Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Bosan


__ADS_3

Siang ini Firlan tidak pulang, bahkan dia bilang kalau dia akan pulang terlambat. Vira mengerti, salah satu resiko pekerjaan sebagai seorang asisten CEO. Wanita itu kini menikmati makan malamnya sendirian di dalam kamar. Seharian ini dia hanya makan, tidur, mandi dan sesekali nonton tivi.


"Aih, membosankan!" Vira tak begitu selera untuk makan. Bukan karena makanannya tidak enak, tapi lidahnya sepertinya belum terkoneksi dengan baik.


Dia hanya ingin sesuatu yang menyegarkan seprti buah atau puding.


Bik Ira yang sudah diberi amanat untuk menjaga Vira pun kini mencoba mengetuk pintu untuk mengetahui, apakah wanita yang dibawa majikannya ini sudah makan atau belum.


Tok.


Tok.


Tok.


"Ya, masuk!" seru Vira sembari meletakkan piring di atas nakas.


Perlahan pintu terbuka, sosok bik Ira kini mulai terlihat.


"Malam, Neng..." ucap bik Ira yang masuk dan menutup pintunya lagi.


"Ada apa, Bik?"


"Nng sudah selesai makan malam?" tabya bik Ira.


"Sudah, Bik. Itu piringnya..." tunjuk Vira pada piring yang tergeletak di atas nakas.


Bik Ira mendekat dan melihat nasi yang ada di piring masih banyak.


"Loh, Neng? kok makanannya tidak habis? apa Neng tidak suka dengan makanannya?"


"Bukan, Bik. Bukannya nggak suka, cuma lidah saya rasanya belum kembali seperti semula. Mungkin efek minum obat, jadi saya sedang kirang berselera makan..." jawab Vira yang takkut bik Ira tersinggung.


"Saya kira makannya tidak enak, Neng. Neng Vira ingin makan yang lain? nanti bibik buatkan, karena Den Firlan bilang kalau saya harus menjaga Neng selama disini..." jata bik Ira.


"Kalau ada buah sih buah aja, Bik..." kata Vira.


"Buah? ya sudah, saya ke dapur dulu. Saya ambilkan buah potongnya..." kata bik Ira sambil membawa piring dan gelas dan menaruhnya di atas nampan.


"Nanti saya segera kembali, Neng permisi..." ucap bik Ira.


"Iya, Bik..." Vira yang sedang duduk dengan punggung yang disanggah bantal pun mengalihkan pandangannya ke layar televisi.


Tak lama bik Ira kembali dan masuk ke dalam kamar yang kini ditempati Vira.


"Ini buahnya, Non..." bik Ira membawa sebuah toat berbentuk persegi yang berbagai macam buah yang dipotong.


"Makasih ya, Bik. Bik Ira disini aja, temenin saya..." kata Vira yang melihat bik Ira berdiri di samping ranjangnya.


"Aduh bagaimana ya, Neng..."


"Disini aja, Bik. Temenin saya makan..." ucap Vira dengan mata yang penuh harap.


"Baiklah, Neng..." jata bik Ira yang kasihan dengan wanita yang terlihat baru sembuh dari sakitnya.

__ADS_1


"Ambil kursi aja, Bik ... geser aja kesini," tunjuk Vira pada sebuah kursi yang ada di kamar itu.


Bik Ira menurut saja dengan apa yang diinginkan Vira. Dia menarik kursi dan menempatkannya di samoing ranjang Vira.


"Duduk dong, Bik ... pegel nanti kakinya kalau berdiri terus..." kata Vira.


Bik Ira pun duduk dengan sedikit rasa sungkan. Ia belum tahu ada hubungan apa majikannya dengan wanita yang sedang memasukkan buah potong ke dalam mulutnya itu, tapi yang jelas majikannya terlihat sangat menyayangi wanita itu. Terbukti saat dia berpesan kalau harus sering meihat kondisi wanita yang baru pulang dari rumah sakit itu.


Sedangkan di tempat lain, Firlan sedang di tempat ibunya. Dia sudah menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan acara lamarannya.


"Memangnya kamu benar-benar mencintainya?" tanya Ratna.


"Tentu, Bu. Kalau nggak, mana mungkin aku ingin menikahinya?" jawab Firlan.


"Ya barangkali kamu berubah pikiran, Lan! masih ada waktu..."


"Nggak, Bu. Aku udah yakin sama pilihanku ini..." ucap Firlan sembari menatap perhiasan yang akan dia berikan pada Vira nanti, lalu menaruhnya kembali.


"Ya sudahlah," kata Ratna.


"Ibu juga nanti akan menyukainya, dia wanita yang baik. Nggak ada manusia yang sempurna, tapi aku yakin aku dan Vira bisa saling melengkapi satu sama lain," kata Firlan.


"Ya terserah kamu saja!" kata Ratna.


"Aku rasa semuanya sudah kita beli, jadj sekarang Firlan ijin pulang, Bu..." kata Firlan seraya bangkit dari duduknya.


"Sudah malam, apa kamu tidak menginap saja disini?"


"Banyak pekerjaan yang harus aku urus pagi-pagi, Bu..."


"Aku pamit, Bu. Ibu jangan lupa istirahat,"Firlan menyali ibunya.


"Jangan ngebut kamu, Lan!" Ratna memperingatkan anaknya.


"Siaaaaap!" seru Firlan sembari berjalan keluar.


Pria itu kini sudah lebih tenang karena dia sudah mempersiapkan semua yang diperlukan untuk melamar pujaan hatinya. Meskipun akhirnya dia harus meninggalkan Vira seharian ini di rumah. Sepanjang perjalanan pria itu nampak menyunggingkan senyumnya, dia tidak menyangka penantiannya akan segera berakhir. Rencananya dia ingin segera menentukan tanggal pernikahannya, dia tidak ingin Vira nanti akan berubah pikiran.


"Ayamku udah makan belum, ya?" Firlan melihat arloji di tangannya.


"Jam 9 malam, ada bik Ira di rumah pasti Vira sudah makan lah, kecuali dia dikontrakan bisa jadi dia nggak makan seharian..." Firlan bicara sendiri.


Hari ini dia merasa sangat lelah dan ingin segera sampai di rumah. Beruntung malam ini kendaraan tak sepadat biasanya, pria itu sekarang memperlambat laju kendaraaannya dan berbelok memasuki pelataran rumahnya dan memarkirkan mobilnya di garasi.


Pria itu berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Eh, Den Firlan..." bik Ira kaget dengan kemunculan Firlan yang tiba-tiba.


"Vira sudah makan atau belum, Bik?" tanya Firlan.


"Baru makan buah, Den. Tadi saya tawari makanan tapi neng Viranya lagi nggak selera..." jawab bik Ira.


"Ya sudah, biar nanti saya yang bujuk makan. Buatkan saya minuman dingin ya, Bik..." kata Firlan.

__ADS_1


"Baik, Den..."


Firlan pun naik ke kamar atas, kamar miliknya yang sedang ditempati Vira untuk sementara waktu. Pria yang masih memakai setelan kerjanya itu perlahan membuka pintu kamarnya.


Dia melihat Vira tidur menyamping. Firlan perlahan mendekati wanita yang menutup setengah badannya dengan selimut.


"Sudah tidur?" gumam Firlan.


Dia mengecup pucuk kepala wanutanya dan mengelusnya sebentar. Merasa ada yang menyentuhnya, Vira pun perlahan membuka matanya. Karena memang Vira baru saja terlelap dan belum begitu nyenyak.


"Emmmh, Ay?" Vira mengerjap beberapa kali. Dia berbalik dan kini menghadap kekasihnya.


"Sorry, ganggu ya?" ucap Firlan yang duduk di tepi ranjang.


Firlan melonggarkan dasinya dan melepas jasnya dan ia meletakkannya di kursi yang ada di dekat ranjangnya. Firlan memandang kursi yang berada di tempat yang seharusnya.


"Oh itu tadi buat duduk bik Ira, nemenin aku disini. Abisnya aku kesepian nggak ada orang..." ucap Vira.


"Maaf ya, aku lagi banyak kerjaan..." Firlan kini melepas kancing kemejanya dan kini menggulung kemejanya itu sebatas siku.


Vira bangun dan menyentuh dasi kekasihnya. Dia melihat gurat lelah yang sangat kentara di wajah pria yang ada di depannya.


"Iya nggak apa-apa, lagian dari kantor kamu kesini kan jauh banget..." Vira melepaskan dasi dari leher Firlan.


"Nggak sekalian?" tanya Firlan.


"Apanya?"


"Bukain kacing..." ucap Firlan.


"Dih, maunya!"


"Ini loh, satu kancing di leher, kan tanggung ... biar legaan dikit!" kata Firlan.


"Kirain..." cicit Vira.


"Makan yuk? kamu belum makan, kan?" tanya Firlan.


"Nggak tau, lagi nggak enak, Ay..." kata Vira.


"Kamu baru keluarbdarj rumah sakit, kamu harus makan yang bener! nanti sakit lagi, mau?"


"Iya iya, ih..." Vira menyibak selimutnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Firlan.


"Mau makan," kata Vira.


"Bisa turun ke bawah? atau dianter aja kesini?" tanya Firlan.


"Di bawah aja, bosen disini..." kata Vira.


"Ya sudah, aku mandi bentar. Tunggu aku di meja makan, aku turun bentar lagi. Kecuali kamu mau nungguin di kamar ini," ucap Firlan.

__ADS_1


"Nggak deh, makasih. Aku turun aja," kata Vira seraya meninggalkan Firlan yang tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat Vira yang kabur dari kamarnya.


...----------------...


__ADS_2