil tisu yang ada di meja ruang tamu, lalu mengusap hidungnya.


"Badan kamu begitu ringkih! kamu jarang olahraga dan kamu ngurusin anak orang segitu banyaknya! pasti kamu kecapean, Vira. Kamu kan nggak bisa masak, kamu pasti belum sarapan," Firlan nyelonong masuk ke dalam. Ia mencari keberadaan lemari pendingin.


"Dia ngomong apaan, sih! ngang ngong ngang ngong kayak tawon!" Vira memegangi kepalanya yang senat senut.


"Aku nggak perlu sarapan. Aku butuhnya istirahat!" seru Vira yang mengejar kemana si penyusup menggeledah rumahnya.


Vira melihat seorang pria membungkuk memasukkan sebagian badannya ke lemari pendingin di dekat kompor.


"Kamu maunya apa, sih? aku mau iatirahat, jadi tolong kamu pergi sekarang juga!" Vira sudah hilang kesabaran.


"Nggak ada bahan makanan! cuma ada telor dua biji," kata Firlan seraya menunjukkan dua butir telur yang entah masih baik digunakan atau tidak.


"Sini kembaliin!" Vira berusaha merebut telur yang ada di tangan Firlan.


"Aku mau bikinin kamu sarapan, kamu ada nasi kan?"


"Udah deh, pulang sana! aku mau sarapan atau nggak itu bukan urusan kamu tau, nggak! uhukk..." teriak Vira dan kemudian terbatuk.


"Lagi sakit masih aja galak!" celetuk Firlan.


"Huaaatchih!" Vira menutup mulut dan hidungnya menggunakan tisu.


"Duduk dan diem!" ucap Firlan yang mendorong tubuh Vira untuk duduk di meja makan yang menyatu dengan dapur kecil.

__ADS_1


"Garam mana?" tanya Firlan.


"Nggak ada!"


"Bubuk kaldu jamur?"


"Nggak ada!"


"Kamu pernah masak nggak, sih?" tanya Firlan.


"Nggak! aku nggak pernah dan nggak bisa masak!" ucap Vira ngegas.


"Terus kalau kamu mau makan?"


"Beli! noh warung banyak berjejer, udah deh kamu pergi sekarang karena aku mau lanjutin tidur!" Vira mengusir Firlan.


"Nggak sebelum kamu makan," Firlan keras kepala. Ingin rasanya Vira memukul kepala pria itu dengan panci yang tergantung disana.


Sesaat Firlan melihat ada kecap dan bungkusan minyak bekas mie instant.


"Kamu kalau masak mie nggak pernah dikasih minyaknya?"


"Nggak,"


Firlan menaruh teflon tadi ke atas kompor kemudian menyalakan api. Firlan menoleh pada Vira dan menarik satu sudut bibirnya seraya mengangkat satu alisnya.


"Liat! sekarang aku akan ngajarin kamu gimana caranya bikin telor kecap yang enak!"


Vira tersenyum getir, melihat Firlan seenaknya mengobrak-abrik isi dapurnya. Bukan hanya isi dapur tapi juga isi hatinya yang sudah acak adul sekarang ini.


Minyak sudah terlalu panas ketika Firlan mulai memecahkan satu persatu telur yang terjun bebas ke dalam teflon panas. Tak sengaja minyak panas terpercik mengenai kulit tangan Firlan.


"Panas!" pekik pria itu. Firlan langsung membasuhnya di bawah air yang mengalir dari kran wastafel.


Vira hanya melihat pria itu bermain dengan air, namun hidungnya kemudian mencium bau-bau sesuatu disertai asap yang memenuhi ruangan.


"Uhukkk! uhukkk!" Vira terbatuk.


Firlan yang sadar langsung mengelap tangannya dan segera mematikan kompor. Pria itu mebgibaskan tangannya berharap kepulan asap segera enyah.


"Untung saja segera aku matikan, uhukkk uhukk!" gumam Firlan seraya terbatuk-batuk.


"Kamu mau bikin dapur aku kebakaran apa gimana, sih?" ketus Vira, ia melihat apa yang ada di dalam teflon.


.

__ADS_1


.


Dan sekarang Firlan tak sanggup melihat wajah Vira yang terlihat sangat tidak bersahabat.


"Makan, Vir..." ucap Firlan seraya memberikan dua tusuk sate telur puyuh ke atas mangkok yang berisi bubur ayam milik Vira.


Vira memegang sate telur itu dan menggigitnya tanpa melepaskan tatapan tajamnya pada Firlan.


Vira mengunyahnya kemudian ia menaruh kembali tusuk sate itu di atas mangkoknya. Ya, mereka tak jadi makan telur kecap. Karena telur kecap yang Firlan janjikan itu gosong.


"Kenapa? sate telurnya nggak enak?" tanya Firlan.


"Sebenernya kamu itu kenapa, sih?"


"Aku? emang aku kenapa?" Firlan balik bertanya. Ia menyuapkan bubur ayam ke mulutnya.


"Bukannya beberapa bulan ini kita udah jalan sendiri-sendiri, ya? terus kenapa kamu tiba-tiba nyari aku lagi? kenapa? si Alia lagi sibuk dan nggak bisa diajak ngedate?" cecar Vira. Firlan hampir tersedak makanannya saat Vira menyebut nama Alia. Pria itu segera menegik minumannya.


"Bisa nggak sih nggak usah bahas Alia?" tanya Firlan.


"Terus harusnya bahas apa? karena sebenarnya kita tuh udah nggak ada apa-apa, dan stop bersikap seolah kita punya hubungan!" ucap Vira menohok.


Vira melipat tangannya di depan dada. Melihat Firlan yang juga menghentikan makannya.


"Kamu lagi sakit, kita nggak usah ribut. Mendingan kamu makan supaya bisa cepet sehat," ucap Firlan.


"Aku nggak akan sehat kalau kamu ada disini," kata Vira.


"Nggak usah mulai deh, Vira!" ucap Firlan.


"Habiskan makananmu, aku akan buatkan teh!" ucap Firlan.


"Dasar egois!" gumam Vira melihat Firlan yang beranjak dari duduknya dan mulai mengisi air ke dalam teko.


Firlan pun mulai mengisi air ke dalam teko. Sembari ia merebus air, ia membuka laci mencari teh celup.


"Jangan kau buka semua laci itu!" seru Vira.


"Astaga dia bisa berubah galak seperti itu!" cicit Firlan. Pria itu gelemg-geleng kepala sambil mengambil mug berwarna merah.


"Teh tempatnya di kabinet atas!" kata Vira menunjuk sebuah kabinet. Firlan pun membukanya dan mengambil satu kantung teh beserta gula rendah kalori yang berbentuk sachet.


Firlan segera menuangkan air mendidih ke dalam mug yang sudah ia taruh satu kantong teh. Dan terakhir ia masukkan gula lalu mengaduknya.


"Minumlah!" ucap Firlan seraya menyodorkan teh pada Vira.

__ADS_1


__ADS_2