Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Tak Banyak Yang Bisa Dilakukan


__ADS_3

Lumayan juga Vira bertemu dengan Gusti di cafe ini, minimal dia bisa sedikit melupakan masalahnya sejenak. Sebenarnya Gusti mengerti, wanita yang ada di depannya ini menyimpan sesuatu yang disimpannya di dalam hati. Namun sekali lagi, dia tidak akan memaksa kalau memang Vira tidak ingin menceritakan padanya.


Wanita itu kini sibuk menyuapkan cake ke dalam mulutnya sedangkan Gusti segera mengetik chat pada asistennya untuk membatalkan semua pertemuan siang ini.


📱Semua meeting tolong di-cancel! saya ada urusan penting!


Setelah mengirim pesan itu pada Andra, Gusti merebut sendok dari tangan Vira dan menyuapkan satu sendok cake ke dalam mulutnya.


"Astaga! bikin kaget aja, ih!" Vira menepuk lengan Gusti.


"Habisnya makan sambil ngelamun!" ucap pri itu, dia meminum iced lemon tea miliknya.


"Siapa bilang aku ngelamun? aku tuh lagi..." Vira mencari alasan.


"Lagi apa? jelas-jelas ngelamun tadi..."


"Orang nggak ngelamun, kok! aku cuma lagi liatin orang, aku kira temenku ternyata bukan..." Vira mengelak.


"Masa?"


"Iya..." jawab Vira, Gusti hanya terkekeh saat melihat wajah kesal wanita berambut sebahu itu.


Vira melihat arloji yang ada di tangan pria yang duduk di dekatnya.


"Kenapa?" tanya Gusti.


"Katanya ada janji ketemu orang?" Vira heran karena Gusti seperti orang yang santai dan tidak sedang menunggu orang.


"Tadi Andra bilang kalau orang yang akan bertemu denganku hari ini menjadwal ulang pertemuan kami, katanya ada sesuatu yang penting..." jelas Gusti, dia mengarang alasan.


"Kenapa nggak telfon?"


"Oh, itu. Mungkin Andra lagi mau nyetir. Jadi, dia buru-buru mengirim chat," ucap Gusti, namun saat melihat wajah Vira sepertinya gadis itu masih tidak percaya dengan alasan yang ia lontarkan tadi.


"Sudahlah! jangan dipikirkan, nggak penting!" Gusti menggerakkan tangannya.


"Kamu sudah lapar atau belum?" tanya Gusti mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Udah minum kayak gini dan makan cake, udah lebih dari cukup. Tapi kalau mas Gusti mau pergi makan siang, aku nggak apa-apa kok. Aku lagi nikmatin musik disini, suasananya lagi enak nggak begitu ramai..."


"Nggak, aku cuma takut kamu sudah lapar dan menahan perutmu dalam keadaan kosong terlalu lama..." kata Gusti.


"Aku udah kenyang dengan makanan manis kayak gini..." kata Vira.


Sedangkan di tempat lain Firlan sedang mengerjakan pekerjaannya, mendampingi sang bos di beberapa pertemuan. Meskipun pikirannya sedang bercabang-cabang, tapi dia tetap bersikap profesional.


"Kenapa, Lan?" tanya si bos.


"Apanya?"


"Kamu sedang dikejar hutang atau bagaimana?" tanya Satya sembari mengecek laporan keuangan perusahaannya.


"Kenapa memangnya? anda melihat dept collector berkeliaran di gedung ini mencari saya?"


"Sssh, muka kamu itu loh! kurang enak diliat! kayak orang tertekan!" celetuk Satya sambil terus mengecek lembar per lembar laporan di tangannya.


"Sepertinya karena hampir seharian ini saya bersama anda, Tuan! makanya wajah saya yang biasanya sumringah bahagia mendadak redup dan penuh tekanan," kata Firlan.


"Anda jangan bersantai-santai dulu, Tuan! karena sebentar lagi anda harus menemui tuan Jonas..." Firlan mengingatkan jadwal bosnya itu.


"Astaga, kau sengaja ya membuat hari ini menjadi padat?" tuduh Satya.


"Tidak juga, Tuan! kita masih puny waktu 15 menit, saya keluar dulu. Permisi..." ucap Firlan.


Pria itu keluar dari ruangan sang pemimpin perusahaan. Dan beberapa detik kemudian ia mendapatkan sebuah panggilan telepon dari salah satu anak buahnya.


"Bagaimana?" tanya Firlan.


"Sejauh ini yang ditemuinya semua teman wanita, Tuan!" kata orang itu di seberang telepon.


"Tetap awasi, jangan lengah sedikitpun. Ikuti kemanapum dia pergi, kalau perlu rekam semua percakapan jika ada sesuatu yang janggal, mengerti?" perintah Firlan.


"Mengerti, Tuan! baiklah, sepertinya target kita akan keluar, nanti saya hubungi anda lagi " kata orang itu.


Fitlan menutup ponselnya, rahangnya mengeras saat mengingat tuduhan kejam yang dilayangkan Andini padanya.

__ADS_1


"Aku akan buktikan kalau aku bukan ayah dari anakmu itu!" guman Firlan.


.


.


Malam harinya Firlan mencoba menghubungi Vira. Jujur saja dia sangat rindu, karena pertemuan mereka tak seintens dulu. Pria itu ada di dalam mobilnya yang terparkir di depan gerbang kontrakan yang dihuni oleh Vira.


"Sabar ya, Ay! kita pasti bisa lewatin ini semua berdua, aku tau kamu pasti percaya sama aku. Aku kali ini akan mmbuktikan kalau semua yang dikatakan wanita itu tidak benar," ucap Firlan.


Cukup lama dia memandangi rumah yang ada di depannya. Pria itu mencoba menelepon Vira namun tidak diangkat.


"Mungkin ayamku udah tidur, baiklah selamat malam dan mimpi indah..." gumam Firlan.


Pria itu kini menekan pedal gas dan melesat meninggalkan rumah kontrakan Vira.


Sedangkan di dalam kamar, sebenarnya Vira mengintip dari balik tirai. Dia melihat mobil Firlan ada di dpan rumahnya, tapi jujur saja hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Maaf ya, Ay! bukannya aku nggak,au nemuin kamu, dan bukannya aaku nggak mau jawab telfon kamu. Aku juga lagi bingung sama diriku sendiri, gimana aku harus ngadepin kamu..." Vira merasa bersalah ketika mobil Firlan sudah tidak terlihat lagi terparkir di depan rumahnya.


"Aku nggak tau sampai kapan kita bakal kayak gini, sementara aku yakin wanita itu bakal terus mendesak ibu kamu dengan modal air mata buayanya..." Vira menjatuhkan dirinya di ranjang.


"Kenapa ya, Ay? ibu kamu nggak suka sama aku? kenapa ya, Ay? dia lebih percaya dengan omongan Andini, padahal wanita itu baru saja dia temui? kenapa?"


Vira tak kuasa menahan air matanya. Rasanya tidak sulit untuk mempercayai Firlan, namun dia sangat kecewa dengan dirinya sendiri kenapa Ratma tidak bisa menyukainya bahkan sampai saat ini.


"Di hadapan ibumu aku berusaha tenang, walaupun hatiku rasanya sakit melihat dia memeluk wanita yang jelas-jelas ingin menghancurkan kehidupan putranya..." lirih Vira.


"Jika kita memang berjodoh, kita pasti bisa melewati semua ini. Kita bisa buktikan kalau ucapan Andini hanya omong kosong, dan kita bisa melanjutkan rencana pernikahan kita..." Vira menyeka air matanya.


Tidak banyak yang bis Vira lakukan. Dia tidak punya uang untuk menyuruh orang menyelidiki Andini, saat ini dia hanya bisa menunggu kabar dari Firlan.


Setelah puas menangisi nasibnya, Vira pun tertidur. Namun tidak dengan Firlan. Pria itu sedang duduk di sofa, besok dia akan pergi le dokter kandungan untuk mencari tahu prosedur tes DNA, Firlan yakin itu jalan satu-satunya supaya dia terbebas dari tuduhan Andini.


"Aku tidak tau apa tujuanmu datang lagi ke dalam kehidupanku! tapi aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu inginkan dariku!" ucap Firlan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2