Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Tidak Bisa Lupa


__ADS_3

Vira bangun karena mencium bau roti bakar yang sangat harum.


"Emmmh!" Vira meregangkan badannya. Dia mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Ayang?"


"Udah nggak manggil kamu lagi?" tanya Firlan yang duduk di samping ranjang yang ditempati Vira.


"Mau mulai lagi?"


"Nggak, nggak!" serobot Firlan.


"Aku bikinin kamu roti bakar, bukan aku tapi bibik yang bikin..."


"Kok udah rapi?"


"Iya, ada kerjaan mendadak. Tapi aku nanti siang aku usahain pulang kesini..." kata Firlan.


"Dari kantor ke sini bukannya jauh banget? kalau nggak sempet juga nggak apa-apa, daripada capek di jalan juga," ucap Vira.


"Ya kalau aku nggak pulang kamu jangan lupa makan sama minum obat juga," suruh Firlan.


"Iyaaaaa..."


"Dimakan dulu, mumpung masih anget nih..." Firlan menyodorkan satu roti bakar dengan coklat dan keju mozarella di dalamnya.


Vira memakannya sedikit demi sedikit.


"Nggak nawarin aku?" tanya Firlan.


"Nggak usah ditawarin, kalau mau kan bisa ambil sendiri," kata Vira yang kadang jutek kadang baik.


Sikap juteknya muncul kalau dia ingat adegan mesra Zanna dan Firlan di tempat lesnya.


Sampai saat ini tidak ada klarifikasi apapun dari Zanna. Firlan yang melihat Vira melamun pun menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah wanita itu.


"Jangan ngelamun terus, nanti kesambet!" kata Firlan.


Firlan tanpa permisi menggigit roti yang ada di tangan Vira.


"Ya ampun main serobot aja!" Vira kaget karena tindakan Firlan yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Aku belum sarapan, laper liat kamu makan..." kata Firlan.


Sedangkan Vira melirik kekasihnya itu dengan sinis sambil meminum susu hangatnya.


"Ya udah, aku tinggal dulu. Kamu kalau perlu apa-apa, ngomong aja sama bik Ira. Aku udah bilang supaya sering ngeliat kamu disini, sekarang aku berangkat dulu..." kata Firlan yang akan mencium kening Vira tapi wanita itu mendorong bibir Firlan menjauh darinya.


"Kenapa? kamu masih marah? kan kita bukannya udah clear kemarin?" tanya Firlan.


"Bibir kamu ada selai coklatnya, nanti yang ada jidatku lengket!" ucap Vira santai.


Firlan mengambil tisu dan mengelap bibirnya, lalu ia mendaratkan kecupan sayang sebelum pergi keluar dari kamar miliknya, meninggalkan Vira sendirian.


"Hemmmh, sepi..." Vira menyudahi sarapannya.


Vira menaruh piring diatas nakas berikut dengan gelas yang isinya tinggal setengah.


Wanita itu kembali merebahkan tubuhnya, rasanya malas untuk sekedar menapakkan kaki di lantai.


Untuk mengusir kebosanannya, Vira mencoba untuk menelepon ibunya.


"Halo, Ma..." sapa Vira.


"Iya, Maa. Hapenya eror..." kata Vira. Ia terpaksa mengatakan itu karena tidak mau membuat orangtuanya khawatir.


"Syukurlah kalau hanya masalah hape eror, yang penting kamu sehat dan baik-baik aja disana..."


"Vira baik kok, Maa. Mama tenang aja," ucap Vira.


"Oh ya, kamu bisa pulang minggu ini? karena Firlan bilang kalau dia dan ibunya akan datang untuk melamar kamu..."


"Iya, kak Firlan sudah ngomong masalah iti. Nanti Vira pulang kok, Maa..." kata Vira.


"Ya sudah ya, Ma ... Vira tutup dulu," ujar Vira.


"Iya Sayang, jaga diri kamu disana..." kata Dewi.


Dan panggilan pun terputus, Vira menghela nafas panjang. Badannya masih lemas, dia segera meraih obat dan meminumnya. Wanita itu turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat ke arah kamar mandi.


Sedangkan di rumah Gusti, Gia meminta untuk menjenguk Vira lagi.


"Kapan kita jenguk tante Vira, Piiih?" tanya Gia pada sang papi.

__ADS_1


"Tante Vira lagi sakit, dia butuh istirahat. Gia ingin tante Vira cepat sembuh, kan?"


"Huum!" Gia mengangguk.


"Nah, kalau Gia ingin tante Vira cepat pulih, biarkan tante Vira istirahat, oke? Gia mengerti?


"Mengerti, Piiih"


"Bagus, anak pintar!" Gusti mengusap kepala putrinya.


"Katakan, Nak. Papa harus berjuang atau papa menyerah saja? hemph, seandainya papa bisa bergerak lebih cepat..." batin Gusti.


"Papi nggak sarapan?" tanya Gia karena melihat Gusti tak juga menyentuh makanannya.


"Ini papi baru mau makan..." jawab Gusti.


Gusti mulai menyuapkan sedikit demi sedikit makanan ke dalam mulutnya.


Namun pikirannya masih melayang pada sosok Vira. Hingga sanpai di kantor pun Gusti masih memikirkan wanita yang memberikan keceriaan untuk Gia.


"Anda kenapa, Tuan? wajah anda terlihat begitu suntuk," tanya Andra yang melihat bosnya, heran.


"Jangan tertawa, Ndra. Kepalaku sedang pusing..." kata Gusti.


"Anda pusing kenapa? jarang sekali anda mengeluh, Tuan..."


"Entahlah, Ndra..." sahut Gusti sembari mengecek laporan yang disodorkan asistennya itu.


Andra sangat paham petilaku bosnya yang tidak mudah mengeluh mengenai pekerjaan. Walaupun keadaan perusahaan naik turun, tapi Gusti selalu tenang menghadapinya. Tapi kali ini ia melihat bosnya terlihat sedang banyak pikiran, sedangkan perusahaan dalam kondisi baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Ndra, untuk jadwal besok apakah ada pertemuan penting?" tanya Gusti.


"Sepertinya tidak ada, Tuan..."


"Kalau begitu, besok saya mau istirahat. Sepertinya saya butuh penyegaran..." kata Gusti.


"Baik, Tuan..." sahut Andra.


Andra kemudian pergi dengan membawa beberapa file di tangannya. Sedangkan Gusti menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.


"Apa kamu benar-benar mencintainya? apakah masih ada kesempatan untuk aku dan Gia bahagia bersama kamu, Vir? aku mencoba lupa, tapi nyatanya aku malah semakin ingat," lirih Gusti.

__ADS_1


__ADS_2