Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Besok Atau Lusa Sama Saja


__ADS_3

"Syukurlah, makan pelan-pelan aja. Perut kalau udah perih terus tiba-tiba diisi banyak makanan, yang ada begah nantinya..." ucap Firlan.


"Atau mau aku pesenin soft puding?" lanjut Firlan.


"Nggak usah, ini aku udah kenyang kok..." ucap Vira.


"Beneran?" tanya Firlan.


"Iya, Ay ... beneran, perut aku udah nggak apa-apa..."


"Tadi siang kamu makan apa nggak?" tanya Firlan.


"Makan, Ay ... mungkin efek kecapean ditambah laper karena habis treatment juga..." jawab Vira.


"Ya udah, nanti kalau tiba-tiba perutnya sakit lagi, kita pergi ke ke rumah sakit," kata Firlan.


"Pantesan biasanya pesen minuman dingin, ini kok pesennya minuman panas," lanjut Firlan.


"Iya kalau udah mau sakit gitu kan kalau minum dingin nanti tambah nggak karuan rasanya..." ucap Vira.


"Oh, ya? besok kita ke rumah Ibu. Aku udah bilang kalau aku dateng dengan calon menantunya,"


"Uhukkk, uhukk!" Vira mendadak tersedak.


"Hey, kenapa? minum minum..." Firlan menyodorkan minuman pada Vira, beruntung teh yang tadinya panas kini mulai berubah suhu menjadi hangat.


"Udah?" tanya Firlan, Vira mengangguk.


"Kenapa sampai tersedak kayak gitu?" tanya Firlan lagi.


"Nggak apa-apa, cuma kaget aja kan kita rencananya hari minggu mau ke rumah Ibu kamu, Ay. Kok mendadak dimajuin besok? aku kan belum siapin mental," jelas Vira.


"Iya tadi Ibu telfon, ya udah aku refleks bilang besok kita akan kesana. Lagian besok atau pun lusa kan sama saja, akhirnya ketemu ketemu juga sama Ibu. Udah kamu itu nggak usah over thingking, aku yakin Ibu bakal ngerestuin kita..." ujar Firlan, tapi bagaimanapun sebagai wanita Vira pasti merasakan nervous bertemu dengan ibu dari pria yang akan mengajaknya ke jenjang yang lebih serius.


Setelah makan malam, Firlan mengajak Vira untuk pulang. Tapi di tengah perjalanan, Vira bertanya pada kekasihnya itu.


"Ay? besok aku pakai baju apa, ya? pakai dress atau pakai casual?" tanya Vira.


"Terserah kamu, Ay. Kamu pakai apa aja tetep cantik kok,"


"Aih, jawaban menyebalkan!" gerutu Vira.


"Hahahah, ya udah, pakai dress yang waktu itu aku belikan. Bagus sopan dan bikin kamu tambah cantik," kata Firlan.


Dan setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit, mereka berdua sampai di kontrakan Vira.


"Kita udah sampai," ucap Firlan. Pria itu segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Vira.


"Makasih ya, oh ya ini kartunya..." Vira mengeluarkan sebuah kartu yang baru saja dipakainya.


"Pegang aja,"


"Pegang aja?" Vira mengernyit.


"Maksudnya, pegang dan pakai buat kamu beli apapun yang kamu mau. Kita kan sebentar lagi akan menikah, uangku akan menjadi uangmu. Dan aku ingin kamu bisa fokus menjadi ibu rumah tangga dan nggak bekerja lagi," kata Firlan.

__ADS_1


Vira tak bisa menjawab apa yang dikatakan oleh kekasihnya. Karena sampai detik ini dia masih ingin menghasilkan uang dari kemampuannya sendiri. Tapi yang namanya rumah tangga kan tidak boleh egois, jadi Vira memutuskan untuk membicarakannya dengan Firlan lain waktu.


"Istirahat, ya?" ucap Firlan seraya menberikan dua papper bag milik Vira.


"Isinya apaan? kok berat?" tanya Firlan.


"Alat painting sama oleh-oleh dari salah muridku..." kata Vira.


"Oh, aku kira apaan..."


"Aku pulang ya? udah malem, nanti aku telfon kalau udah nyampe rumah," ucap Firlan.


"Hati-hati, nggak usah ngebut!" kata Vira, Firlan tersenyum sambil mengelus pipi kekasihnya.


"Kamu masuk gih, udara lagi dingin..." kata Firlan.


"Nanti kalau kamu udah masuk mobil," ucap Vira.


"Aku pergi..." kata Firlan. Pria itu berjalan dan masuk ke dalam mobilnya. Vira pun mrlambaikan tangan saat mobil Firlan perlahan menjauh dari pandangannya. Wanita itu pun berjalan masuk ke dalam rumah.


.


.


.


Pagi menjelang, matahari menyelinap dari celah korden yang sedikit tersibak. Seorang gadis masih tertidur lelap, sepertinya dia lupa kalau hari ini dia ada janji dengan kekasihnya untuk menemui calon mertuanya.


Drrrrrttt.


Drrrrrttt.


Drrrrttt.


Drrrrrtt.


Ponsel itu masih saja bergetar, satu tangan Vira mencoba menggapai ponselnya.


"Halo?" sapa Vira tanpa melihat siapa orang yang sepagi ini meneleponnya.


"Halo, Ay? kamu baru bangun tidur?" tanya seorang pria diseberang telepon.


"Eh, Ay? iya, aku baru aja bangun..." jawab Vira setengah sadar.


"Kamu nggak lupa kan kalau kita mau ke rumah Ibu?" tanya Firlan.


"Eh, iya iya inget kok. Ini bentar lagi aku mau mandi biar wangi..." kata Vira yang kini bangun dari tidurnya.


"Ya udah, cepetan siap-siap. Aku lagi beli makanan buat kita sarapan bareng, habis ini aku ke kontrakan..." ucap Firlan.


"Iya, ini aku langsung mandi. Ya udah ya, bye!" Vira menutup teleponnya dan melesat ke dalam kamar mandi.


Vira menutup rambutnya dengan hair cap, supaya rambutnya yang kemarin habis di masker tidak terkena air. Tak perlu banyak waktu untuk Vira melakukan ritual paginya. Wanita itu segera keluar dengan keadaan yang sangat segar. Ia melepas hair cap yang menutupi kepalanya dan segera mengeringkan tubuhnya dan memakai dress yang dibelikan oleh Firlan waktu itu.


Vira memoles wajahnya dengan make up tipis, tak lupa ia menyikat bulu matanya dengan mascara. Vira kini beralih pada alisnya, ia membentuk alisnya senatural mungkin.

__ADS_1


"Tinggal nge-blow nih rambut," Vira segera mengeluarkan alat untuk membentuk rambutnya lebih bervolume.


Tok.


Tok.


Tok.


Dan terdengar suara pintu diketuk.


"Ya, sebentaaaaaarrr!" seru Vira dari dalam kamar.


Vira segera mencabut alat listrik yang baru saja digunakannya dan segera keluar dari kamar.


Ceklek.


Vira membuka pintu untuk mengetahui siapa datang.


"Ayang?" cicit Vira.


"Kok cepet banget?" tanya Vira.


"Emang harus berapa lama lagi? orang waktu telepon itu kan aku udah bilang kalau aku lagi beli makanan buat kita sarapan," ucap Firlan.


"Masuk," Vira menggeser tubuhnya memberi akses Firlan untuk masuk ke dalam.


Firlan yang sudah membuka alas kakinya langsung masuk ke dapur yang menyatu dengan meja makan.


"Bawa apa?" tanya Vira.


"Bubur ayam. Kamu kan kemarin lambungnya agak sakit, kan? jadi pagi ini biar makan bubur aja, biar lambung kamu bekerja lebih ringan..." jelas Firlan yang menaruh satu kantong keresek di atas meja makan.


Vira mengambil mangkok dan piring untuk memindahkan bubur ayam dengan kuah kuning itu dan menaruh beberapa tusuk sate telur puyuh di piring.


"Mau minum apa?" tanya Vira.


"Teh anget aja, tanpa gula..." ucap Firlan.


"Teh tawar?"


"Iya, kalau makan bubur kayak gini enaknya min teh tawar," yjar Firlan.


Vira pun segera membuatkan Firlan teh tawar hangat, sebenarnya bukan hanya untuk Firlan tapi juga untuk dirinya.


"Minumnya Ay..." Vira menyodorkan satu mug besar berisi teh tawar hangat.


"Makasih ... kita makan sekarang," ucap Firlan.


Vira dan Firlan pun mulai menikmati sarapan paginya dengan semangkok bubur hangat yang pastinya nyaman di perut.


Vira menambahkan sambal dan kecap manis ke dalam buburnya.


"Jangan terlalu banyak sambal, inget lambung..." kata Firlan.


"Iya iya, ini juga cuma sedikit kok..." Vira manyun.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2