
Hari sudah berganti, Vira tentu sibuk dengan pekerjaannya.
"Baiklah, kelas hari ini sudah selesai, terima kasih dan selamat siang," ucap Vira mengakhiri kelas rajutnya.
"Thank you..." ucap salah satu murid yang memeluk Vira sebelum pergi.
"See you tomorrow..." jawab Vira yang membalas satu persatu pelukan kelima muridnya dan mengantarkan mereka samoai ke depan pintu.
"Hati-hati, ya?" Vira melambaikan tangannya pada anak-anak itu. Wanita itu pun berjalan masuk ke dalam dan membereskan beberapa benang yang masih tercecer.
Dan sebuah panggilan masuk, ia melihat jam di dinding menunjukkan pukul 11 siang.
Buru-buru Vira mengangkat panggilan dari Ricko.
"Haloo, Kak?" sapa Vira pada Ricko.
"Vira jangan lupa datang ke restoran itali, aku sudah share lokasinya..." kata Ricko.
"Baiklah, sebentar lagi aku akan kesana. Aku baru selesai mengajar," kata Vira.
"Apa mau aku jemput?"
"Nggak usah, Kak! aku bisa naik taksi, nggak masalah..." kata Vira.
"Baiklah kalau begitu, Kakak tunggu..."
Dan
Panggilan itu pun berakhir, Vira segera mematikan sambungan telepon.
Sedangkan Firlan dari semalam sama sekali tidak menghubunginya, mungkin dia sangat sibuk pikir Vira. Lagipula lebih baik dia tidak menelepon, karena hari ini dia akan makan siang bersama Ricko dan kekasih dari pria yang pernah mencintainya itu.
"Selesai," kata Vira setelah selesai mengelap meja dan merapikan barang-barang yang ada di sana.
Wanita berambut sebahu itu mencuci tangannya dan memperbaiki riasannya sebelum memesan taksi.
Dan tak berapa lama, taksi datang dan Vira masuk ke dalamnya. Dan kini mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju restoran yang dituju Vira.
Baru juga 5 menit perjalanan, ada panggilan masuk dari seseorang.
"Gusti?" gumam Vira.
"Ya, halo..." sapa Vira setelah mengusap layar ponselnya.
"Halo, Vira. Maaf mengganggu waktumu, tapi..."
"Papiiii..." lirih suara gadis kecil yang sepertinya menginterupsi ucapan Gusti.
"Iya, Sayang ... sebentar, wait a minute, okey?" bisik Gusti pada gadis kecil yang susah dipastikan itu Gia.
"Ehm, Vira ... maaf, kamu ada waktu hari ini? kami ingin mengajakmu makan siang," ucap Gusti.
"Emh, bagaimana ya?"
"Apa kamu sudah ada janji?" tanya Gusti.
"Ya, maaf..."
"Bagaimana Papiiii?" rengek Gia bicara pada Gusti.
__ADS_1
"Sebentar, Sayang..." kata Gusti begitu sabar dengan putri kecilnya.
"Mungkin lain waktu," kata Vira sedikit tidak enak.
"Baiklah, akan aku sampaikan pada Gia, bye Vira..." ucap Gusti sebelum memutuskan sambungan telepon itu.
.
.
Di kantor Gusti.
"Bagaimana, Piih? apa tante Vira mau makan bersama kita siang ini?" tanya Gia sangat antusias.
"Tante Vira sudah ada janji dengan oranglain siang ini, mungkin lain kali kita bisa mengajak tante Vira makan bersama..." kata Gusti, dan senyum mengembang Gia mendadak luntur saat mendengar bahwa dia tidak bisa mengajak tante barunya itu makan sianh bersama.
"Harusnya Papi berikan telepon itu pada Gia, kalau Gia yang minta pasti tante Vira mau," kata Gia cemberut pada sang papi.
"Gia ... kita nggak bisa memaksakan kehendak kita pada seseorang, Gia sudah tahu itu, kan? sepertinya papi sudah sangat sering mengatakan hal ini pada Gia..." ucap Gusti yang memegang kedua tangan mungil gadis yang kini duduk di meja kerjanya dengan kaki menjuntai ke bawah.
"Lagi pula 2 hari lagi Gia kan ada kelas seni clay bersama tante Vira. Jadi Gia bisa main sepuasnya selama beberapa jam dengan tante Vira," ucap Gusti.
"2 hari itu sangat lama, Papiiih..." Gia masih cemberut.
"Bagaimana kalau hari ini kita makan makanan itali, di restoran kesukaan Gia. Bagaimana?"
"Hanya berdua dengan papi?" tanya Gia.
"Iya, hanya berdua..."
"Tanpa Penny?" ucap Gia lagi.
Gusti mengandeng putri kecilnya keluar dari ruang kerjanya dan Penny sang pengasuhnpun segera mendekat saat nona majikannya sudah keluar.
"Penny, aku dan Gia akana pergi berdua. Kamu pulang saja dengan supir, karena saya dan Gia akan makan siang bersama..." kata Gusti pada pengasuh putrinya.
"Baik, Tuan..."
.
.
Sedangkan Vira kini sudah sampai di restoran yang dimaksud Ricko.
"Maaf ini uangnya, Pak!" dia segera membayar ongkos taksi, sebelum membuka pintu mobil.
"Terima kasih banyak, Neng!" kata si supir taksi.
Vira pun melangkah keluar dan melihat penampakan bangunan modern yang sudah dipastikan pelanggan di restoran ini orang yang berduit.
Tapi ketika Vira melangkahkan satu kakinya, menuju restoran itu, ponselnya berdering menampilkan nama Firlan.
"Halo, Ay?" Vira keceplosan.
"Apa tadi kamu bilang?"
"B-bilang apa? nggak ada..." Vira menggigit bibir bawahnya bisa-bisanya dia menyebutkan panggilan sayang mereka dulu.
"Tadi kamu bilang apa? yang tadi itu loh!"
__ADS_1
"Salah denger kali, makanya kuping sering dikorokin biar nggak salah nangkep suara," kata Vira.
"Ada apa?" Vira mengalihkan pembicaraan.
"Kamu udah makan?"
"Baru mau makan," kata Vira.
"Kerjaanku lagi numpuk, padahal aku pengen ngajak kamu makan siang," kata Firlan kecewa.
"Mungkin lain kali," kata Vira.
"Ya sudah, aku lanjut kerja lagi, bye!"
"Bye..." ucap Vira setelah panggilan itu sudah diakhiri.
"Huuuuufhhh, untung aja! lagian mulut nggak ada akhlak, bisa-bisanya keceplosan!" Vira menabok mulutnya sendiri.
Vira pun melanjutkan langkahnya memasuki restoran yang menyajikan makanan khas italia.
"Selamat datang," ucap seorang pelayan.
"Maaf apakah anda sudah reservasi?" tanya pelayan itu.
Namun seketika dia menangkap sosok Ricko yang melambaikan tangan padanya.
"Sudah, teman saya ada disana..." kata Vira menunjuk meja yang ditempati Ricko.
"Silakan, Nona..." kata pelayan itu.
Vira melangkah menuju meja yang sudah di oesan Ricko, pria itu berdiri untuk menyapa Vira.
"Duduklah," kata Ricko mempersilakan Vira untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan dirinya.
"Makasih, Kak. Mana nih yang mau dikenalin sama aku?" goda Vira saat dia dan Ricko sudah duduk dengan nyaman.
"Mungkin sebentar lagi sampai," kata Ricko sambil melihat arloji di tangannya.
"Bagaimana kabarmu gadis kecil?" tanya Ricko pada Vira.
"Haish, jangan panggil aku dengan sebutan itu apalagi di depan calon kakak iparku..."
"Hahaha, baiklah. Jadi bagaimana kabarmu?"
"Cukup baik, Kak.. " jawab Vira.
Tak lama seorang pelayan datang membawa buku menu.
"Silakan, Tuan Nona..." ucap pelayan itu sembari menyodorkan buku menu pada Ricko dan Vira.
"Pesanlah apa yang kamu inginkan," ucap Ricko yang juga membuka buku menu.
"Apa kita ngga menunggu..." ucapku menggantung.
"Setidaknya pesanlah minuman, tenggorokan kita bisa kering kalau harus menunggu dia datang..." seloroh Ricko.
Namun tanpa Vira sadari ada seorang perempuan dengan pakaian modisnya dari arah belakang Vira.
"Maaf, jalanan macet, Honey!" ucap seorang perempuan pada Ricko, yang sepertinya tak asing di telinga Vira.
__ADS_1