
Vira pun kini sudah berada di tempat privat seni nya setelah beberapa puluh menit berkendara menggunakan taksi online yang sudah ia pesan. Dan sesuai dugaan Vira, sudah ada Zanna dan Fidya, mereka berdua sudah datang dan sudah sedang beberes ruangan.
Vira berencana akan menyewa tempat yang lebih besar supaya bisa memiliki beberapa ruangan. Tapi sepertinya itu akan ia wujudkan secara bertahap, yang terpenting sekarang dengan satu ruangan yang cukup luas ini masih bisa ia gunakan untuk mengajari anak-anak bermain warna.
"Assalamualaikum," ucap Vira seraya melepas alas kakinya.
"Waalaikumsalam," sahut Zanna dan Fidya.
Vira menaruh tas nya di dalam loker, dan ia hanya mengambil ponsel dan menyimpannya di kantong celana bagian depan.
Wanita itu kini duduk dekat dengan Zanna yang sedang menyiapkan berbagai alat untuk mengajari anak painting.
"Oh ya, nanti siang saya ada kelas privat di luar. Jadi mungkin sorenya saya nggak kesini lagi. Saya ada keperluan lain juga..."
"Baik, Kak..." jawab Zanna.
"Pagi ini aku ingin coba melihat kamu mengajari anak-anak, Zan. Kan beberapa hari ini kamu sudah melihat dan mengamati bagaimana cara aku bermain dengan mereka, jadi hari ini aku hanya akan duduk dan melihat kamu, aku ingin tau cara kamu berinteraksi dengan mereka..." ucap Vira.
"Baik, Kak. Semoga tidak mengecewakan..." kata Zanna.
"Santai saja, tidak perlu terlalu tegang..." Vira tersenyum. Dia kini beranjak dan mrlangkah menuju kulkas. Dia melihat persediaan minuman yang ada di kulkas mini nya.
"Fidya, sepertinya persediaan minuman kita hampir habis. Nanti kamu tolong beli ya? di minimarket dekat sini saja," kata Vira.
"Sekarang, Kak?" tanya Fidya.
"Iya, sekarang saja. Sebentar, saya ambil uangnya dulu..." Vira berjalan ke arah loker tpat ia menyimpan tasnya. Ia mengambil dua lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya dan mendekat ke arah Fidya.
"Tolong ya, Fid..." ucap Vira seraya memberikan uang pada pegawainya.
"Kamu mau nitip apa, Zan? aku mau ke minimarket," ucap Fidya pada Zanna.
"Sostel dong kalau ada," sabut Zanna.
"Sekalian pakai uang itu saja, Fid..." kata Vira pada Fidya.
"Baik, Kak..." jawab Fidya. Wanita itu pun pergi meninggalkan Vira dan Zanna di ruangan itu.
Baru saja ia mengambil minuman kopi yang dikemas dalam kaleng, ada telepon dari Firlan.
"Halo, ada apa, Ay?" tanya Vira tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Nggak, cuma mastiin kamu udah di tempat kerja atau belum," ucap Firlan.
"Udah kok, udah nyampe daritadi..." ucap Vira sambil membuka minumannya.
"Syukurlah kalau begitu, ya udah aku udah dipanggil tuan Satya. Nanti aku telfon kalau aku udah senggang..." ucap Firlan.
"Iya, semangat!" kata Vira.
"Bye..." ucap Firlan dan panggilan pun terputus. Zanna tanpa sengaja mendengarkan percakapan antara Firlan dan juga Vira.
"Oh, jadi mereka pacaran..." batin Zanna.
Sambil menunggu anak-anak datang, Vira menyalakan televisi yang ada di ruangan itu. Vira memang sengaja memasang televisi supaya tidak bete ketika harus menunggu anak-anak datang, apalagi dulu ia menjadi tutor seorang diri.
"Nonton acara gosip dulu, Zan..." kata Vira.
"Iya, Kak..."
Setelah Zanna selesai menyiapkan bahan untuk mengajarnya hari ini. Dia pun duduk di samping Vira.
"Ambil minum, Zan..." ucap Vira yang kemudian meneguk kopi dinginnya.
"Iya, Kak. Kalau saya haus nanti saya ambil..." jawab Zanna.
"Ya pun, padahal mereka pasangan yang serasi banget loh! kok bisa cere, sih? jahat banget suwer dah suaminya, istrinya cantik begitu malah selekong!" Vira tak tahan tak mengomentari tayangan yang ada di layar LED.
"Ya mungkin mereka udah tidak cocok, Kak..." sahut Zanna.
"Ah, nggak paham aku tuh! padahal selama iniereka kan selalu tampil mesra dan romantis loh," Vira meneguk minumannya lagi.
"Kadang yang terlihat kan tidak selamanya itu yang real mereka rasakan, bisa aja cuma pencitraan..." kata Zanna.
"Tapi parah sih, pelakor jaman sekarang ngeri-ngeri. Tampang polos, tapi ternyata bakat ngerebut pasangan orang!" ucap Vira, dan Zanna pun tak menanggapi pasalnya kini anak-anak mulai berdatangan, dan Vira pun segera mematikan tivi.
"Kakakkkkk!" begitulah suara-suara anak-anak kecil yang kini berhamburan memeluk Vira yang tengah duduk di sofa.
"Kita ke sana ya," ucap Vira.
Sedangkan para pengasuh yang memang menunggu anak majikan mereka belajar melukis pun duduk di kursi sofa panjang yang sengaja Vira sediakan.
"Adek-adek, hari ini kakak Zanna yang akan menemani kalian bermain warna-warna ini," ucap Vira seraya menunjukkan berbagai macam warna yang akan digunakan untuk melukis.
__ADS_1
"Silakan Zan, dimulai kelasnya..." ucap Vira yang kemudian berjalan ke arah meja administrasi. Dan ternyata Fidya baru saja masuk dengan berbagai macam belanjaan.
"Permisi..." ucap Fidya saat melewati para pengasuh yang sedang duduk di sofa.
"Cukup tidak tadi yang yang saya kasih?" tanya Vira.
"Masih ada kembaliannya, Kak..." kata Fidya.
"Taruh saja di laci," ucap Vira, Fidya mengangguk.
Fidya pun segera menata minuman yang ia beli tadi di dalam lemari pendingin. Minuman ini tidak dijual, dan memang diperuntukkan untuk para penunggu anak dan juga tamu.
Vira duduk di depan Fidya sambil terus mengawasi bagaimana Zanna berinteraksi dengan anak-anak. Dan Vira bersyukur kalau anak-anak sangat antusias dengan arahan yang diberikan Zanna.
"Kayaknya udah bisa dilepas sendirian kalau kayak gini. Tapi, aku coba liatin dulu selama seminggu ke depan, semoga aja dia konsisten..." batin Vira.
Dan akhirnya kelas pun selesai, anak-anak mencuci tangannya dan kini berpamitan padanya.
Zanna pun kini membereskan alat-alat yang sudah ia gunakan.
Sedangkan Vira duduk sambil memainkan ponselnya. Dia melihat jam di pergelangan tangannya, sudah saatnya jam makan siang.
"Kalian mau makan apa? biar sekalian saya pesenin..." ucap Vira yang sedang mrnu makan siang di aplikasi delivery food.
"Apa saja, Kak..." ucap Fidya.
"Kalau kamu, Zan?" tanya Vira.
"Geprekan aja Kak yang murah..." kata Zanna.
"Kalau kamu suka geprekan nggak Fid?" tanya Vira.
"Suka suka aja, Kak..." sahut Fidya.
"Minumnya apa? aku mau pesen boba milk tea..." ucap Vira.
"Samain aja, Kak. Kita mah doyan-doyan aja orangnya..." ucap Fidya yang merasa tidak enak karena selalu ditraktir makan siang oleh Vira.
"Ya sudah, geprekan tiga dan boba brown sugar-nya 3 juga yang ukuran large," lirih Vira sambil memesan makan siangnya bersama para pegawainya.
"Done!" seru Vira.
__ADS_1
"Aku udah pesen, siang-siang begini enak banget makan ayam geprek. Jadi nggak sabar..." ucap Vira pada Zanna dan juga Fidya. Kedua wanita itu tertawa melihat Vira yang mengelus perutnya dari luar pakaiannya.
...----------------...