Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Putri Kecil


__ADS_3

Gusti duduk di sebelah Gia. Dia melihat bagaimana Vira menjadi tutor untuk anaknya.


"Papi sana pergi..." ucap Gia yang menghentikan permainan warnanya.


"Kenapa?" tanya Gusti.


"Nggak apa-apa hanya aneh kalau papi disini, kan papi biasanya di kantor..." kata Gia.


"Kan papi juga ingin sekali-kali nemenin Gia ngelukis, ternyata asik juga ya? papi jadi ingin belajar juga," kata Gusti yang melihat Gia dengan senyumannya.


"Papi udah gede, masa mau main-main seperti ini? papi ada-ada aja," ucap Gia.


"Ayo, lanjutin lagi. Kan papi pengen liat perkembangan Gia. Lukisan Gia bagus itu papi ingin tau juga prosesnya," ucap Gusti.


"Terserah papi aja lah," kata Gia yang sudah menyerah mengusir papinya.


"Pakai roller ini, Gia untuk dapetin teksturnya..." kata Vira yang menyuruh Gia untuk menggunakan alat yang ada di tangannya.


"Gia ingin melukis apa, sih? ini seperti rumput ya?" tanya Gusti.


"Papi jangan berisik!" ucap Gia.


Gusti kini membungkam tangannya dengan tangan supaya tidak mengganggu sang putri menyelesaikan lukisannya. Gusti menebak, Gia masih ingin membuat padang rumput yang hijau dan di terangi langit senja.


"Kasih warna oranye sebelah sini..." kata Vira menunjuk satu bagian kanvas yang belum di cover warna.


Fokus Gusti sekarang bukan pada lukisan Gia tapi pada wajah Vira yang cantik dengan make up flawless nya.


"Kamu itu cocok banget jadi maminya Gia, Vira..." batin Gusti.


Merasa ada yang memperhatikannya, tiba-tiba Vira melihat ke arah Gusti dan pandangan mereka bertemu.


Vira langsung mengalihkan pandangannya dan melanjutkan untuk melukis bersama Gia. Gadis kecil ini sangat senang jika sudah berurusan dengan warna.


"Wah, bagusnya..." puji Gusti.


"Pastilah, kan tante Vira yang ngajarin..." kata Gia yang masih memberikan sentukan burung-burung kecil yang beterbangan di langit.


Akhirnya lukisan seorang anak gadis yang berdiri memandang ke arah langit sore itu pun selesai.


"Wah ini pasti Gia, ya?" kata Gusti.


"Iya dan ini papi..." ucap Gia yang menunjuk sebuah pria yang berdiri di samping gadis kecil itu.


"Wah, papi yang ganteng dengan putri kecil yang cantik! lukisan ini harus di pasang di ruang keluarga..." lanjut Gia.


"Boleh, Sayang. Kamu mau pasang dimana pun bebas..." kata Gusti.


"Sekarang Gia cuci tangan, ya?" ujar Vira.

__ADS_1


"Kamar mandinya sebelah sana, Vir..." Gia menunjuk sebuah pintu.


"Oke, ayo Gia..." ajak Vira.


Vira mengajak Gia pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya yang sempat terkena cat.


"Cuci tangan dulu, ya? biar bersih tangannya..." ucap Vira sembari membasahi tangan Gia dengan sabun kemudian dia membilasnya di bawah air mengalir.


Vira mengeringkan tangan kecil itu dengan tisu yang ada disana dan mengajak Gia kembali ke tempat tadi ia melukis bersama Gia.


"Mas Gusti kok nggak pergi-pergi sih?" tanya Vira dalam hatinya.


Vira duduk lagi dan berniat untuk membereskan peralatannya.


"Aku bantu..." ucap Gusti.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku bisa sendiri, kok!" ucap Vira.


"Nggak apa-apa, kamu kan juga capek habis ngajarin Gia dan udah rela jauh-jauh datang kemari buat memenuhi permintaanku," ucap Gusti.


"Selama aku bisa, dan ini kan memang jadwal ngajar aku buat Gia..." kata Vira.


Dan akhirnya Vira dibantu Gusti membereskan peralatannya. Gia hanya duduk melihat papanya melipat meja kecil dan menaruhnya ke tempat semula. Sedangkan Vira mendekat ke arah Gia dan duduk di samping gadis kecil itu.


"Sayang, sesi paintingnya udah selesai. Tante Vira ijin pulang, ya?" Vira mengelus kepala Gia.


Vira menatap Gusti, dan pria itu hanya memberi kode jika Vira sebaiknya menuruti keinginan Gia. Dan sebenarnya dia juga masih ingin berlama-lama bersama Vira juga.


"Ya udah, tapi nanti sore tante ijin pulang ya?" ucap Vira, Gia mengangguk senang.


"Papiii papi! oleh-oleh yang dari singapore mana? kan Gia belum ngasih tante Vira!" tanya Gia pada sang papi.


"Sebentar. kayaknya papi taruh disini deh!" Gusti segera berjalan ke arah salah satu sudut ruangan dekat dengan lemari Gia dan membawa beberapa papper bag.


Gusti menaruhnya di bawah dan Gia mengajak Vira untuk duduk di sampingnya.


Guati mengeluarkan berbagai macam barang yang Gia beli.


"Ya ampun kamu brlanja sebanyak ini Gia?" tanya Vira yang melihat berbagai macam barang oleh-oleh khas negara tersebut.


"Iya, kan papi yang nawarin. Iya kan, Pi?" ujar Gia.


"Iya, Sayang. Memang papi yang ngebolehin Gia buat memborong oleh-oleh..." kata Gusti.


"Gantungan kunci ini lucu, dan pasti tante suka!" kata Gia yang menberikan satu gantungan kunci berbentuk singa.


"Ya, tante pasti suka apaoun yang Gia kasih..." ucap Vira.


Dan Gia pun memberikan banyak sekali oleh-oleh untuk Vira. Dari makanan sampai berbagai macam barang, Vira tak diperbolehkan Gusti untuk menolak pemberian Gia, karena hal itu bisa membuat hati gadis kecil itu kecewa.

__ADS_1


"Bukankah ini terlalu banyak, Gia?" tanya Vira.


"Tidak, tante! ini hanya sedikit!" ucap Gia.


"Selama bermain disana, dia inget terus sama kamu, Vira.." ucap Gusti.


"Oh, ya? memangnya Gia inget terus sama tante?" tanya Vira.


"Iya kan Gia sayang sama tante..." jawab Gia.


Cukup lama Vira menemani Gia sampai akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.


"Masih ada waktu buat perawatan!" batin Vira.


"Gia, ini sudah sore, jadi tante Vira pulang ya? Gia juga harus istirahat, Gia pasti capek..." ucap Vira.


"Iya, tante..." sahut Gia.


Vira bernafas lega karena Gia sudah memperbolehkannya untuk pulang.


"Terima kasih ya oleh-olehnya..." kata Vira yang kini sudah berdiri dan menenteng satu paper bag dari Gia dan papper bag satunya labgsung diambil alih Gusti.


"Biar aku yang bawa," kata Gusti.


"Papi antar tante Vira ke bawah ya?" ucap Gusti.


"Gia ikut..." Gia mebarik jari kelingking papi nya.


Akhirnya Gusti menggandeng Gia keluar dari kamar itu dan diikuti Vira. Dan ketika berada di ruang tengah, Gusti melihat Penny.


"Gia dengan Penny dulu, ya? papi mau antar tante Vira pulang..." ucap Gusti.


Kali ini Gia menurut, Gia berjalan ke arah Penny.


"Aku mau mandi!" ucap Gia pada Penny.


"Dadah tante!" Gia melambaikan tangan pada Gia. Vira pun membalas lambaian tangan Gia.


"Ayo," ajak Gusti, pria itu menyentuh punggung Vira.


"Aku pulang sendiri aja, Mas!" ucap Vira.


"Ini sudah sore, Aku antar saja. Ayo!" Gusti kini menggandeng tangan Vira untuk berhalan mengikutinya.


"Lah aku kan mau mampir dulu, gimana nih?" batin Vira.


"Mas, Aku mau mampir ke tempat lain dulu soalnya..." ucap Vira pada Gusti yang kini sudah membukakan pintu mobil.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2