
Setelah 1 jam bertandang ke rumahnya, Gia dan Gusti pun akhirnya berpamitan.
"Maaf ya, malah ganggu istirahat kamu..." ucap Gusti.
"Nggak kok..." kata Vira.
"Sayang, kita pulang ya?" kata Gusti sembari mengangkat putrinya.
"Cepat sembuh ya, Tante..." tangan Gia menjulur ke arah Vira, wanita itu kemudian mendekat. Gia memeluk Vira sementara badannya masih digendong ayahnya.
"Iya, Cantik. Gia juga jaga kesehatan ya, biar nggak sakit..." kata Vira. Gia melepaskan pelukannya.
"Kami pamit ya, Vir..." ucap Gusti.
"Iya, Mas. Hati-hati..." ucap Vira.
Gusti berbalik membawa Gia keluar dari rumah Vira. Pria itu memasukkan anaknya terlebih dahulu di kursi penumpang bagian depan, baru dia berjalan memutar dan membuka salah satu sisi pintu dan duduk di kursi kemudinya.
.
.
Di dalam mobil.
"Gia sudah seneng kan ketemu sama tante Vira?" tanya Gusti, padahal dalam lubuk hatinya ia juga merasakan hal yang sama.
"Hu'um. Tapi mainnya kurang lama!" kata Gia.
"Kan tante Viranya habis sakit, kalau kecapean nanti sakit lagi..." kata Gusti.
"Hemmm..." mata gadis itu menatap ke depan.
"Gia sudah lapar atau belum? kita makan bersama, ya? mau?" tanya Gusti sambil melirik sang anak.
Mereka berdua pergi tanpa pengasuh Gia. Karena Gusti ingin pertemuannya dengan Vira lebih leluasa tanpa adanya orang lain diantara mereka.
"Gimana? Gia mau makan apa?" tanya Gusti lagi karena Gia sedari tadi tak menjawab pertanyaan darinya
"Apa aja Gia suka,"
"Baiklah, hari ini kita makan di restoran seafood kesukaan Gia. Kita maka kepiting yang paling besar," kata Gusti, Gia menoleh dan tersenyum pada sang papi.
__ADS_1
Namun tak lama setelah itu, ada telepon masuk.
"Ya ada apa, Di?" tanya Gusti pada Ardi, orang kepercayaannya yang menjadi bodyguardnya dan menjaganya dari jarak jauh. Karena bagaimanapun dunia bisnis sangat kejam, apalagi untuk pengusaha sukses seperti dirinya yang sudah pasti memiliki saingan bahkan musuh di luar sana.
"Saya lihat tadi mobil nona Vanya berhenti di depan rumah kontrakan nona Vira..."
"Maksudmu, daritadi dia mengikutiku?" ranya Gusti sembari melihat ke kaca spion memastikan ada yang mengikutinya atau tidak.
"Untuk apa Vanya mengikutiku ke rumah Vira?" batin Gusti.
"Maafkan saya, Tuan! seharusnya saya mengecohnya saat di jalan, saya pikir mobil Tuan dan Nona Vanya keluar bersama dari perusahaan karena memang akan pergi bersama, ternyata dia melambat ketika anda sudah memarkirkan mobil di kontrakan nona Vira..." ucap Ardi.
Gusti memutus sambungan telepon dari Ardi. Pikirannya kini menerawang.
"Papiii?" panggil Gia.
"Apa perjalanannya masih jauh? Gia sudah lapar," lanjut Gia.
"Sebentar lagi, Sayang. Papi reservasi dulu, oke?" kata Gusti yang kini menelepon sebuah restoran seafood kesukaan Gia.
.
.
.
"Astaga? kenapa juga ngasih makanan sebanyak ini?" Vira geleng-geleng kepala.
Dan kini matanya tertuju pada bunga mawar merah yang ia taruh di meja makan.
"Ini bunga kalau ayang embe liat, pasti bakal jadi masalah!" Vira memijit pelipisnya yang mendadak pusing. Mau ditaruh dimana bunga itu, dibuang sayang karena baunya yang harum dan bunga masih begitu segar.
"Dah lah, pikirin bunga ini nanti aja. Aku mending makan dulu. Perut udah laper juga..." Vira mengambil piring dan membuka smakanan yang ingin dia makan.
Vira menaruh puding dan juga soft cake ke dalam lemari pendingin. Dan wanita itu kini mulai melahap makanan yang ada di hadapannya.
"Apa aku perlu belajar masak, ya?" Vira bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Takut tau-gau mertua sidak ke rumah dan nyuruh aku masak kan bisa berabe, kalau tau menantunya yang cantik jelita tiada tara dan tiada tandingannya ini ternyata cuma bisa masak mie instant!" Vira membayangkan jika Ratna datang disaat dirinya sedang ongkah-ongkah kaki di rumahnya bersama Firlan nanti.
"Nggak, nggak! bisa digetok nih kepala pakai centong nasi! ntar aku cari kursus masak, biar nggak di remehin sama mertua..." kata Vira yang tiba-tiba saja ingin sekali belajar memasak.
__ADS_1
Apalagi pernikahan mereka akan dilaksanakan 3 bulan mendatang. Sebenarnya kapanpun Firlan siap untuk menikahi Vira, namun bagaimanapun ini pernikahan anak satu-satunya dari pihak Firlan maupun dari pihak Vira yang kebetulan sama-sama menjadi anak tunggal di keluarganya. Dan para orangtua bersepakat akan menyiapkan pernikahan mereka sebaik mungkin.
Sedangkan dalam hati Ratna semakin lama persiapan pernikahan itu malah semakin baik. Karena masih ada kemungkinan Firlan akan bisa berbalik dan membatalkan pernikahannya dengan Vira. Ratna masih berharap jika Firlan akan memilih calon pendamping yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Langit sudah berubah menjadi jingga, namun Firlan tak kunjung datang. Tak ada telepon atau pun chat dari pria itu.
"Sibuk banget kayaknya ya dia? apa nanti kalau aku nikah sama dia aku juga bakal kayak gini? sering sendirian dan ditinggal-tinggal?" Vira menatap langit-langit kamarnya. Pikiramnya jauh melanglang buana.
"Astaga, aku ini mikir apa, sih? bukannya sedari dulu memang kita kayak gini. Kenapa sekarang aku mulai peduli dengan rasa sepi? otakku agak nggak beres ini!" Vira menepuk keningnya.
"Sebelum kenal aku, dia udah kerja kayak gitu. Dan aku nggak boleh egois, aku nggak nisa maksa dia buat selalu ada waktu buat aku, sedangkan tenaga dan pikiran dia sangat dibutuhkan di perusahaan," Vira menyadarkan dirinya, jika ia harus bisa mengerti pekerjaan calon suaminya itu.
Wanita itu merubah posisi tidurnya, ia tidur menyamping sambil memeluk guling.
"Makanya aku harus cari kegiatan, supaya pikiranku nggak negatif terus..." kata Vira yang kini menjauhkan gulingnya dan bangkit dari tidurnya.
Setelah ditunggu selama berjam-jam, bahkan ketika langit sudah gelap. Firlan akhirnya menelepon.
"Halo, Ay. Maaf aku baru ngabarin, aku nggak bisa ke rumah..."
"Ya tau..." sahut Vira.
"Aku lagi di luar kota..." kata Firlan.
"Iya, nggak apa-apa..."
"Kamu marah?" tanya Firlan.
"Nggak marah, cuma aku ngantuk. Udah, ya? bye!" ucap Vira yang sekilas melihat jam yang baru menunjukkan pukul 10 malam, tapi matanya sudah begitu lengket dan ingin segera dipejamkan.
Sedangkan ditempat lain, Firlan kaget dengan sikap Vira yang menutup panggilan teleponnya begitu saja.
"Astaga, ayamku mulai merajuk! salah aku juga sih, baru ngabarin jam segini," ucap Firlan yang sedang berada di luar. Dia bahkan melewatkan makan siangnya dan baru mengisi perutnya beberapa menit yang lalu. Dan kini ia sedang menikmati minumannya yang masih mengeluarkan asap berwarna putih.
Seseorang menyentuh pundaknya dengan lembut. Firlan yang kaget lantas mendongak, melihat tangan siapa yang berani menyentuhnya.
"Andini?" bola mata Firlan membulat.
"Aku kira tadi salah orang, ternyata memang benar kamu ada disini. Dunia begitu sempit ya ternyata," ucap Andini yang masih melingkarkan tangannya di pundak Firlan.
"Hati-hati dengan tanganmu, Andini!" Firlan menepis tangan wanita itu dan membenarkan jasnya.
__ADS_1