Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Susahnya Menjadi Romantis


__ADS_3

Keesokan harinya.


Firlan sudah menyambangi kontrakan Vira, pria itu datang lebih pagi daripada biasanya.


Tok.


Tok.


Tok.


Vira yang baru habis mandi pun terpaksa dengan terburu-buru memakai pakaiannya dan segera membukakan pintu.


Ceklek.


Pintu sudah dibuka.


"Aku kira siapa, ketok pintu kayak orang nagih utang!" Vira langsung menyembur Firlan dengan omelan khasnya.


"Nggak ada kang nagih utang seganteng dan sekeren aku..." ucap Firlan.


"Pintu gerbang kok udah buka? jangan-jangan semalem lupa kamu gembok ya?" tuduh Firlan.


Vira menjawab sambil balik badan dan menggosok-gosokkan handuk di kepalanya.


"Aku buka tadi sebelum aku mandi, niatnya nanti mau beli sarapan pagi. Lagi nggak mood makan roti atau buah," jawab Vira. Ia segera menyalakan kompor untuk membuat minuman panas.


"Nih, aku bawain kamu makanan..." ucap Firlan sambil memamerkan belanjaan di tangan kanannya.


"Nasi uduk lagi?" tanya Vira.


"Bukan, ini ada soto ayam dengan kuah bening..." ucap Firlan.


"Soto? enak nih baunya..."


"Ada bubur ayam juga, takut kamu masih laper..." Firlan mengeluarkan makanan di atas meja.


Vira pun segera membawa beberapa mangkok untuk memindahkan makanan.


"Kamu bikin minum aja, aku yang pindahin ini semua..." ujar Firlan.


"Pengen kopi atau teh?" tanya Vira.


"Kalau makan kayak gini ya enaknya teh tawar aja, kalau teh manis kurang enak deh..."


"Oke, aku siapin..." Vira langsung membuatkan dua mug teh tawar, ya itung-itung mengurangi konsumsi gula hari ini pikir Vira.


"Sini duduk, kita makan bareng..." kata Firlan menarik sebuah kursi di sampingnya.

__ADS_1


"Beli soto ayam dimana, sih?" tanya Vira yang meletakkan minuman diatas meja, dan mulai mendekatkan mangkok berisi soto ke arahnya.


"Di dekat sini, kan banyak yang jual makanan. Kalau aku beli di deket apartemenku, yang ada sampe sini makanannya udah dingin. Cepat makan," suruh Firlan.


"Iya iya ini juga mau makan," Vira mengucurkan potongn jeruk nipis pada kuah sotonya, ia juga tak lupa untuk menambahkan kecap dan juga sambal.


Vira sangat menikmati soto bening yang sangat ia sukai itu, rasanya segar dan membuat ketagihan. Tapi sepertinya makanan apapun asal enak di lidah, pasti membuat Vira merasa ketagihan dan ingin menghabiskan makanan di hadapannya.


Firlan membukakan keripik tempe dan menyodorkannya ke mulut Vira.


"Emmmmh, enak!" Vira mengangkat jpil tangan kanannya, untuk memuji makanan yang dibawakan kekasihnya pagi ini.


Soto yang masih mengepulkan asap membuat Vira kalap memakannya.


"Masih laper nggak? tuh ada bubur ayam..." Firlan menunjuk mangkok lain berisi bubur ayam beserta sate telur puyuh.


"Iya nanti aku makan," jawab Vira.


"Hari ini berangkat ngajar?" tanya Firlan.


"Iya, kenapa emang?"


"Nggak apa-apa aku cuma nanya aja. Emmmmh, nnati siang aku usahain kita bisa makan siang bareng..." ujar pria yang kini menatap wanitanya dengan intens.


"Hem? kalau kamu sibuk nggak apa-apa kok Ay, aku kan bisa makan sama Fidya sama Zanna. Lagian yang ada kamu capek bolak-balik..." ucap Vira.


"Jadi kamu nggak mau makan siang sama aku?" tanya Firlan jutek.


"Kita liat nanti," ujar Firlan.


.


.


.


Setelah tadi pagi sarapan bersama si ayam, Firlan masih memikirkan bagaimana caranya melamar Vira dengan romantis, sebelum dia akan melamar lagi wanita pilihannya di depan oragtuanya. Firlan ingin memberikan kesan yang lain untuk Vira.


"Aku searching aja coba..." Firlan yang sedang di dalam ruangannya pun segera menonton vidio berbagai macam cara pria untuk melamar pasangannya.


Firlan fokus menonton sembari mulutnya mengomentari apa yang dilakukan si pria pada wanitanya.


"Apa itu tadi? masukin cincin ke makanan atau minuman? aih, kalau si ayam di kasih kayak gitu yang ada itu cincin masuk ke dalam perut, dia kan kalau makan langsung telen-telen aja..." Firlan tak akan menggunakan cara itu untuk mempersunting Vira, bukannya romantis, yang ada dia akan direpotkan dengan Vira yang kesedak cincin berlian.


Firlan mencoba menonton vidio lain ketika sang pria meminta wanitanya di ruangan yang gelap gulita, dan ketika sang perempuan sudah datang lampu akan segera menyala dan memberikan kejutan makan malam yang romantis dengan diiringi pemain biola.


"Kayaknya bukan ide yang bagus, kayaknya Vira ada masalah dengan ruang gelap. Aku nggak mau sesuatu yang harus menjadi surprise malah jadi bencana..." ucap Firlan setelah menimbang-nimbang baik buruknya.

__ADS_1


"Mengerjakan pekerjaan kantor ternyata lrbih mudah daripada hraus menyusun rencana lamaran romantis!" Firlan menjambak rambutnya kesal.


Tok.


Tok.


Tok.


"Masuk!" seru Firlan seraya mematikan vidio yang sedang ditontonnya.


"Pak Firlan dipanggil si bos, tuh!" ucap Maura.


"Kenapa nggak telfon? biasanya juga nelfon!" Firlan menunjukkan ponsel di tangannya.


"Coba langsung samperin aja, kayaknya lagi badmood!" Maura segera menutup kembali pintu ruangan Firlan.


"Badmood kenapa lagi coba?" gumam Firlan seraya bangkit dari duduknya.


"Nggak bisa banget liat asisten agak santai dikit, ya ampun!" gerutu Firlan dalam hati. Ia pun segera keluar dari ruangannya menuju ruang bosnya.


Firlan mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruangan itu.


"Anda mencari saya, Tuan?" tanya Firlan pada Satya.


"Lan, coba kamu cari tau. Apakah mantan Rival saya sudah kembali ke sini?" tanya Satya.


"Siapa yang anda maksud, Tuan?" Firlan yang masih kepikiran dengan acara lamarannya mendadak sedikit tak fokus.


"Hadeuh, siapa lagi kalau bukan Kenan!"


"Memangnya ada apa? apa anda bertemu dengan dia?" tanya Firlan, pria itu jadi ingat pertemuannya dengan pak Irwan. Firlan melihat Kenan sempat menemui Irwan ditempat yang sama dengan dirinya.


"Saya tidak bertemu tapi sepertinya aku curiga seseorang yang mengirim buket bunga sebanyak itu ke rumah adalah dia," wajah Satya terlihat sangat kesal saat mengatakan hal itu pada Firlan.


"Buket bunga? kalau itu bisa saja dia menyuruh orang untuk mengirimnya," tutur Firlan.


"Iya, tapi di kartu ucapan itu dia menuliskan kalau dia ingin bertemu dengan istriku, Amartha!" Satya menumpahkan kekesalannya pada Firlan.


"Sabar, Tuan! mungkin itu hanya sekedar prank?"


"Aiiih, kamu belum menikah jadi kamu tidak mengerti apa itu feeling seorang suami!"


"Jadi, Tuan sedang cemburu? baiklah, akan saya cari tau apakah Rival anda itu sudah kembali dan siap merebut mantan istrinya kembali ataukah dia masih berada di Amerika," ucap Firlan.


"Apa kau bilang tadi?" Satya naik darah.


"Saya hanya bercanda, Tuan! percaya saja, istri anda tidak mungkin menemui mantan suaminya tanpa seizin anda, Tuan! jadi anda jangan overthingking duluan!" ujar Firlan, seraya mendapat tatapan tajam dari bosnya.

__ADS_1


"Berisik!" umpat Satya.


...----------------...


__ADS_2