
Dan setelah Vira dan Firlan sampai di restoran suasana disana sangat ramai. Bahkan disana ada keluarga Ganendra, dan pastinya ada Amartha dan si cantik Evren.
"Taaa..." Vira menyapa Amartha yang sedang duduk memangku Evren.
"Eh, Vira. Kamu nginep disini juga?" Amartha kaget melihat Vira.
"Hey, semalam kemana? aku nyariin loh," lanjut Amartha.
"Biasa..." Vira menunjuk Firlan yang memasang tampang tak berdosa.
"Aiiih, Kak Firlan bawa Vira kemana hayoo?" ledek Amartha.
"Kamu mau makan kan? sini biar Evren sama aku, aku kan kangen udah lama nggak nggendong..." Vira mengangkat Evren dari pangkuan sahabatnya.
"Kamu tuh udah cucok meong gendong anak tau, Vir!" puji Amartha.
"Cocok gendongnya doang, bikinnya mah velum tentu mampu, Ta!" ucap Vira.
"Husss, jangan ngomong kayak gitu. Inget ucapan itu doa loh, walaupun konteksnya cuma becanda, ya kali malaikat lewat terus wujudin apa yang kamu sebut tadi kan berabe, Vir..." ucap Amartha mengingatkan.
"Iya, Nyaaah!" sahut Vira.
"Ya udah aku bawa Evren kesana dulu ya, kenalan sama mama papa aku, nggak apa-apa kan?" tanya Vira.
"Ya nggak apa-apa lah, emang kenapa? asal nggak ngerepotin kamu aja," kata Amartha.
"Yuk, Ay..." kata Vira spontan menyebut Firlan dengan sebutan yang sudah lama tidak menyapa pendengaran pria itu. Hati Firlan sontak berbunga.
"Permisi, Nyonya..." pria itu mengangguk hormat pada istri bosnya sebelum menyusul Vira yang sudah membawa Evren dalam gendongannya.
"Aiih, Kak Firlan ini pakai nyonya -nyonya segala..." gumam Amartha yang memprotes saat asisten suaminya itu memanggilnya dengan sebutan nyonya.
"Ada apa, Yank?" tanya Satya yang baru saja menaruh puding di atas meja.
"Itu Kak Firlan suka banget manggil aku pakai sebutan Nyonya, padahal kan aku nggak suka..." ucap Amartha.
"Terus kamu maunya dipanggil apa? dedek?" celetuk Satya.
"Iiiiihh, ya nggak gitu juga kali, Mas..." ucap Amartha.
"Evren mana?" Satya celingukan mencari keberadaan putrinya.
"Dibawa Vira tadi, sama Kak Firlan juga..."
"Lah si Firlan nginep disini juga? maksudnya kamu tadi ketemu sama Firlan disini?" tanya Satya.
"Lah iya, ketemu disini masa iya ketemu di Neptunus?" Amartha menggelengkan kepalanya tidak paham.
"Aku cari Firlan dulu, Yank. Soalnya seingatku pagi ini kan ada jadwal meeting, kenapa dia malah keluyuran disini," ucap Satya yang meninggalkan istrinya seorang diri.
__ADS_1
Vira duduk di satu meja dengan orangtuanya.
"Ini anak siapa ini Vira? kamu tidak mencuri anak orang, kan?" tanya Raharjo.
"Ish, papa sembarangan aja kalau ngomong. Ini anaknya Amartha, Pa. Sahabat aku, tuh dia duduk disana. Kebetulan Firlan ini asistennya suami Amartha. Dan suaminya Amartha itu kakak kandung dari istrinya kak Ricko," jelas Vira.
"Cantik sekali kamu, Nak..." ucap Dewi yang sangat suka dengan Evren.
"Coba kamu bikin kayak gini, Vira..." celetuk Dewi.
"Emangnya adonan kue main bikin bikin aja," sahut Vira.
"Nah itu Firlan udah siap lahir batin, iya kan Lan? tinggal nentuin hari baik, selesai..." ucap Raharjo yang sudah sangat ingin menimang cucu.
"Betul, Om..." Firlan manggut-manggut, merasa dukungan penuh dari keluarga Vira sangat membantunya dalam meyakinkan wanita yang duduk disampingnya ini.
"Kalau dilihat kayak gini, kalian udah cocok banget punya anak..." kata Dewi, Vira hanya geleng-geleng kepala.
Tak lama datanglah Satya, sang bos sengklek. Firlan yang mengetahuinya langsung paham kalau ada yang ingin dibicarakan Satya dengannya.
"Om, Tante ... saya permisi kesana dulu," ucap Firlan menunjuk ke arah Satya.
"Siapa?" tanya Raharjo pada Vira.
"Itu bosnya kak Firlan, ini papanya Evren..." kata Vira sembari memainkan jari jemari Evren.
"Oh, jadi putri cantik ini namanya Evren..." kata Dewi yang gemas sekali dengan pipi gemoy Evren.
"Nanti aja, aku belum laper..." kata Vira.
Dan tak lama sang pengantin pun baru turun dari kamarnya, Ricko dan Prisha bergandengan tangan masuk ke restoran.
"Ma, Pa..." sapa Ricko pada Raharjo dan Dewi.
"Aduh duh, pengantin baru kepagian jam segini bangunnya," kata Dewi.
Prisha tersenyum dengan wajah yang merona seperti tomat.
"Aiishh, mama ini bikin Prisha tersipu-sipu aja," kata Vira.
"Hai Vir ... wah ada Evren juga," Ricko mengusap pipi Evren.
"Sama onti Isha, yuk..." kata Prisha yang menjulurkan tangannya pada Evren.
"Aduh, onti nanti aja gendongnya. Onti makan dulu sama om iko..." Vira menirukan suara anak kecil.
"Betul, biar Evren dengan Vira. Kalian makanlah dulu, pasti semalam tenagamu terkuras habis," ucap Dewi pada Prisha yang semakin malu-malu dibuatnya.
"Ya sudah, Ma ... Pa, kami sarapan dulu. Mama sama Papa sampai besok kan disini?" tanya Ricko.
__ADS_1
"Iya, Nak. Tapi mungkin mau ke kontrakan Vira, biasa anak perempuan satu-satunya kalau nggak dituruti bisa ngambek," kata Raharjo.
"Ya sudah kalau begitu, terima kasih ya Mama dan Papa sudah menyempatkan waktu untuk datang di pernikahan Ricko," kata Ricko.
"Ah, kamu ini seperti dengan orang lain saja. Sudah sudah sarapan dulu, kasian istrimu dia pasti sudah lapar," kata Raharjo.
"Kami kesana dulu, Ma ... Pa..." ucap Ricko sedangkan Prisha tersenyum pada Raharjo dan Dewi yang sudah Ricko anggap sebagai orangtua.
"Mari, Ma ... Pah..." ucap Prisha.
Tak lama munculah Amartha yang mrncari-cari keberadaan Vira yang membawa anaknya.
"Vira..." seru Amartha.
"Eh, itu ada Ibu, Evren..." ucap Vira pada Evren.
"Udah selesai makannya?" tanya Vira pada Amartha.
"Udah. Sini Evrennya, kasian kamu malah nggak bisa makan nanti..." kata Amartha yang mengambil Evren dari Vira.
"Oh ya, Ta. Kenalkan ini orangtua aku. Ma, Pa ini Amartha sahabat aku dari jaman kuliah," Vira memperkenalkan Amartha pada Raharjo dan Dewi.
"Oh inj yang namanya Amartha. Vira sering cerita, baru sekarang akhirnya bisa ketemu..." ucap Dewi.
"Amartha, Om ... Tante..." Amartha menyalami kedua orangtua Vira.
"Vira, kamu lihat mas Satya?" tanya Amartha pada Vira.
"Tadi aku lihat kesana, sama kak Firlan..." ucap Vira menunjuk ke arah kemana Firlan dan Satya pergi.
"Ya udah, aku cari mas Satya dulu ya, Vir..." ucap Amartha.
"Om, Tante ... saya mau cari suami saya dulu, permisi..." ucap Amartha sopan.
"Oh iya, silakan silakan, Nak..." ucap Raharjo.
"Duluan, Vir..." ucap Amartha pada Vira.
Dan setelah Amartha meninggalkan mereka, Vira membuka suaranya.
"Vira mau kesana ambil makanan dulu ya, Ma..." ucap Vira menunjuk ke arah makanan.
"Mama sama Papa ada yang mau diambilkan nggak? biar sekalian," lanjut Vira yang kini sudah berdiri.
"Mama sudah kenyang, nggak tau deh kalau Papa..." jawab Dewi.
"Kamu saja lah, Vira. Papa juga sudah makan, paling menghabiskan teh ini papa mau balik lagi ke kamar," ucap Raharjo.
"Ya udah, Vira kesana dulu..." Vira melangkah pergi meninggalkan orangtuanya.
__ADS_1
Tanpa sadar ada seorang pria yang mengikutinya dari belakang.
...----------------...