
"Mama sama papa nginep di kontrakan aku aja," kata Vira.
"Kasian om sama tante udah malem kayak gini loh, Ay. Kamu aja yang nginep disini," ucap Firlan.
"Nanti aku pesenin satu kamar lagi," lanjut Firlan.
"Besok aku ada kelas,"
"Jam berapa sih? paling juga jam 10 kan? nanti pagi-pagi kita pulang bareng..." kata Firlan memberi solusi.
"Ya udah deh kalau gitu..." ucap Vira.
"Mama sama papa rencana berapa hari disini?" tanya Vira pada Raharjo dan Dewi.
"Mungkin sampai besok," jawab Raharjo.
"Yah, semingguan kek disini. Kan Vira masih kangen..."
"Nanti aku paketin kamu kesana..." celetuk Firlan.
"Paketin dikira aku barang pakai dipaketin segala!"
"Hahahah, kalian ini ribuuuut terus. Vira kamu harus lebih lembut dengan Firlan, apalagi kalau nanti kalian sudah menikah. Nggak boleh itu kamu bersikap seperti utu sama suami..." ucap Raharjo.
"Tuh dengerin, yang lembut..." Firlan menyenggol lengan Vira.
"Gimana kondisi kesehatan, Om?" tanya Firlan.
"Alhamdulillah, Nak. Semakin baik, Om sudah beraktivitas seperti biasa, tapi sekarang om sudah sadar diri. Kalau sekarang Om harus lebih memperhatikan pola hidup yang lebih sehat, supaya bisa melihat Vira menikah dan mempunyai anak yang lucu-lucu..." kata Raharjo yang nyerempet lagi ke masalah pernikahan.
"Ujung-ujungnya kesitu lagi kesitu lagi..." gumam Vira.
"Om, tante ... saya pesankan kamar dulu untuk Vira, takutnya nanti full booking..." kata Firlan.
"Kamu temani Firlan sana Vira..." ucap Dewi pada anaknya.
"Tidak usah, Tante. Kasian Vira bajunya susah buat jalan. Biar saya sendiri saja, permisi..." kata Firlan yang menunjukkan perhatiannya pada Vira.
"Vira anterin sampai ke depan pintu dulu, Ma..." kata Vira yang bangkit mengikuti Firlan yang sudah berjalan menuju pintu.
"Tunggu disini dulu, aku ke bawah bentar. Kamu mau nitip apa?" tanya Firlan.
"Nggak ada," Vira menggeleng.
"Ya udah, aku pergi dulu..."
"Hemm..." jawab Vira yang cuma berdehem.
Vira pun menutup pintu kamar dan kembali menemui orangtuanya.
"Sebenarnya hubungan kalian itu seperti apa Vira?" tanya Raharjo.
__ADS_1
"Gimana apanya, Pah? ya gitu gitu aja," Vira duduk di sofa.
"Papa lihat Firlan sangat menyayangi kamu. Apa kamu nggak mau mengikat hunungan kalian dan menapaki ke jenjang yang lebih serius?" tanya Raharjo, Vira melirik pada Dewi. Dewi hanya mengendikkan bahunya.
"Papa kok hobi banget sih mbahas soal nikahan mulu..." kata Vira.
"Vira, papa ini sudah tua. Papa takut nggak punya waktu buat melihat kamu mrnikah, punya anak. Papa juga ingin menimang cucu, apalagi kamu anak papa satu-satunya," jelas Raharjo.
"Ya nanti juga Vira nikah, Pah. Tapi ya nggak dalam waktu dekat ini..." ucap Vira.
"Benar kata papa mu, Vira. Kami ini sudah tua, nanti krburu mama nggak bisa ngejar cucu mama kalau lagi lari-lari, pikirkan lagi Vira..." kata Dewi.
"Ya nanti Vira pikirkan..." ucap Vira.
Sementara Firlan ke luar hotel setelah memesan satu kamar untuk Vira. Dia pergi ke sebuah butik untuk membelikan Vira baju ganti. Karena Firlan pikir tidak mungkin Vira akan tidur dengan gaun pesta seperti itu.
Hanya butuh 20 menit untuk Firlan sampai di sebuah butik. Pria itu turun dan masuk ke dalam butik yang menjual berbagai baju wanita.
"Selamat malam, Tuan..."
"Bawakan saya beberapa baju casual untuk wanita, size M..." kata Firlan.
Pria itu duduk di sofa sembari menubggu pelayan membawakannya beberapa potong pakaian.
Tak lama pelayan tadi datang dengan pakaian yang ada di tangannya.
"Silakan, Tuan..." pelayan itu menunjukkan satu persatu koleksi di butik itu.
"Saya ambil yang itu dan yang itu..." Firlan menunjuk dua buah dress casual yang sangat cantik.
Firlan pun segera bangkit dan menuju ke kasir. Ia memberikan sebuah kartu untuk digesek. Firlan menekan beberapa digit angka pada mesin EDC.
"Silakan, Tuan..." ucap si petugas kasir yang mengembalikan kartu milik Firlan beserta satu papper bag berisi dua potong pakaian.
Setelah mendapatkan pakaian untuk Vira, pria itu pun kembali menuju hotel.
"Vira pasti belum makan, dia kan tadi cuma makan gellato aja..." gumam Firlan yang kemudian menyalakan mesin mobilnya.
Pria itu kemudian menekan pedal gasnya, memacu kendaraan mewahnya itu menuju ke hotel tempat Vira akan menginap.
Dan saat ia tengah menyetir, ada panggilan masuk dari Alia.
"Ngapain nelfon?" gumam Firlan yang hanya melihat layar ponselnya.
"Hah, nggak usah diangkatlah. Nanti malah jadi ribet..." Firlan bicara dengan dirinya sendiri. Dia pun mengabaikan panggilan dari Alia.
Sedangkan gadis itu mendadak kesakitan saat berada di rumahnya. Dia mendial nomor Firlan untuk meminta bantuan, tapi pria itu tak kunjung menjawabnya.
Tak lama, Firlan sudah sampai di basement hotel, dia segera masuk ke dalam lift untuk naik ke atas.
Ting!
__ADS_1
Pintu lift pun terbuka, Firlan segera keluar dan berjalan menuju kamar 250.
Ting tong!
Firlan memencet bell. Dan beberapa detik kemudian Vira membukakan pintu untuknya.
"Kok lama?" tanya Vira berbisik.
"Ciyeeee, udah mulai kangen..." kata Firlan tersenyum penuh arti.
"Nih kartu akses buat kamar kamu," ucap Firlan.
"Bentar, aku ngomong dulu sama mama sama papa. Masuk," Vira menyuruh Firlan masuk.
"Ma, Pa ... Vira udah dapet kamar," kata Vira menunjukkan kartu yang ada di tangannya.
"Ya sudah kamu istirahat saja, Vira. Kamu pasti lelah..." kata Dewi.
"Terima kasih ya, Nak Firlan..." ucap Raharjo pada Firlan.
"Sama-sama, Om. Kebetulan kamar Vira ada di lantai ini juga, jadi dia bisa bolak balik kesini..." kata Firlan.
"Vira ke kamar dulu, ya Ma ... Pa..." kata Vira yang pamit ke kamarnya.
"Permisi, Om..." ucap Firlan.
"Tunggu Nak Firlan!" ucap Raharjo.
"Ada apa, Om?" Firlan berbalik menatap ayah dari kekasihnya itu.
"Kalian tidak menginap di kamar yang sama kan?" tanya Raharjo.
"Oh, tidak Om. Tenang saja, saya ada di kamar lain," Firlan menunjukkan kartu akses dari dalam saku jasnya.
"Syukurlah," ucap Raharjo.
"Kalau begitu saya permisi, Om..." kata Firlan,
Vira hanya geleng-geleng kepaka mendengar pertanyaan dari sang ayah.
Kemudian Firlan mengantar Vira menuju kamarnya. Dan mereka berhenti di kamar 265.
"Ini kamarnya," ucap Firlan.
Klik.
Pintu pun terbuka saat Vira membukanya dengan kartu akses. Mereka berdua masuk ke dalam.
"Kamarku ada di sebelah, di kamar 266. Oh ya, ini baju ganti buat kamu..." kata Firlan yang menyerahkan satu papoer bag di tangannya. Dia mendekat pada Vira yang berdiri dekat dengan ranjang.
"Makasih, harusnya nggak usah repot-repot," kata Vira yang kemudian menerima papoer bag itu.
__ADS_1
"Nggak ada yang repot kalau itu buat kamu," Firlan mendekatkan wajahnya.
...----------------...