Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Pamit


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Firlan.


"Nggak, aku cuma mau bilang kalau mama udah masak," ucap Vira.


"Tapi aku masih kenyang," kata Firlan.


"Ya makan dikit kek apa gimana, kasian mama udah capek-capek masak buat kita..."


"Ya udah. Aku mau mandi dulu, nanti aku nyusul ke meja makan..." ucap Firlan.


"Tapi jangan kelamaan!" kata Vira seraya menutup pintu.


"Astaga, sekarang dia cerewet sekali!" gerutu Firlan yang sekarang beneran pergi ke kamar mandi.


Sedangkan Vira kembali menemui Dewi yang sedang menata mrja makan.


"Banyak banget masaknya, Ma..." kata Vira.


"Ya kan kayak gini aja masakannya, ini juga tadi mama minta dikirimin dari resto kita. Yang mama masak hanya cumi saos padang aja," kata Dewi.


"Papa mana, Ma?" tanya Vira.


"Di kamar, nanti mama panggilin sekalian mama mau ganti baju. Nih bau masakan..." ucap Dewi.


"Firlan bikinin minuman, Sayang..." ucap Dewi yang melepas celemeknya.


"Kalau makan bagusnya minum air putih aja, Ma buat netralisir rasa di lidah..." kata Vira.


"Ya sudah, mama mau ke kamar, kamu siapin piring ya?" ucap Dewi.


"Siap, Mah!"


Setelah Dewi pergi, Vira segera menyiapkan piring oval putih dari rak piring. Vira melongok, Firlan belum juga datang.


"Mandinya lama banget!" ucap Vira.


Vira menarik kursi dan duduk menunggu orang- orang muncul. Tak berapa lama, Firlan muncul dengan outfit casualnya. Pria itu terlihat sangat segar.


"Om sama tante mana?" tanya Firlan dia duduk disamping Vira.


"Ada di dalem, bentar lagi juga kesini..." ucap Vira.


"Makan dikit aja, jangan sampai nggak makan. Nggak enak nanti sama mama," lanjut Vira.


"Iya iya, sekarang kamu udah balik lagi jadi cerewet, ya?" Firlan menarik pipi Vira.


"Ih, suka banget narik pipiku. Tambah tembem nanti!" Vira mengusap pipinya.


"Nggak akan!" Firlan terkekeh.


"Wah, semua sudah mandi ternyata," ucap Raharjo yang tiba-tiba saja muncul.


"Iya, Om!" ucap Firlan.

__ADS_1


"Sudah sore begini, lebih baik kalian pergi setelah magrib saja," ucap Raharjo.


"Kata orang dulu, pamali pergi saat senja..." lanjutnya lagi.


Firlan mengecek arlojinya dan benar saja sekarang sudah jam 5 lewat 15.


"Ya, kalau begitu kita pergi setelah selesai maghrib saja," Firlan.


"Firlan, tante tidak tau kamu suka dengan seafood atau tidak. Tapi kalau kamu tidak makan seafood, ini ada ayam goreng. Ini salah satu menu di restoran kami," ucap Dewi.


"Saya makan apa saja, Tante. Tidak ada pantangan..." ucap Firlan.


"Syukurlah kalau begitu, berarti kamu harus cobain cumi saos padang ini..." kata Dewi seraya menunjuk hasil masakannya.


"Vira ambilkan nasi untuk Firlan!" ucap Dewi.


"Jangan banyak-banyak," bisik Firlan.


"Iyaaaa..." cicit Vira.


Vira pun mengambilkan nasi untuk Firlan, sesuai permintaan pria itu dia hanya mengambilkan sedikit.


"Loh, Vira? kamu ngambilinnya kok cuma sedikit?" tanya Dewi.


"Kak Firlan lagi diet, Ma. Dia habis naik 2 kilo seminggu ini," sahut Vira.


"Masa sih? apa iya, Lan?" tanya Raharjo.


"Segini cukup kan, Ay?" tanya Vira.


"Cukup!" jawab pria yang kini malah salah tingkah.


"Anak muda sekarang, benar-benar memperhatikan penampilan, ya?" ujar Raharjo.


"Iya, Om! penampilan kan menunjang performa dalam bekerja juga. Kalau penampilan oke, kita kerja bertemu dengan client juga pede..." ucap Firlan yang memang selalu memperhatikan penampilannya.


Vira pun mengambilkan lauk ke dalam piringnya dan Firlan.


"Cobain, cumi saos padang, dijamin enak!" kata Vira.


Dan mereka pun menikmati makanan yang ada di dalam piring mereka masing-masing.


Setelah shalat maghrib berjamaah, Firlan dan Vira pun pamit.


"Ma, Pa ... Vira pamit," ucap Vira seraya menyalami kedua orangtuanya begitu juga dengan Firlan.


"Om, Tante, kami berangkat. Terima kasih atas jamuannya," ucap Firlan.


"Hati-hati dan jangan ngebut, Lan..." kata Raharjo.


"Siap, Om! assalamualaikum," ucap Firlan.


"Waalaikumsalam," sahut Raharjo.

__ADS_1


Firlan dan Vira pun masuk ke dalam mobil. Vira menurunkan jendela dan melbaikan tangannya pada Raharjo dan Dewi. Dan mobil pun melaju meninggalkan kediaman orangtua Vira.


"Huuuffhhhh!" Vira membuang nafasnya.


"Kenapa?" tanya Firlan.


"Masih kangen sama mama papa?" tanya Firlan lagi.


"Hu'um..." Vira mengangguk.


"Ya nanti kita sering-sering njenguk mereka disini, udah jangan sedih lagi," ucap Firlan yang seolah seorang suami yang sedang menghibur istrinya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Firlan fokus menyetir sedangkan Vira sesekali membuka hapenya.


Firlan kalau tidak dalam kradaan gebting tidak suka ngebut dijalanan, kecuali jika keadaan yang memang mendesak dan itu pun dengan penuh perhitungan.


"Besok, aku mau perawatan," ucap Vira.


"Boleh, tapi aku nggak bisa nganter. Besok kerjaanku dijamin numpuk, tau sendiri tuan Satya suka nyuruh-nyuruh seenak jidat," kata Firlan.


"Iya nggak apa-apa," sahut Vira.


"Aku perlu beli baju nggak?" tanya Vira lagi.


"Boleh, tapi sebenernya kamu pakai apa aja juga cantik kok," ucap Firlan.


"Berarti kalau aku nemuin ibu kamu pakai daster nggak apa-apa, ya?" ledek Vira.


"Boleh aja, asal kamu berani..." tantang Firlan. Pria itu tertawa saat melihat bibir Vira manyun.


"Kenapa itu bibir pakai manyun-manyun?" tanya Firlan.


"Siapa juga yang manyun?"


"Kamu lah, siapa lagi? kan di mobil ini cuma kita berdua, emang ada siapa lagi? setan?" ucap Firlan.


.


.


.


Sedangkan di dalam pesawat. Gia tertidur pulas di samping Gusti.


"Semoga hari ini cukup mengobati rasa kecewa kamu terhadap papi," batin Gusti.


Pria itu pun mengelus kepala sang putri. Gusti sangat menyayangi Gia, dan dari sekian tahun bersama putrinya baru kali ini Gia begitu dekat dengan orang lain selain dirinya dan juga orang rumah.


"Kenapa kamu sangat menyukai Vira, Gia?" gumam Gusti dalam hatinya.


Sekarang pandangan Gusti tertuju pada kamera yang kini ada di tangannya. Ia melihat potret dirinya bersama Gia. Gadis itu tersenyum ceria, tapi Gusti bisa melihat ada yang lain dari tatapan Gia di foto berikutnya. Gadis kecil itu melihat ke arah seorang gadis yang di gandenga kedua orangtuanya. Dalam foto itu, jrlas sekali ada sebuah kesedihan di raut wajah Gia. Tapi di foto selanjutnya, gadis cilik itu tersenyum tipis. Gusti hanya bisa menghela nafasnya. Ia tak melanjutkan melihat foto-foto dalam kamera.


"Gia memang membutuhkan sosok seorang ibu, apa aku mulai dekati Vira saja? maksudnya aku lebih mendekatkan diriku dengan Vira, ya walaupun dari awal sebenarnya aku sudah tertarik dengan dia. Dulu aku takut menjalin hubungan dengan wanita karena aku khawatir Gia tidak bisa menerimanya, tapi kali ini sepertinya berbeda. Gia pasti akan sangat senang jika Vira bisa menjadi ibu sambungnya..." Gusti bermonolog dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2