
"Tapi..." ucapan Andini terpotong.
"Keluarlah, aku bisa mengurus diriku sendiri!" Firlan menarik Andini dengan sisa tenaganya dan menutup pintu dengan segera saat wanita itu sudah berada di luar.
"Astagaaaaaa! menyebalkan sekali dia! sudah capek-capek nyetirin malah diusir kayak gitu aja! dasar nggak tau diri!" umpat Andini, ia pun membuka unitnya yang berada di samping unit milik Firlan.
Firlan yang merasa tubuhnya sangat aneh itu, menelepon seseorang untuk membantunya mengambil barang-barang yang masih tertinggal di mobil.
"Cepatlah kemari, angkut semua barang yang ada di mobilku! aku tunggu!" suruh Firlan di telepon.
Dan baru saja ia akan meletakkan ponselnya ternyata kekasihnya melakukan panggilan video call.
"Halo," sapa Vira saat layar sudah menampilkan wajah kekasihnya.
"Hai,"
"Lagi dimana kamu, Ay?"
"Di apartemen," ucap Firlan singkat.
"Kamu sakit?"
"Sedikit," jawab Firlan.
"Aku kesitu sekarang!" ucap Vira yang segera mematikan sambungan teleponnya.
Firlan yang terus saja merasakan nyeri di perutnya merebahkan dirinya di ranjang.
.
.
Vira yang mendapati calon suaminya sedang sakit buru-buru keluar dari tempat les setelah memesan taksi online.
"Saya duluan, ya?" ucap Vira tergesa-gesa keluar ruangan. Namun saat dia sudah berada di depan ia berpapasan dengan Gusti.
"Loh, kamu mau kemana Vira?" tanya Gusti yang berniat untuk menemui wanita itu untuk makan siang.
"Aku lagi ada urusan lain, Mas..."
"Kemana biar aku antar?" Gusti menawarkan bantuan.
Tin.
Tiiin.
"Atas nama Vira anugrah?" seorang driver membuka kaca mobilnya.
"Aku udah pesan mobil, aku duluan ya, Mas. Makasih atas tawarannya..." ucap Vida yang kini pergi masuk ke dalam mobil berwarna merah.
"Apk mampir dulu ke apotek dan ke minimarket, ya? tenang aja nanti saya tambahin ongkosnya!" kata Vira.
"Siap, Mbak!" ucap si driver.
Sedangkan Gusti menatap mobil yang membawa Vira sampai tak terlihat lagi.
Sedangkan Vira dalam perjalanan agak sedikit cemas karena ini kali pertamanya menghadapi Firlan yang sedang sakit. Tidak biasanya pria itu sakit, apalagi dia tipe orang yang sangat menjaga kesehatan tubuhnya.
Vira mampir sebentar ke apotek membeli obat yang sekiranya ia butuhkan dan juga ke supermarket untuk membeli beberapa makanan.
Setelah melkaukan perjalanan yang lumayan lama, akhirnya dia sampai juga di apartemen Firlan. Namun ketika ia akan memencet bel ternyata pintu apartemen itu tidak ditutup rapat.
"Saya taruh semuanya di ruang tamu, Tuan..." ucap seorang pria.
"Terima kasih," ucap Firlan yang sedang berdiri tak jauh dari ruang tamu.
__ADS_1
"Ay..." panggil Vira.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan..." ucap pria berjas hitam dan menunduk hormat pada Firlan.
"Siapa, Ay?" tanya Vira.
"Orang suruhan aku," ucap Firlan sembari memegang perutnya.
"Aku check pintu dulu," Vira berbalik dan memastikan pintu sudah terkunci barulah dia menghampiri Firlan. Vira meletakkan begitu saja belanjaannya di ruang tamu.
Firlan yang sudah berganti piyama, terseny melihat kekasihnya datang menemuinya.
"Kamu kenapa, Ay? kok bis sakit kayak gini? mendingan kamu istirahat dulu di kamar," ucap Vira, namun Firlan menggeleng.
"Kenapa?"
"Ya udah kalau gjtu di depan tivi aja, ya?" ucap Vira, dan kali ini Firlan mengangguk. Pria iru mengeluarkan keringat dingin, wajahnya semakin pucat.
Vira menata bantal di sofa supaya Firlan nyaman untuk merebahkan tubuhnya.
"Hati-hati," ucap Vira membantu Firlan menyamankan dirinya.
"Sudah lebih baik?" tanya Vira.
"Iya..." sahut Firlan.
Vira berdiri dan hendak pergi, namun tangannya dicekal Firlan.
"Mau kemana?" tanya Firlan.
"Mau ambil minyak kayu putih, mjnyak telon dan minyak lainnya yang bisa bikin kamu lebih hangat..." kata Vira. Dan mendengar utupun Firlan melepaskan tangannya dan membiarkan Vira meninggalkannya.
Langkah kaki Vira berhenti di ruang tamu, dia mengambil barang belanjaannya. Namun matanya tertuju pada dua buah kotak besar yang masih tersegel rapi. Wanita itu mengendikkan bahunya dan kembali menemui kekasihnya yang masih terbaring lemah.
"Kamu alergi bau minyak kayi putih nggak atau minyak telon?" tanya Vira.
"Nggak alergi?"
"Nggak tau! nggak pernah pakek..." jawab Firlan.
"Astaga, kamu hidup jaman kapan sih? nggak pernah pakai minyak kayu putih?"
"Ya sudah kamu hirup dulu bau mana yang kamu suka. Nanti kita tes di kulit tangan kamu, Ay..." kata Vira seraya membuka dua botol beda kemasan.
"Ya ini aja," Firlan menunjuk yang ternyata minyak telon.
"Coba sini aku tes ya kamu ada reaksi alergi nggak dipakein minyak kayak gini," Vira mengambil lipstik di dalam tasnya.
"Kamu ngapain?" tanya Firkan saat Vira mengoleskan minyak telon lalu melingkari daerah yang diaoles tadi.
"Tes alergi, kita tunggu beberapa menit. Kalau emang kamu nggak ada alergi dengan minyak ini, kulit kamu nggak bakal kenapa-napa, Ay..." kata Vira. Dia duduk di karpet sedangkan tangannya memijit telapak kaki Firlan yang sangat dingin.
"Jangan duduk dibawah," kata Firlan menyuruh Vira duduk di atas.
"Nggak apa-apa, udah kamu istirahat aja..." Vira tetap pada posisinya sembari terus memberikan pijatan-pijatan di kaki Firlan.
Vira mengecek daerah yang ia lingkari tadi di tangan Firlan dengan lipstiknya.
"Nggak alergi," gumam Vira.
"Ay, ternyata kamu nggak alergi..." ucapan Vira memelan saat melihat Firlan tertidur.
Vira mengoleskan minyak tadi ke telapak kaki dan betis pria itu. Vira berhenti saat Firlan sudah tertidur pulas.
Wanita itu pergi ke dapur untuk membuatkan sesuatu untuk Firlan.
__ADS_1
"Masak nggak ya?" Vira mengetuk-ngetukkan jari di dagunya. Dia mondar-mandir seperti setrikaan.
"Bikinin dia bubur deh," ucap Vira sambil menyalakan kompor di dapur Firlan.
.
.
.
Ternyata Firlan hanya tidur sebentar, matanya membuka sedikit demi sedikit. Tapi dia tidak melihat keberadaan Vira.
"Kemana dia?" Firlan yang semula berbaring kini duduk.
Tak lama Vira datang dan kaget melihat Firlan yang sudah membuka matanya.
"Kamu udah bangun sih, Ay?" tanya Vira.
"Kamu kemana? aku kira kamu pulang,"
"Aku habis bikinin kamu bubur, eh pas bangey kamunya bangun..." ucap Vira.
"Bikinin aku bubur?" Firlan celingukan dan hidungnya refleks mengendus.
"Kamu kenapa?"
"Dapurku nggak kebakaran, kan?" tanya Firlan.
"Kebakaran? ya nggak, lah ... kamu ini ada- ada aja, Ay! ya udah aku ambil dulu teh anget sama buburnya..." kata Vira.
"Bikin bubur? Vira bikin bubur? nggak salah, tuh?" gumam Firlan.
Tak lama Vira datang dengan nampan di tangannya. Dan benar saja ia membuatkan satu mug teh hangat dan satu mangkok bubur.
"Kamu buatin ini?" tanta Firlan, Vira mengangguk.
"Iya, tenang aja kok. Pasti bisa dimakan..."
"Yakin aman?" tanya Firlan.
"Aman aku udah cek kadaluarsanya kok, jadi aman..."
"Cek kadaluarsa?" Firlan mengerutkan keningnya.
"Iya di bungkus bubur instantnya udah aku cek kok, masih aman expired date- nya..."
"Oh, jadi ini bubur instant?" Firlan memandang satu mangkok bubur dengan kuah kuning.
"Iya, emangnya kamu pikir aku bisa masak bubur? oh jelas, tidak..." ucap Vira.
Firlan pun menahan tawanya, karena dia sempat terpukau dengan Vira yang tidak ada angin tidak ada hujan bisa menyiapkan bubur ayam untuk dirinya, dan tanpa ada bau gosong dari arah dapur.
"Hahahaha," Firlan dengan susah payah untuk tidak tertawa, namun itu sia-sia.
"Kenapa? ada yang lucu?"
"Nggak ada. Nggak ada yang lucu, hanya saja aku sempat berpikir darimana datangnya kekuatan itu hingga membuat kekasihku ini bisa memasak bubur..."
"Kamu ngeledekin aku?" Vira bangkit karena kesal Firlan menertawainya.
Firlan segera berdiri dan mencegah Vira untuk pergi.
"Maaf, aku nggak bermaksud ngeledek. Cuma aku nggak kepikiran kalau ada bubur sejuta umat yang bisa dibuat dengan mudah," ucap Firlan menyuruh Vira untuk duduk kembali.
"Udah dong jangan cemberut lagi," lanjutnya.
__ADS_1
...----------------...