Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Pagi-pagi Pencak Silat


__ADS_3

Pagi ini pria yang bernama Firlan Anggara sudah siap dengan setelan jasnya. Banyak hal yang akan ia kerjakan hari ini. Terlebih lagi dia harus memenuhi permintaan bos yang menginginkan lahan strategis untuk membangun cabang baru rumah sakit yang milik istrinya.


"Dia yang pengen kasih kejutan, aku lagi yang repot!" Firlan tak lupa menyeruput kopinya, ia hanya akan sarapan dengan roti yang sudah di toast dan mengoleskan selai cokelat di atasnya.


"Ayamku udah bangun belum ya?" gumam Firlan.


"Sial semalam ponselku mati setelah hilang sinyal! aku telfon sekarang aja!" Firlan menyeruput lagi kopi yang masih mengeluarkan uap panasnya dan kini tangannya mengambil ponsel yang ada di meja, ia mendial nomor Vira yang selalu ia sebut 'Ayamku'.


"Kenapa dia nggak angkat telfonku? apa dia marah?" Firlan heran karena Vira tak kunjung mengangkat panggilan darinya.


"Sekali lagi..." ucap pria itu lagi sembari mulutnya mengunyah roti yang ada di atas piring.


"Hanya ada dua kemungkinan, dia marah atau dia belum bangun!" kata Firlan yang menebak mengapa telfonnya tak kunjung diangkat.


.


.


.


Sedangkan di kediaman Alvaro. Gia nampak sudah rapi dengan baju sekolahnya, gadis kecil itu duduk dengan sangat tenang.


"Hari ini kamu mau sekolah?" tanya Gusti pada anaknya.


"Hu'um..." jawab Gia sambil meminum susu hangatnya.


"Gia, papi sudah bertanya pada Penny. Gia kemarin minta jajanan di pinggir jalan, ya?" tanya Gusti. Sedangkan Gia menjnduk dan merasa takut kalau papinya akan marah.


"Gia, papi sedang bicara dan bertanya pada Gia. Apa Gia memaksa Penny untuk membelikan makanan itu?" tanya Gusti lagi.


Gia hanya mengangguk, tak berani menjawab. Melihat kalau anaknya mendadak di, Gusti oun berinisiatif menggeser sedikit kursi Gia dan mengangkat putri kecilnya dan mendudukkannya di pangkuannya.

__ADS_1


"Papi hanya bertanya, papi tidak akan memarahi Gia. Hanya saja papi ingin Gia tau kalau papi sayang sama Gia. Papi nggak mau Gia sakit seperti kemarin..." kara Gusti mengusap kepala anaknya.


"Maafkan Gia, Piiih. Gia hanya penasaran bagaimana rasanya, karena Gia lihat banyak anak-anak yang membelinya," ucap Gia.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Sekarang Gia sudah tahu kemarin Gia sakit kenapa, dan sekarang papi minta supaya Gia bersikap baik hari ini..."


"Ini salah Gia, Gia yang memaksa Penny. Jadi Papi jangan marah pada Penny..." kata Gia.


"Papi sama sekali nggak memarahi Penny, papi hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena Gia anak papi ini jarang sekali sakit tapi kemarin Gia demam sampai 39 derajat. Papi khawatir dengan keadaan Gia. Papi sayang dan papi nggak tega liat Gia sakit begitu..." jelas Gusti dengan lembut.


"Gia mengerti, Pih..."


"Bagus, anak pintar! Sekarang Gia lanjutkan sarapan dan papi yang akan mengantar Gia hari ini ke sekolah..." ucap Gusti seraya meletakkan Gia di kursinya semula.


Sedangkan di sebuah kontrakan, Vira masih tertidur dengan nyenyaknya. Wanita itu terlelap setelah lewat dari jam 3 pagi. Vira yang tak jago begadang akan sulit bangun pagi jika malamnya tidurnya terganggu atau kurang berkualitas. Apalagi semalam badannya diserang derasnya air hujan, membuat badannya tak mampu untuk menyapa matahari pagi.


Ponsel ia silent, jadi siapapun tak akan ada yang bisa mengusiknya dari mimpi yang indah. Namun, harapan tidur dengan nyemyak rasanya tidak bisa direalisasikan, karena tiba- tiba saja ada suara berisik dari luar.


Dua orang sedang terlibat adu mylut, membuay Vira msu tak mau bangun dari tidurnya.


Vira yang tak jelas apa yang membuat dua wanita itu saling berteriak pun akhirnya bangun dan mencoba keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi.


"Kalau punya kucing di jagain dong! tuh liat, dia pup di motor sayah!" ucap si ibuk yang udab siap dengan dandanan menornya sepertinya mau berangkat ke pasar.


"Heh, Bu. Namanya juga hewan, ya maklumin aja. Ibu tinggal bawa ke tempat cucian motor nnati saya bayarin obgkosnya. Nggak usah pakai teriak-teriak ngata-ngatain kucing saya nggam beradab ya!" si ibu dengan roll rambut yang masih nangkring di kepalanya tak mau kalah.


"Bu ibuk ... mohon volume suaranya kecilin dikit ya, Bu. Karena saya masih ngantuk dan mau tidur lagi, ibu-ibu ngobrolnya kekencengan," ucap Vira dengan suara khas orang baru bangun tidur.


"Dieeeeeeem!" kedua ibu-ibu itu kompak memarahi Vira.


"Sabar bu ibu..." ucap Vira.

__ADS_1


Vira yang menyadari posisinya tidak aman pun memilih kembali masuk ke dalam rumah.


"Astaga galak banget, dah! aku kan cuma bilang jangan keceng-kenceng, malah disemprot!"


"Tadi tuh aku kira kenapa, suaminya selingkuh apa gimana. Ternyata cuma perkara meong pup sembarangan!" ucap Vira yang kembali masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu.


Vira yang masih ngantuk pun sekarang tiduran di sofa ruang tamu.


"Ganggu banget pagi-pagi udah merong-merong. Mereka nggak tau apa ada tetangga mereka yang semalem begadang dan masih butuh istirahat!" Vira pun menggerutu, namun matanya terpejam. Ia tertidur untuk beberapa saat menuntaskan rasa kantuknya.


Setelah kurang lebih 15 menit, kali ini Vira bangun bukan karena ibu-ibu tadi mulai lagi pencak silatnya, tapi karena perutnya yang sudah tidak tahan ingin segera diisi.


Kruuuuuk kruuuukkkk.


Suara perut Vira mengeluarkan bunyi.


"Astaga, aku masih ngantuk! kenapa kamu malah pengen dikasih makan!" gerutu Vira yang kemudian berjalan ke arah dapur dengan langkah gontai tak bertenaga setelah mencuci muka bantalnya di kamarandi tentunya.


"Aku belum belanja lagi, adanya cuma mie..." Vira sudah tak tahan ingin makan sesuatu.


"Daripada aku pingsan karena kelaparan," Vira meraih mie instant berukuran jumbo, dia membukanya dan segera memanaskan air di dalam panci. Cukup 5 menit mie goreng dengan telur pun sudah jadi, ia tambahkan potongan daun bawang dan juga cabe rawit membuatnya segera ingin melahap makanan yang sudah pasti enak dilidah.


"Mie instant emang nggak akan pernah salah! selalu enak!" puji Vira. Wanita itu makan dengan sangat lahap.


Dia sangat menikmati sarapannya, dan melupakan satu benda pipih yang semalaman ia genggam. Rasa manis dan pedas bercampur menjadi satu menciptakan sebuah harmonisasi rasa enak di dalam mulutnya.


Setelah menghabiskan satu mangkok mie instant jumbo, Vira membuka lemari pendinginnya untuk mengambil susu.


"Biar tambah kenyang!" Vira menuang susu rasa cokelat dan minumnya sampai tandas.


"Dan kalau sudah kenyang, aku jadi ngantuk lagi. Hoaaaaaammmmph..." ucap Vira yang menguap.

__ADS_1


Namun sebuah tanggung jawab membuatnya untuk melawan rasa kantuk itu dengan cara mandi dan juga bersiap ke tempat privatnya untuk mencari rezeki.


...----------------...


__ADS_2