Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Kedatangan Gusti


__ADS_3

Akhirnya setelah memarkirkan mobilnya di tempat privat milik Vira, Gusti pun memastikan dulu jika penampilannya kini sudah rapi. Pria itu keluar dengan gagahnya dari sebuah mobil mewah.


Perlahan Gusti mengetuk pintu dan masuk ke dalam.


"Selamat siang," ucap Gusti, Fidya yang hanya seorang diri sendiri disitu sampai terpana tak berkedip melihat pria tampan yang baru saja masuk.


"Permisi, saya mau ketemu dengan pemilik tempat privat ini..." kata Gusti.


"Eh, iya, Tuan. Emh, silakan duduk..." ucap Fidya mempersilakan Gusti untuk duduk. Pria itu pun mendudukkan dirinya di sofa panjang.


"Saya Gusti, saya mau ketemu dengan Vira Anugrah, pemilik tempat ini..." ucap Gusti.


"Oh, Kak Vira nya maksud saya bu Vira sedang tidak ada,"


"Tidak ada?" Gusti mengernyitkan keningnya.


"Bu Vira sedang sakit, jadi tidak datang kemari. Kalau ada sesuatu yang penting, nanti akan saya sampaikan..." kata Fidya.


"Sakit apa?"


"Saya kurang tau, Tuan. Bu Vira hanya mengatakan kalau beliau sedang sakit dan tidak datang hari ini..." jawab Fidya.


"Oh begitu, kalau begitu saya permisi..." ujar Gusti seraya bangkit dari duduknya. Dan pergi dari tempat itu, dan ketika di depan dia berpapasan dengan Zanna.


Zanna yang melihat ada sosok ganteng baru saja keluar dari tempat ia bekerja pun bertanya pada Fidya.


"Yang baru saja keluar dari sini siapa, Fid?" tanya Zanna sembari mebaruh bubgkusan makan siang mereka.


"Tuan Gusti kalau nggak salah, dia nyariin kak Vira. Gila ya, yang deket sama bos kita orangnya bening-bening semua. Cuma bedanya kalay yang ini ramah, nggak kayak yang sering kesini yang kalau ngeliat aja udah bikin kicep, jutek banget!" ucap Fidya jujur.


"Hush, jangan ngomong gitu. Kalau ada yang denger berabe! lagian jutek kan kata kamu, kalau dia jutek kak Vira nggak bakalan mau kali..." ujar Zanna.


"Lah kamu kok malah belain? jangan bilabg kamu suka sama modelan cowok yang jutek-jutek kayak gitu?" tuduh Fidya.


"Ih, apaan sih, Fid! nggak lah, jangan ngomong aneh-aneh, nanti kalau kak Vira denger kan nggak enak..." ucap Zanna dengan wajah yang merah.


"Nggak-nggak, muka kamu merah kayak gitilu, Zan? ati-ati, Zan. Kalau punya orang emang lebih menarik, tapi juga lebih beresiko!"


"Beresiko?" Zanna mengerutkan keningnya.


"Beresiko ditolak dan sakit hati," kata Fidya.


"Halah, kamu ini ngomong apa sih, Fid? lagian siapa juga yang mau ngembat cowok orang? kamu ini ada-ada aja, kebanyakan nonton acara gosip nih jadi begini," kata Zanna.


"Udah, udah lebih baik kita makan. Keburu nasi gorengnya nggak enak!" lanjut Zanna.


.

__ADS_1


.


.


Sementara di dalam mobil, Gusti sedang bimbang apakah dia akan menelepon Vira ataukah mencoba untuk langsung menyambangi kontrakannya.


"Vira sakit? sakit apa? dia di rumah sakit atau di rumah?" Gusti bertanya pada dirinya.


"Aku coba telepon aja? tapi alasannya apa aku telepon?" Gusti jadi bingung sendiri, padahal sebelumnya dia tak seperti ini.


"Astaga, kenapa aku jadi begini? aku coba saja langsung datang ke kontrakannya!" ucap Gusti mantap.


"Ah, nggak nggak. Aku harus tau dulu dia sakit apa, supaya aku bisa bawakan sesuatu..." ucap Gusti yang mulai tak mengerti dengan dirinya sendiri.


Setelah perdebatan alot dengan hati kecilnya, Gusti memutuskan untuk menghubungi Vira agar bisa mengetahui kondisi wanita itu yang sebenarnya.


Gusti menempelkan telepon di telinganya, dan tak lama panggilannya dijawab Vira.


"Halo?" sapa Vira di seberang telepon.


"Halo," sahut Gusti.


"Ada apa, Mas?" tanya Vira dengan suara lirih.


"Ah, Gia ingin bertemu, apakah kamu ada waktu siang ini?" tanya Gusti, pria itu menggunakan Gia sebagai alasan yang logis untuk menghubungi Vira.


"Kamu kenapa? kau sedang sakit?" tanya Gusti.


"Ah, nggak. Aku hanya kurang enak badan, bukan sesuatu yang serius," kata Vira.


"Apa kamu perlu bantuan? kamu di rumah tau di rumah sakit?" tanya Gusti.


"Oh, nggak usah. Aku hanya perlu istirahat di rumah, nanti juga baikan..." ucap Vira.


"Oh, jadi dia di kontrakan..." batin Gusti.


"Kalau nggak ada yang mau dibicarakan, aku tutup telfonnya ya, Mas. Soalnya hapeku low bat!" ucap Vira.


"Oh, ya. Cepat sembuh ya..." kata Gusti.


"Iya, makasih. Aku tutup ya, bye..." ucap Vira mengakhiri percakapannya dengan Gusti.


Gusti yang sudah mengetahui dimana wanuta itu berada pun segera melaju menuju sebuah restoran untuk membelikan beberapa macam makanan.


"Aku yakin dia pasti nggak sempat untuk menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri..." ucap Gusti.


Pria itu membeli bubur ayam yang dia beli di restoran yang ada di sebuah hotel bintang 5. Tak lupa dia juga membeli beberapa makanan dan minuman lainnya berserta desert untuk wanita itu.

__ADS_1


Tanpa Vira ketahui, Gusti sudah mebgetahui dimana ia tinggal. Pria itu kini sedang menuju kontrakannya.


Tak lama sebuah mobil mewah memasuki pelataran kontrakan Vira. Pria itu keluar dari mobil dengan banyak barang yang ada di tangannya.


Tok.


Tok.


Tok.


Gusti mengetuk pintu rumah itu beberapa kali, hingga terdengar sebuah jawaban dari dalam rumah.


"Ya sebentar..." jawab seseorang dengan suara yang serak.


Dan pintu pun kini terbuka lebar.


"Mas Gusti?" cicit Vira saat melihat papi dari Gia ada di depan matanya.


"Hai, katanya kamu sakit. Jadi aku kesini mau jenguk kamu sekalian bawain kamu makanan..." ucap Gusti dengan menunjukkan dua kantong yang berisi makanan yang ada di kedua tangannya.


Vira berkedip beberapa kali untul memastikan apa yang dilihatnya bukan mimpi.


"Nggak mungkin, inj aku pasti lagi mimpi ini!" gumam Vira sambil mencubit tangannya sendiri.


"Aawh! sakit!" pekik Vira saat ia merasakan sakit di tangannya.


"Kenapa kamu, Vira?" Gusti mengernyit heran melihat tingkah perempuan yang ada di depannya.


"Ini aku nggak dipersilakan masuk dulu?" tanya Gusti.


"Eh, iya, silakan masuk..." ucap Vira memberi akses Gusti untuk masuk.


"Silakan duduk, Mas. Emh, mau minum apa?" tanya Vira yang kemudian duduk, begitu jyga dengan Gusti.


"Nggak usah, kamu kan lagi sakit. Aku malah bawain kamu makanan, kamu pasti belum makan kan?" tanya Gusti dengan senyum khasnya.


"Iya, belum. By the way, makasih udah repot-repot datang kesini, padahal aku itu nggak apa-apa, loh!" ucap Vira.


"Nggak apa-apa tapi sampai nggak masuk kerja dan wajah kamu pucet kayak gitu..." ucap Gusti.


"Kok tau aku nggak kerja?" Vira heran dengan ucapan Gusti.


"Iya tau aja. Oh, ya ini..." Gusti menunjuk makanan yang sudah ia bawa dan mengeluarkannya dari dalam kantong.


"Banyak banget?"


"Aku nggak tau kamu suka yang mana, jadi aku beli banyak..." ucap Gusti.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2