Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Susah Dikode


__ADS_3

"Aaarrrrkhh, dasar wanita sialaaan! beraninya dia melakukan ini!" Vanya keluar dari fitting room.


"Heh, sini kamu! bantu aku melepaskan ikatan ini!" Vanya memanggil seorang pegawai butik untuk membantunya melepaskan ikatan tali yang ada di punggungnya.


"Baik, Nona!" kata pegawai itu.


Dan satu persatu ikatan tali pada gaun berwarna hitam itu pun terlepas, Vanya bisa bernafas lega.


"Sekarang kau boleh pergi!" ucap Vanya mengusir pegawai butik dari fitting room.


"Beraninya dia mengerjaiku, awas saja. Akan aku balas, nanti!"


Sementara di dalam mobil Vira senyam-senyum tidak jelas, bahkan dia tertawa saat melihat wajah kesal Vanya.


"Kenapa kamu, Vira?" tanya Firlan yang heran dengan sikap Vira yang sepertinya sangat senang.


"Nggak apa-apa. Oh, ya ini dompet kamu..." Vira mengembalikan dompet milik Firlan.


"Pegang dulu, aku lagi nyetir. Oh, ya ... hari ini kita nonton dulu. Ada film bagus," kata Firlan.


"Aku capek,"


"Kan disana cuma duduk, emang di dalem bioskop kamu ngapain? nyuci piring, kan nggak Vir!" kata Firlan.


"Iya iya, deh! tapi nggak mau horor, takut!" kata Vira. Karena Firlan sulit banget buat dibantah, sikapnya yang dominan membuat Vira kurang bergerak bebas.


"Itung-itung ngerayain tumbangnya satu saingan!" batin Firlan.


"Vira..." panggil Firlan, ia melirik sekilas pada wanita yang sangat dicintainya sambil tetap fokus pada jalanan.


"Viraaaa..." Firlan memanggil nama Vira lagi.


"Iyaaaaaaa, kenapa ih?" Vira sewot.


"Gimana udah dapat pegawai baru?" tanya Firlan.


"Udah, 2 orang..." jawab Vira irit.


"Terus?"


Tiba-tiba ponsel Vira berdering.


"Ssst diem dulu, Amartha nelfon!" kata Vira menyuruh Firlan mengunci mulutnya rapat-rapat.


"Haloooo," sapa Vira saat panggilan terhubung.


"Vira, kamu bisa ke rumah nggak? aku ada banyak oleh-oleh, cuma aku nggak tau kamu suka yang mana, jadi kamu kesini aja ya. Milih sendiri..."


"Asiiik, oleh-oleh dari turki, ya? nanti sore aku kesana..." kata Vira bersemangat.


"Ya udah, pokoknya kamu kesini, ya? awas kalau nggak. Evren juga kangen sama kamu," ucap Amartha.

__ADS_1


"Iya iyaaaaa, nanti aku kesitu, oke! ya udah ya bye..." Vira memutuskan panggilan dengan Amartha.


"Emang kalau rejeki nggak kemana, tadi dapet gaun gratis. Ini dapet oleh-oleh dari turki, senangnya diriku!" batin Vira.


"Mau ke rumah tuan Satya?" tanya Firlan.


"Yups, nanti sore mau ngambil oleh-oleh..." kata Vira yang kemudian memasukkan ponsel ke dalam tas.


"Kita makan dulu, ya. Setelah itu baru nonton," kata Firlan yang merasa sangat lapar.


"Ya boleh, deh! kan tadi ada yang main nyomot makananku!" kata Vira sinis.


"Iya, makanya ini aku ganti makanannya dengan yang lebih enak. Kamu boleh makan sepuasnya, itung-itung biar badan kamu lebih berisi, biar lebih empuk!" kata Firlan.


"Ck, kasur kali empuk!" Vira melihat Firlan tidak suka.


Tak lama, mobil Firlan oerlahan masuk ke dalam basement sebuah mall terbesar di kota itu. Pria itu mematikan mesin mobilnya.


Firlan membuka sabuk pengamannya dan sebelum dia keluar, Vira menarik lengannya.


"Dompet," Vira menyodorkan dompet milik Firlan.


"Kamu yang pegang, itung-itung belajar jadi istri. Duitku kan duit kamu juga," kata Firlan yang kemudian keluar dari mobilnya.


"Lagian siapa juga yang mau jadi istri kamu!" gumama Vira yang memasukkan dompet Firlan ke dalam sakunya.


Pria itu berjalan memutar untuk membukakan pitu untuk Vira.


"Ini orang kerasukan setan mana, sih? nggak jelas banget dari tadi!" gumam Vira dalam hatinya.


Firlan menggandeng tangan Vira dengan satu tangannya.


"Nggak usah pakai acara gandengan juga keles! emangnya kita mau nyebrang jalan?" Vira berusaha melepaskan tangan Firlan.


"Biar kamu nggak ilang!"


"Emangnya aku bocil apa?" gerutu Firlan.


"Oke deh, biar nggak kayak bocil..." Firlan menarik Vira mendekat padanya, ia merangkul bahu wanita itu.


"Iishhhh, tolong tangannya dikondisikan yaaaa, Pak!"


"Diem, Vira. Katanya nggak pengen dikira bocil, kamu yang konsisten dong, Vira!" ucap Firlan, sambil menyembunyikan senyumannya. Pria itu tetao saja memandang lurus ke depan sementara Vira tak bisa menyingkirkan tangan itu dari pundaknya.


Setelah berjalan 5 menit, mereka masuk ke dalam sebuah restoran.


"Selamat datang, Tuan Nona..." ucap pelayan saat menyambut kedatangan sejoli yang nampak serasi dari luar.


Pelayan tadi menunjukkan meja yang masih kosong, Firlan menarik satu kursi untuk Vira.


"Duduklah," kata Firlan.

__ADS_1


Kemudia ia menarik kursi yang lain untuk ia duduki, berhadapan dengan si wanita.


"Silakan, Tuan ... Nona, mau pesan sekarang atau..." ucap pelayan itu sambil menyerahkan buku menu pada Vira dan Firlan.


"Langsung saja..." Firlan menunjuk makanan apa saja yang ia pesan.


"Kamu mau pesan apa, Sayang?" tanya Firlan sok romantis.


"Sayang sayang pala lu peyang!" gerutu Vira dalam batinnya.


"Samain aja, aku minumnya jus semangka..." ucap Vira yang menutup buku menu dan menyerahkannya pada pelayan.


"Baik, silakan ditunggu. Permisi..." kata pelayan tadi yang kemudian meninggalkan meja dua sejoli yang habis ini pasti cakar-cakaran.


Vira melihat Firlan dengan tatapan sinisnya.


"Kenapa? kok melotot gitu?" tanya Firlan.


"Jangan panggil aku sayang, aku nggak suka..."


"Oh, baiklah istriku..." ucap Firlan sambil menaik turunkan alisnya. Sementara Vira memilih no comment daripada semakin jengkel mendengar kata yang keluar dari mulut Firlan.


"Jangan marah-marah mulu, nanti cepet tua. Aku masih tampan begini, masa punya istri mukanya udah kayak nenek-nenek peyot?" ucap Firlan.


"Suka kebalik ya Pak Firlan nih kalau ngomong! bukannya situ yang suka marah-marah nggak jelas?" sindir Vira.


"Kan sekarang udah nggak, lagian kalau kamu nggak bandel kan aku nggak marah. Hati aku itu kan selembut salju..." Firlan menyentuh dadanya sendiri. Dia bisa membayangkan betapa kesalnya Vira, Firlan hanya bisa menahan tawanya melihat wajah masam Vira.


"Dari dulu nggak berubah, kalau ngambek muka kamu lucu banget, Vira!" batin Firlan.


Dan tak lama pesanan mereka datang. Vira malas menanggapi omongan Firlan. Lebih baik dia makam saja, perutnya juga sudah lapar gara-gara makan berbagi dengan Firlan di tempat les miliknya.


"Kamu makan yang ini, steak-nya udah aku potongin..." ucap Firlan yang menukar piringnya dengan piring milik Vira.


"Hem..." Vira hanya berdehem.


"Vira..." Firlan memanggil belahan jiwanya.


"Hem..." Vira hanya menjawab dengan deheman.


"Sampai kapan kamu mau menggantung hubungan kita? keburu Evren punya adik loh, Vir!" kata Firlan yang menyebut anak dari bosnya yang sudah berusia lebih dari 1 tahun.


"Ya biarin, kalau Evren mau punya adik juga. Kenapa kamu yang repot?" ucap Vira.


"Astaga, nggak bisa banget dikode nih si Vira!" batin Firlan meronta.


"Ya aku juga pengen punya anak dari kamu!" Firlan gregetan.


"Ya udah tinggal bikin," celetuk Vira.


"Eh, gimana gimana?" lanjut Vira yang baru sadar kalau dia salah ngomong.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2