
Vira mempunyai ide. Dia bangkit dari pangkuan kekasihnya.
"Mau kemana?" tanya Firlan.
"Mau balikin nih makanan kepada pemiliknya, takut ada apa-apanya..." kata Vira yang membawa nampan itu keluar.
"Ya ampun, mau ngapain dia?" Firlan mengikuti Vira daru belakang.
Wanita itu menaruh nampan yang berisi dua mangkuk yang di tutup rapat di depan pintu unit milik Andini.
Vira memencet bel berkali-kali tanpa jeda, dan ketika pintu dibuka, dia segera lari dan masuk ke dalam unit milik Firlan.
"Akkh!" Vira memekik saat jidatnya menabrak dagu Firlan.
"Astaga, kenapa kamu lari-lari..." Vira membekap mulut Firlan.
"Ssut, diem," ucap Vira.
Dia membuka pintu sedikit untuk mengintip bagaimana reaksi si tetangga yang ternyata mantan dari tunangannya. Andini membawa nampan itu masuk dengan wajah yang sangat kesal.
Vira menutup pintu kembali.
"Ngintip-ngintip, ngapain sih nggak jelas banget?" tanya Firlan.
"Pengen liat bikin kesel mantan kamu itu!" Vira berjalan ke arah dapur. Ia mengambil minuman kemasan yang ada disana.
Firlan yang memang masih belum begitu sehat memilih untuk melepas jasnya dan membuka satu kancing kemeja biru yang dia kenakan. Pria itu kembali duduk di sofa.
"Masih nggak enak perutnya?" tanya Vira yqng sebenarnya kasihan juga melihat Firlan yang masih sakit.
"Cuma pengen istirahat aja,"
"Ganti baju dulu, nanti aku buatin teh anget..." suruh Vira.
Firlan mengangguk dia segera pergi ke kamar untuk mengganti bajunya.
"Kayaknya aku harus cari apartemen yang baru!" gumam Firlan.
Malam itu Vira pulang ke kontrakannya. Walaupun Firlan sebenarnya ingin Vira malam itu menginap di unitnya, tapi wanita itu menolak dengan berbagai macam alasan. Apalagi saat melihat Firlan sepertinya sudah membaik.
Keesokan harinya seperti biasa, Vira mengajar kelas khusus untuk Gia. Gadis kecil itu emakin lama semakin mahir dan bisa bermain dengan imajinasinya. Ketika kelas selesai, gadis kecil itu meminta untuk Vira makan malam dengannya.
"Bagaimana ya, Sayang? tapi hari ini tante ada janji dengan teman tante, rumahnya kebetulan sangat jauh dari sini jadi sebentar lagi tante harus kesana..." ucap Vira, Gia tak bisa menyembunyikan wajah kecewanya.
"Maaf ya, Sayang..." ucap Vira lembut.
"Baiklah..." ucap Gia.
"Jangan cemberut, nanti cantiknya luntur..." Vira tersenyum pada gadis kecil dengan rambut panjang yang terurai.
"Kalau begitu kita pulang sekarang ya, Non?" tanya Penny.
"Ya..." jawab Gia singkat.
"Tante, Gia pulang ... dadah!" Gia melambaikan tangannya pada Vira.
Terkadang kita harus tegas terhadap sesuatu meskipun itu sangat sulit untuk dilakukan.
Vira memandangi gadis kecil itu hingga ia tak terlihat lagi.
"Kok ngelamun sih, Kak?" tanya Fidya.
"Jangan banyak ngelamun, Kak. Nanti kena sawan!" imbuh Zanna.
Ya, hubungan antara Zanna dan Vira sudah kembali seperti semula. Hari ini Zanna tampil dengan warna rambut yang lebih terang. Kata Zanna kemarin di salon ada promo untuk colouring rambut, dan akhirnya dia ingin mencoba untuk mngubah warna rambutnya yang hitam menjadi cokelat terang. Dan itu semakin mempertegas kulit putihnya.
"Siapa juga yang ngelamun?" jawab Vira telat.
"Saya mau ke suatu tempat. Jadi saya duluan ya? kalian yang akur..." ucap Vira yang kini menyambar tasnya dan pergi keluar.
Hari ini dia akan mengendarai sepeda motor untuk pergi ke rumah sahabatnya.
"Halo, Ta? aku ke rumah kamu sekarang, ya?" ucap Vira yang memberi tahu terlebih dahulu ketika dia akan tancap gas ke rumah Amartha.
"Hemmm, aku tunggu!" jawab Amartha.
.
.
.
Sementara di kantor.
Firlan duduk di ruangan Satya dengan ditemani puluhan pack sarang burung dan juga madu.
__ADS_1
"Gila kamu ya, Lan? untuk apa kamu bawa sarang madu sebanyak ini?" ucap Satya memijit pangkal hidungnya. Sedangkan Firlan memandangnya cuek.
"Takutnya kalau saya bawa sedikit, nanti saya disuruh balik lagi..."
"Kemarin saya mengambil satu dan rasanya ma nis, itu juga kata Vira..." tambah Firlan.
"Kamu ambil lagi beberapa, Amartha nggak mungkin makan sarang madu setiap hari..." kata Satya.
"Saya bawa ini dengan susah payah loh, Tuan. Anda benar-benar tidak menghargai jerih payah saya melawan para lebah itu!" ucap Firlan mendramatisir keadaan.
"Kamu bisa bagikan pada Maura ... dan madu yang ini juga," Satya menunjuk botol madu.
"Anda sangat merepotkan jika anda tau, Tuan!" kata Firlan.
"Tapi aku tidak menyuruhmu membawa sebanyak ini Firlan! aku hanya meminta beberapa pack saja,"
"Ya anda bisa menghabiskannya bersa istri anda di rumah, Tuan!"
"Astaga, Firlan! kau benar-benar, ya!"
Sebelum Bbisnya berubah menjadi siluman macan, Firlan lebih baik kabur dengan membawa beberapa pack sarang madu dan juga botol madu.
"Ra, Nih! di kasih sama bos!" kata Firlan seraya memberikan 3 pack sarang madu dan juga beberapa botol madu murni.
"Dalam rangka apa?" tanya Maura.
"Yang jelas bukan dalam rangka hari kemerdekaan! sudah ya, aku mau pulang!" kata Firlan yang ngeloyor pergi.
"Ini kan yang sering buat acara mukbang kan ya?" Maura melihat isi yang ada di dalam kotak bening.
Firlan kembali ke ruangannya, ketika akan membereskan mejanya, ia teringat kalau ia ingin membeli satu unit apartemen lagi. Karena jarang antara rumah dan kantor sangat jauh. Firlan pun menelepon seseorang untuk mencarikan hunian baru untuknya, agar ia tak usah lagi bertetangga dengan Andini.
Sementara di rumah Amartha, Vira sedang bermain-main dengan Evren.
"Eh, tunggu-tunggu! ini cincin kayaknya baru liat," Amartha meraih satu tangan Vira dan menunjuk cincin di jari manis wanita itu.
"Oh, ini ... ini tuh cincin..." ucap Vira menggantung.
"Jangan- jangan kamu sama kak Firlan udah lamaran?" tanya Amartha.
"Heehehehr," Vira tak bisa mengelak, dia hanya bisa nyengir memperlihatkan gigi putihnya.
"Astaga, jadi bener kamu udah lamaran? kalian berdua?"
"Ya ampuuun, selamat ya ... akhirnya kalian dapat restu juga, terus kapan rencananya kalian akan menikah?"
"Masih lama, sekitar 3 bulanan lagi lah..." ucap Vira.
"Jangan salah, 3 bulan itu cepet banget! kasih tau aku, aku bisa bantu apa? atau kita nanti bisa hunting gaun pernikahan, ih ... aku ikut seneng deh, akhirnya kamu mau nikah juga!" Amartha sangat antusias.
Tok.
Tok.
Tok.
"Ya, masuk!" ucap Amartha.
"Tuan sudah pulang, Nyonya..." ucap bik Surti.
"Pegang Evren dulu, Bik ... biar saya lihat ke bawah," kata Amartha seraya menyerahkan Evren pada bik Surti.
Mendengar jika suami Amartha sudah pulang ke rumah itu, Vira mendadak ingin pamit.
"Ta, aku pamit pulang ya?" ucap Vira.
"Baru main bentar, masa iya pulang. Disini dulu aja lah, kita juga belum cerita-cerita..."
Namun tak lama, iaendapat telepon dari Firlan.
"Ay? kamu dimana?"
"Di rumah Amartha. Ini mau mau balik, kenapa?" tanya Amartha.
"Ibu nyuruh kita ke rumah," ucap Firlan.
"Nyuruh ke rumah? sekarang?" tanya Vira.
"Iya sekarang, ya udah aku jemput sekarang ya?" Firlan langsung emmatikan sambungan telepin itu. Vira mengerutkan keningnya.
"Tumben?" Vira mengendikkan bahunya.
"Kenapa, Vir?" tanya Amartha.
"Ini calon mertua nyuruh ke rumahnya, nyuruh aku sama kak Firlan kesana," sahut Vira.
__ADS_1
"Ya bagus, dong! biar cepet akrab!" kata Amartha.
"Tapi kamu mau langsung kesana? mending kamu mandi disini dulu aja deh, rapi-rapi dulu namanya mau ketemu sama calon mertua. Aku ada baju yang masih baru, belum pernah aku pakai, nanti aku anterin bajunya..." kata Amartha.
"Nggak usahlah, ngerepotin!" tolak Vira.
"Nggak ngerepotin, yuk. Aku anter ke kamar tamu! biar kamu bisa nyegerin badan sambil nungguin kaka Firlan," kata Amartha.
"Udaaaah, nggak usah mikir!" Amartha menarik lengan Vira untuk mengikutinya ke lantai bawah.
Ketika sampai di lantai bawah, Amartha melihat suaminya menyuruh salah satu oelayan di rumah mereka untuk membongkar kardus dan mengeluarkan isinya.
"Sore, Mas! udah pulang..." Amartha menyalami tangan suaminya sementara Satya dengan cepat menarik tubuh Amartha dan mencium kening istrinya itu. Vira yang melihat itu jadi salah tingkah sendiri.
Astaga, masih ada orang ini ya ampuun, batin Vira.
"Sengaja pulang cepet. Oh ya, ini pesanan kamu, Sayang. Sarang madu..." ucap Satya sambil menunjuk sarang madu yang dipack rapi dan sedang di taruh di meja di ruang keluarga.
"Sebanyak ini? buat apa?"
"Tau tuh! kerjaannya pacar temen kamu!" ucap Satya.
"Siapa?"
"Firlan, siapa lagi?"
"Oh, kak Firlan..." ucap Amartha.
"Udah lama nggak kesini, Vir?" tanya Satya yang akhirnya menyadari keberadaan sahabat istrinya.
"Iya, lumayan nggak lama-lama banget, sih!" sahut Vira.
"Ya udah, aku anter Vira ke kamar tamu dulu ya, dia mau dijemput kak Firlan katanya mau ke rumah ibunya kak Firlan. Ternyata merek udah tunangan tau, Mas!"
"Oh ya?" Satya menaikkan satu alisnya.
"Selamat ya, Vir!"
"Iya makasih..."
"Ya udah aku anterin Vira dulu. Mas duluan aja ke kamar, nanti aku nyusul!" ucap Amartha yang menarik Vira ke kamar tamu.
Ceklek!
"Ini kamarnya, udah ada sabun di dalam. Nanti aku anterin baju kesini. Aku ke atas dulu," kata Amartha.
"Makasih ya, Ta..." ucap Vira.
Amartha kemudian menutup pintu dan meninggalkan Vira di kamar itu. Vira segera mandi karena dia takut kalau nanti Firlan keburu datang. Dan kalau dipikir-pikir, benar juga kata Amartha. Setelah seharian kerja, pasti muka udah kucel. Vira pun bergegas membersihkan dirinya di kamar mandi setelah ia mengunci pintu kamar terlebih dahulu.
Sementara Amartha dia membuka lemari yang berisi baju-bju yang belum pernah dia pakai. Se Etwlah menemukan baju yang cocok untuk Vira, Amartha pun berjalan ke arah kamar mandi. Dia mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
"Mas, aku turun dulu ke bawah, ya? bajunya udah aku siapin di atas tempat tidur," seru Amartha.
"Yaaaaaa!" jawab Satya.
Amartha segera keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
Ketika sampai di bawah, ia bertemu dengan Sasa.
"Nyonya, ada asistennya tuan di ruang tamu..."
"Kak Firlan? ya udah. Kamu tolong kasihnini buat Vira, biar saya temui kak Firlan dulu.
.." ucap Amartha sembari menyerahkan baju pada Sasa.
"Baik, Nyonya..." jawab Sasa.
Amartha pun bergerak menuju ruang tamu.
"Mau jemput Vira ya, Kak?" tanya Amartha.
"Eh, Nyonya. Iya ... dimana dia?" tanya Firlan seraya bangkit dan sedikit menunduk sebagai tanda hormat.
"Sebentar, dia lagi bersiap-siap..." kata Amartha. Firlan duduk lagi begitu juga dengan Amartha.
"Oh ya, selamat ya atas pertunangan kalian. Akhirnya kabar baik itu datang juga..." lanjut wanita yang merupakan istri dari bosnya.
"Terima kasih, Nyonya..."
"Aiiih, jangan panggil Nyonya. Aku belum setua itu!" protes Amartha.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1