Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Mantan kamu berapa?


__ADS_3

Selama diperjalanan, Vira tidak tidur. Kali ini Vira memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh seputar kehidupan pribadi Firlan.


"Ada banyak yang aku nggak tau tentang kamu," kata Vira.


"Apa yang kamu nggak tau dan pengen tau dari aku? aku akan jawab sekarang apaoun yang kamu tanyakan, karena sebentar lagi kita akan menjadi suami istri jadi kita harus terbuka satu sama lain, kan? ya setidaknya itu yang aku pelajari dari buku," ucap Firlan.


"Mantan kamu ada berapa?" tanya Vira.


"Mantan? mantan pacar?" tanya balik Firlan.


"Iya lah masa iya mantan istri? emang kamu ini udah pernah nikah dan jadi duda?" Vira kesal.


"Hahahaha, kan aku hanya tanya kenapa kamu malah sewot seperti itu, hem?" tanya Firlan.


"Ay, bisa nggak sih kita ngobrol, ngomong tanpa harus bikin aku emosi jiwa dan raga?" Vira melirik Firlan sinis.


"Kalau kita adem ayem, itu mah vibes nya tuan Satya sama nyonya Amartha. Kalau kita kan beda, kita penuh warna..." ucap Firlan.


"Terserah lah, sekarang jawab dong mantan kamu ada berapa?" Vira mengulangi pertanyaannya.


"Emang aku belum pernah cerita, ya?" Firlan bertanya lagi.


"Astaga, kamu bisa nggak sih jawab tanpa harus ngomong muter-muter begitu?" Vira dongkol.


"Sabar dong, nanti dedek bayi kaget!" ucap Firlan ngawur.


"Ya ampun ini mulut sembarangan banget emang ya kalau ngomong!" Vira mencubit bibir Firlan dengan jari tangannya.


"Astaga, kejem banget kamu, Ay! masa bibirku kamu jepit begitu? kalau jontor gimana?"


"Lebay! cepetan jawab!" Vira ngegas lagi.


"Bentar aku inget-inget dulu, mantanku itu cumaaaa tiga..." ucap Firlan sambil mengingat-ingat.


"Namanya?"


"Lupa, yang jelas yang terakhir Andini..." ucap Firlan.

__ADS_1


"Lah yang dua itu?" tanya Vira penasaran.


"Yang dua waktu aku masih TK dan SD, jadi aku nggak inget," ucap Firlan.


"Apa? TK? kamu TK udah pacaran?" tanya Vira tidak percaya.


"Hahahaha, ya nggak lah!"


"Kirain bener. Kalau iya parah banget kamu tuh!" ucap Vira.


"Yang satu waktu aku SMA, namanya Kinar kita pacaran cuma sebulan abis itu putus. Dan yang satu lagi namanya Shakila, dan yang terakhir Andini..." jelas Firlan.


"Hemm, banyak juga ya?"


"Kalau kamu? mantan kamu berapa?" tanya Firlan.


"Yang apa?"


"Yang apa? maksudnya?" Firlan malah bingung tapi dia tetap mencoba fokus pada jalanan.


"Ck ck ck, parah parah...." Firlan geleng-geleng kepala, sementara Vira malah tertawa.


"Hahahahaha, kok parah sih? ya kan kita deket kadang belum tentu sampe pacaran kayak gini, kadang kan baru juga deket, eh cowoknya nyangkut di cewek lain..." jelas Vira.


"Ada gitu laki-laki begitu, kalau aku sih nggak ya..." kata Firlan.


"Preet!" cicit Vira.


"Terus Alia?" sindir Vira.


"Udah deh, Ay ... aku males kalau kamu udah mulai bahas dia lagi," Firlan mode bete.


"Aku yang sampai pacaran sih cuma dua, yang lainnya ambyar! sering kopdar, banyakan gagal nggk sesuai ekspektasi. Deket-deket, eh dianggepnya cuma temen. Baru juga di klaim jadi gebetan, eh disamber orang..." terang Vira.


"Bener-bener nggak jelas kamu!" Firlan tak habis pikir dengan ucapan Vira.


"Kamu nggak takut kopdar-kopdar kayak gitu?" lanjut Firlan.

__ADS_1


"Ya kan waktu itu mah nggak kepikiran, di profilnya ganteng ya udah aku pikir ganteng beneran ternyata zonk! hahahahaha," Vira tertawa, saat mengingat saat dia kopdar di sebuah mall dengan ditemani Amartha sewaktu mereka masih di bangku kuliah. Orang yang dia temui 180 derajat berbeda dengan ada yang ada di foto profil cowok itu di akun medsosnya.


"Kamu nggak pengen tau nama mantan aku itu?" tanya Vira.


"Nggak, nggak penting! kan yang penting itu aku yang terakhir buat kamu, yang lain mah udah lewat," kata Firlan.


"Lalu apalagi yang kamu ingin tau dari aku?" tanya Firlan pada Vira.


"Hemm ... apa ya?" Vira mengetuk-ngetukkan jarinya di dagunya.


"Heleh, sok mikir banget!" Firlan mencubit pipi gemoy Vira.


"Ih, dibilangin jangan cubit-cubit juga, masih aja usil itu tangan! awas aja aku pelintir nanti!" kata Vira mengusap pipinya.


"Sebenernya kita terlalu terlambat buat mencari tau hal-hal yang begini, deh..." kata Vira menoleh melihat Firlan yang sedang menyetir.


"Nggak ada yang terlambat, selama kita masih mau berusaha memperbaiki hubungan ini..." kata Firlan menunjukkan sisi lembut dirinya.


"Aku ingin tau, apa sebenernya hubungan kamu dengan Ricko? kenapa dia sampai rela mendonorkan ginjalnya untuk papa kamu?" tanya Firlan.


"Ricko itu anak yatim piatu. Dia dulu tinggal di sebuah panti asuhan, dan kebetulan saat itu papa ku datang kesana dan membagikan makanan untuk anak-anak. Katanya papa selaku membawa aku, aku juga nggak begitu ingat. Kak Ricko yang menceritakannya, dia selalu memanggil papa ku pak Jojo. Intinya aku ketemu sama dia di panti itu. Nggak ada kedekatan yang spesial, hanya saja mungkin dia menemukan kehangatan seorang ayah dari papaku, sampai suatu saat papa ku udah nggak pernah lagi datang ke panti itu..." jelas Vira.


Firlan terdiam mendengarkan apa yang diucapkan wanitanya, dia tidak ingin memotong cerita Vira.


"Katanya dia berusaha mencari, tapi nggak pernah ketemu. Dan pada akhirnya kak Ricko diadopsi oleh sepasang suami istri. Namun sayang, dia harus merasakan menjadi yatim piatu untuk yang kedua kalinya," lanjut Vira.


Wanita itu menarik nafas kemudian menghembuskannya lagi, ia mengulang setiap memori yang ada di otaknya.


"Dan setelah beberapa waktu takdir mempertemukan kak Ricko dengan Papa di sebuah rumah sakit, papa pingsan dan kak Ricko yang menolongnya. Dari pertemuan itu kak Ricko baru tau kalau papa membutuhkan donor ginjal, setelah di tes, ternyata ginjal kak Ricko cocok. Aku juga kaget saat membaca sebuah rekam medis di tempat aku bekerja, sebuah nama yang sangat familiar. Kamu tau? hati aku hancur saat tau kalau papa ku sebenarnya sedang sakit parah," Vira menghapus air mata yang mengalir ke pipinya. Firlan menepikan mobilnya dan mencoba menatap Vira.


"Aku nggak. sempet ngasih tau kamu karena aku juga lagi shock. Aku yang mengira orangtuaku nggak peduli dengan aku, ternyata nggak seperti apa yang aku bayangkan. Selama ini papa berjuang, dia harus mengumpulkan uang untuk operasi..." Vira menangis.


"Maaf..." kata Firlan, ia membawa Vira ke dalam pelukannya.


"Aku bukannya nggak mau cerita, tapi kejadian itu terlalu cepat dan aku hanya konsen sama kondisi papa. Aku juga merasa berhutang budi dengan kak Ricko yang mau berbaik hati buat mendonorkan satu ginjalnya untuk papa.Dan aku nggak ngerti bagaimana aku harus berterima kasih dengan kak Ricko," kata Vira. Firlan kini merasa bersalah. Kenapa dulu dia bersikap sangat kekanak-kanakan, dan cemburu dengan sosok Ricko.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2