
Setelah menghabiskan pizza dengan ukuran besar. Vira pun sekarang sedang berada di jendela, melihat keindahan kota di malam hari.
Tak lama Firlan datang dengan memegang gelas yang berisi iced cofee dan menaruhnya di meja. Pria itu menghampiri Vira dan memeluk kekasihnya dari belakang.
"Nginep disini aja ya, Ay? besok baru aku anterin pulang..." ucap Firlan.
"Mana boleh begitu!" ucap Vira yang samar melihat pantulan dirinya yang di jaca sedang di peluk Firlan.
"Ya boleh aja lah, Ay..." Firlan membenamkan wajahnya di ceruk leher Vira.
"Nggak boleh, Ay. Kita belum nikah, takut ada setan lewat!"
"Setan? disini aman kok, nggak ada setan. Aku udah lama tinggal disini, dan nggak pernah diganggu makhluk seperti itu..." Firlan semakin mengeratkan pelukannya, seakan ia tak mau kehilangan sosok wanita yang kini berkuasa di hatinya.
"Bukan setan itu," Vira berbalik dan sekarang tangan Firlan menahan pinggang wanitanya, agar tak jauh darinya.
"Terus setan apa?"
"Setan yang ada disini dan disini..." Vira menunjuk pelipis dan dada Firlan.
"Pikiran aku? aku nggak ada niat jahat sama kamu, Ay. Masa kamu curiga sama pacar sendiri?" Firlan memandang Vira dengan tatapan penuh arti.
"Bukan curiga, tapi jaga-jaga aja..." jawab Vira.
"Aku tau kamu nggak bakal aneh-aneh, tapi namanya setan bisa aja mampir saat kita lengah. Aku nggak mau itu sampai terjadi," lanjut Vira.
"Ya deh iya. Malam ini aku anter kamu ke kontrakan," kata Firlan yang melepaskan tangannya dari pinggang Vira dan membimbing wanita itu untuk berjalan ke arah sofa.
"Punya kamu, Ay?" tanya Vira saat melihat satu gelas iced cofee diatas meja.
"Iya," jawab Firlan singkat. Pria itu mendudukkan dirinya di sofa empuk miliknya.
"Aku minta ya?" tanya Vira yang sudah mrngangkat gelas bersiap untuk menyeruputnya.
"Minum aja," jawab Firlan yang kini memijat pangkal hidungnya.
Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini pada seorang wanita, bahkan dengan Andini mantan pacarnya dulu.
Tak bisa dipungkiri, bersama Vira membuatnya kadang lepas kendali. Dia ingin selalu bersama wanita itu, padahal sewaktu pacaran dengan Andini dia selalu sulit untuk meluangkan waktu, sampai akhirnya wanita itu memilih untuk mendua dengan pria yang lain.
"Ay? lagi mikirin apa?" tanya Vira yang duduk sambil menyodorkan iced cofee buatan Firlan.
"Nggak ada. Ya udah, aku anterin kamu sekarang..." kata Firlan.
"Bentar,"
"Katanya tadi mau pulang?" tanya Firlan.
"Iya, pulang tapi setelah mood kamu balik lagi..." kata Vira.
"Minum dulu, nih..." Vira menyodorkan minuman pada Firlan.
__ADS_1
Pria itu menerima gelas dari tangan Vira kemudian meminumnya sampai habis.
"Eebuset, cepet amat minumnya?" Vira mengelap bibir Firlan dengan harinya.
"Udah habis. Aku anterin kamu ke kontrakan sekarang..." ujar Firlan dengan suasana hati yang lebih baik.
.
.
.
Di dalam mobil, Firlan tak banyak bicara. Pria itu tidak sedang kesal dengan Vira, dia hanya sedang memikitkan bagaimana caranya supaya bisa meluluhkan hati sang ibu, agar merestui hubungannya dengan Vira.
"Ay ... kok diem aja? marah sama aku?" tanya Vira.
"Nggak, kenapa aku harus marah sama kamu?" tanya Firlan.
"Ya nggak tau. Mungkin karena aku yang nggak mau diajak nginep di apartemen kamu," ujar Vira
"Nggak, aku nggak marah soal itu kok. Memang kita harus menjaga diri, kamu udah bener kok..." kata Firlan, namun melohat sikap Firlan yang begini malah membuat Vira berpikir kalau Firlan sebenarnya kesal tapi dia berusaha menahannya.
"Akhir-akhir ini sedang banyak tindakan kejahatan, jangan lupa selalu kunci pintu, jendela dan juga pagar. Kalau ada yang mencurigakan jangan panik dan segera telfon aku. Kamu mengerti?" tanya Firlan.
"Iya Ay..."
"Oh ya, jangan bukain pintu buat orang yang nggak dikenal. Sebenernya aku pengen kamu tinggal di apartemenku atau di rumahku supaya kamu lebih aman, daripada harus tinggal di kontrakan sendirian. Tapi pasti kamu nggak mau, iya kan?" kata Firlan.
"Ya karena kita belum sah, Ay..." kata Vira.
"Iyaaaaaaaa, Aaaay..." jawab Vira.
Tak lama mereka pun akhirnya sampai di pelataran kontrakan Vira.
"Aku langsung pergi, jangan lupa kunci pagarnya..." kata Firlan setelah Vira keluar dari mobilnya.
"Iya, iya aku kunci kok. Ya udah aku masuk ya?" kata Vira seraya membuka pintu gerbang dan segera menguncinya.
Setelah memastikan Vira masuk ke dalam rumah, barulah Firlan menancapkan gasnya kembali ke apartemennya.
Vira yang sudah ngantuk pun segera mengganti pakaiannya dan berbaring di ranjang.
Dan tak butuh waktu yang lama, wanita itu segera terlelap menggapai dunia mimpi.
.
.
.
Pagi menjelang, sang mentari sudah menyapa mereka yang terbiasa bangun pagi.
__ADS_1
"Hoaaaammmm!" Vira meregangkan badannya sebelum beranjak dari tempat tidurnya. Namun ia merasa sedikit nyeri di bagian perutnya. Dan setelah mengecek ke kamar mandi ternyata dia sedang menstruasi hari pertamanya.
Vira mencari dimana ia membeli roti jepang yang biasa ia gunakan.
"Astaga, kok ya aku beli yang ini? kok aku belinya penti sih?" ucap Vira saat melihat yang ada di tangannya bukan barang yang semestinya ia beli.
Vira masih terus mencari sambil memegangi perutnya, " Ketemu juga, lumayanan nyempil satu!" ucap Vira setelah menemukan barang yang ia cari.
"Pantesan perut rasanya nggak karuan!" gumam Vira yang kembali ke ranjangnya.
Wanita itu masih bermalas-malasan, dia membuka ponselnya terlebih dulu sambil mengumpulkan tenaga.
Dan satu senyuman terbit kala melihat sebuah pesan dari kekasihnya.
"Bangun jam berapa dia? pagi-pagi udah ngechat!" gumam Vira.
Dan beberapa saat kemudian Firlan menghubunginya.
"Pagi, Ay!" sapa Vira saat panggilan Firlan sudah ia angkat.
"Pagi, baru bangun?" tanya Firlan.
"Iya..." jawab Vira lemas.
"Kenapa? kamu sakit?"
"Hu'um, eh maksudku nggak. Hanya perutku lagi nyeri..." kata Vira.
"Ya berarti kamu lagi sakit. Apa perlu ke rumah sakit?" tanya Firlan.
"Nggak usah, paling juga ntar sembuh sendiri. Nggak usah khawatir. Hanya saja..." ucap Vira menggantung.
"Hanya apa? apa ada yang kamu butuhkan? mumpung masih pagi, jadi aku bisa kesana..." kata Firlan.
"Aky nggak yakin kamu mau nolongin..." kata Vira sambil menggigit bibir bawahnya.
"Ngomong aja apa yang kamu butuhkan, kamu mau aku beliin obat?" tanya Firlan.
"Bukan obat, tapi..."
"Tapi apa?" desak Firlan.
"Pembalut!" ucap Vira malu.
"Perutku sakit banget, dan aku nggak kuat kalau harus naik motor ke minimarket," ucap Vira.
"Memangnya kamu nggak sekalian beli waktu belanja bulanan?" tanya Firlan.
"Iya, hem tapi kayaknya aku salah beli..."
"Salah beli gimana?" Firlan tak mengerti ucapan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Susah jelasinnya, kalau mau nolongin ya tolong beliin. Kalau nggak ya udah nggak usah telfon lagi!" ucap Vira kesal.
...----------------...