
3 bulan kemudian...
Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Hari ini Vira sedang dirias lengkap bunga melati yang menghias sanggulnya. Dia melihat pantulan dirinya di cermin. Wanita utu tersenyum, namun ada satu hal yang sepertinya mengganjal di hatinya. Dan Pikirannya pun melayang pada gadis kecil yang sangat ia rindukan
Setelah terungkap kebohongan Andini perihal kehamilannya, Gia sudah tidak pernah muncul lagi di tempat lesnya. Seseorang datang membayarkan biaya privat padahal bulan itu Gia hanya masuk satu atau dua kali, namun nominal yang dibayarkan orang itu sungguh diluar dugaan.
Uangnya sampai saat ini masih belum tersentuh oleh Vira. Dia mencoba mebghubungi Gusti namun sayang, pria itu tak pernah mau mengangkat panggilannya sampai saat ini.
Pernah sekali Vira mencoba untuk mendatangi perusahaan milik pria itu namun hasilnya nihil.
"Permisi, saya Vira. Saya ingin bertemu dengan Gusti Alvaro..." ucap Vira pada seseorang yang ditemuinya di meja receptionist.
"Apakah Nona sudah membuat janji sebelumnya?" tanya wanita yang ada di hadapan Vira.
"Belum," jawab Vira jujur.
"Kalau begitu, tunggu sebentar. Saya akan mencoba menghubungi sekretaris tuan Gusti terlebih dahulu..." ucap wanita itu.
Wanita itu menelefon dan berbicara entah dengan siapa.
"Maaf, Nona. Saat ini Tuan tidak bisa ditemui, beliau ada rapat penting..." ucap wanita itu.
"Oh begitu, ya? baiklah, terima kasih..." ucap Vira yang duduk di sofa lobby, berniat untuk memesan ojek online.
Namun, tanpa disadarinya Gusti berjalan dari arah lift dan sekilas melihat Vira yang tengah fokus pada ponsel yang ada di tangannya. Pria itu hanya menengok sebentar lalu kembali berjalan keluar menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan lobby.
"Silakan, Tuan..." ucap supir yang berada di kursi kemudi.
"Cepat, jalan!" suruh Gusti. Dan bertepatan dengan mob Gusti yang bergerak menjaug, ojek yang dipesan Vira datang. Wanita itu nampak menggunakan helm yang ditawarkan si tukang ojek. Gusti menengok ke belakang beberapa detik kemudia ia menatap ke depan kembali.
"Maaf, Vira. Aku harus menjauhkan Gia dari kamu, aku tidak ingin hati putriku terluka..." ucap Gusti yang teringat pada satu malam dimana Gia mengatakan sesuatu padanya. Gadis itu berjalan mendekat dan duduk di pangkuannya saat ia berada di dalam ruang kerjanya.
Putri kecilnya itu mengatakan kalau dia menginginkan Vira tinggal bersama dengan mereka di dalam satu rumah. Hal itu sukses membuat Gusti merasa sangat sedih karena apa yang diminta Gia tak akan pernah terwujud.
Gia saat itu juga menanyakan kenapa dia sudah tidak boleh belajar melukis di tempat Vira, dan lagi-lagi Gusti harus mencari alasan yang tepat agar Gia mau menurut dan tidak merajuk. Gusti mengatakan kalau Vira sudah tidak mengajarkan melukis, semua yang mengajari anak-anak merupakan tutor lain dan Gusti menanyakan apakah jika tutornya bukan Vira Gia masih mau belajar melukis disana. Gia oun menggeleng, Gusti memeluk putrinya. Baru kali ini dia berbohong, dan dia sangat merasa bersalah.
Setelah beberapa saat pikirannya melayang, Vira kembali tersadarkan saat ibunya masuk ke dalam kamar pengantinnya.
"Sudah siap?" tanya Dewi pada Vira.
__ADS_1
"Sudah, Maa..." sahut Vira.
Vira berjalan dengan dipapah Dewi, bukan karena sakit. Tapi takut kesandung, karena Vira sudah insecure dengan high heels yang dipakainya perkara ketinggian dan dia belum terbiasa.
Di dalam ballroom sudah ada meja yang ditata sedemikian rupa. Disana ada deretan kursi yang memanjang dan sudah diduduki oleh para saksi pernikahan.
Mata Firlan tak bisa mengedup meski hanya sedetik, dia begitu terpukau pada burung beo yang kini menjelma menjadi burung cendrawasih. Sangat anggun dan cantik.
"Liat ke depan! bisa kesleo tuh leher, nengok mulu!" lirih Vira saat sudah duduk di kursi di samping Firlan.
"Dia keliatan anggun selama nggak ngomong!" gumam Firlan.
Seseorang memasangkan kain putih panjang diatas kepala Vira dan Firlan.
Dan kini pria itu menjabat tangan penghulu untuk mengucapkan satu kalimat sakral, dan dengan satu kali tarikan nafas Firlan berhasil mengucapkan kalimat yang menjadi perjanjiannya dengan tuhan. Dan diiringi seruan kata saah dari para saksi dan para hadirin yang datang di ballroom itu.
Dan saatnya mereka menandatangani semua dokumen.
"Viraaaa, bukan disitu!"
"Kenapa?"
"Astagfirllah!" Vira baru menyadari kalau dia menandatangani dokumen atas nama Firlan Anggara.
Firlan hanya bisa geleng-geleng kepala, sedangkan sang pengantin wanita hanya bisa nyengir karena salah menandatangani dokumen.
"Tolong nanti diurus lagi ya, Pak?" ucap Firlan pada penghulu yang menikahkan mereka berdua.
Meninggalkan kejadian tadi, Firlan dan Vira pun berfoto dengan memegang buku nikah mereka berdua.
Tak banyak prosesi yang mereka lakukan, setelah ijab selesai lanjut pada acara resepsi. Kali ini Firlan tidak ingin dipajang di pelaminan. Firlan ingin menyapa langsung para undangan yang datang ke acara pernikahan mereka.
"Kenapa juga nggak duduk disana?" Vira menunjuk kursi pelaminan yang ada di panggung.
"Kenapa emang?"
"Kaki aku pegel, ini haknya tinggi banget kalau kamu pengen tau!" Vira nampak gelisah.
"Ya tinggal copot aja, gampang kan?" Firlan menunduk dan melepaskan kedua sepatu Vira dan alhasil pengantin wanita berdiri tanpa alas kaki.
__ADS_1
Gelo emang ini suami! Batin Vira.
Dan tak lama, sahabatnya datang dengan anak dan suaminya.
"Weew, pengantin baru! selamat ya, akhirnya sah juga," ucap Amartha seraya memeluk Vira kemudian menjarak tubuhnya kembali.
"Makasih ya, Ta ... udah dateng kesini!" ucap Vira.
"Pastilah aku dateng, masa iya sahabat sendiri nikah aku nggak dateng sih!" sahut Amartha.
Satya yang menggendong Evren menaikkan alisnya melihat Firlan menenteng sepasang high heels.
"Pengantin wanitanya nyeker nih ceritanya?" celetuk Satya.
"Ya begitulah!" jawab Firlan malas
"Hey, kenapa wajahmu tidak menampilkan ekspresi bahagia?" sindir Satya.
"Anda jangan mulai, Tuan!"
"Mas, jangan rese, deh!" Amartha menyenggol lengan suaminya.
"Hahahah, kamu gampang sekali marah, Lan? oh ya, ini hadiah dari kami. Paket liburan ke Swiss. Manfaatkan momen ini untuk healing biar otak kamu tidak spaneng terus!" ucap Satya sembari memberikan sebuah amplop pada asistennya.
"Hanya paket liburan? bonusnya tidak sekalian?" tanya Firlan.
"Aiiiishhh, kau ini sungguh tidak berterima kasih! nanti saya transfer setelah ini!" kata Satya.
"Nah, kalau begini kan jadi saya benar-bebar healing!" Firlan nyengir.
"Sekali lagi selamat," ucap Satya.
"Terima kasih, Tuan..." ucap Firlan, Vira hanya tersenyum.
"Selamat ya Vir, semangat!" ucap Amartha penuh arti sebelum pergi meninggalkan sepasang pengantin itu.
"Semangat? apaan!" gumam Vira.
Dan ketika Amartha dan Satya pergi, ada seseorang yang menghampiri sang pengantin baru, dia menggandeng seorang anak kecil.
__ADS_1
"Mas Gusti?" cicit Vira. Firlan pun mengikuti arah pandang wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
...----------------...