Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Ending


__ADS_3

"Selamat, ya?" ucap Gusti namun matanya tak bisa membohongi kalau hatinya sangat terluka. Vira mencoba tersenyum.


"Terima kasih," kini Firlan yang menjawab ucapan selamat dari Gusti.


"Tante?" panggil gadis kecil yang ada di samping Gusti.


"Hai, cantik! lama nggak bertemu," ucap Vira, dia sedikit berjongkok untuk menyamai tinggi Gia.


"Kata papi, hari ini tante menikah..." kata Gia.


"Iya, Sayang..." Vira menjawab tapi matanya melirik ke arah ayah Gia.


"Betul, dia milikku sekarang!" ucap Firlan. Nun dengna segera Vira menabok betis pria itu.


PLAAAKK!


"Awwwhh! sadis banget kamu, Ay. Main teplakin kaki aja!" Firlan menggosok-gosok betisnya yang kena gamparan Vira.


"Om itu suami, Tante?" tanya Gia.


"Oh ini? iya, Sayang..." Vira menjawab sedikit kaku.


"Dia tidak lebih ganteng daripada Papi..." celetuk Gia.


"Hah?" Vira kaget mendengar ucapan Gia, antara pengen ketawa karena melihat ekspresi Firlan yang sudah pasti gregetan dengan gadis kecil yang menatap Vira dengan lekat.


"Gia tidak boleh bicara seperti itu! maaf ya, Lan. Ucapan Gia tadi tidak usah diambil hati, maklum anak-anak suka terlalu jujur," kata Gusti yang tidak lebih baik dari ucapan putrinya.


"Berarti Gia sudah tidak bisa bertemu dengan tante?" ucap Gia sedih.


"Kenapa tante tidak menikah dengan papi dan malah menikah dengan om galak itu?" tunjuk Gia pada Firlan.


"Karena aku yang..." Firlan mulai bicara namun segera diserobot oleh Vira.


"Kita masih bisa ketemu, kok Sayang. Jangan khawatir..."


"Ups, aku cari-cari kalian. Ternyata kalian ada disini..." ucap seorang wanita yang muncul drai arah belakang Gusti.


"Maaf aku toiletnya agak lama..." kata wanita itu lagi.


"Nggak apa-apa, Kay..." kata Gusti.


"Oh ya Vira, kenalkan, ini Kaylee..." ucap Gusti pada Vira.


"Hai, selamat ya? aku Kaylee, teman dari pria ini" ucap Kaylee sambil menyebggol lengan Gusti pelan, lalu ia menjabat tangan Vira dan juga Firlan secara bergantian.


"Hai aku Vira dan ini suamiku, Firlan..." Vira membalas jabatan tangan wanita yang sangat cantik dengan biru tuanya. Firlan hanya tersenyum seadanya.


"Oh ya ini dari kami, semoga kamu suka..." kata Kayle memberikan satu kotak pada Vira.

__ADS_1


"Terima kasih..."


"Kami nggak bisa berlama-lama, karena kebetulan kami bertiga akan pergi ke sidney nanti malam. Sekali lagi selamat," ucap Gusti pada Vira.


"Ayo, Gia ucapkan salam untuk tante Vira..." lanjut Gusti.


"Tante, Gia pulang ya...? dadah..." kata Gia yang sekarang tangannya digandeng oleh wanuta bernama Kaylee.


"Hati-hati, Sayang..." kata Vira.


"Kalian juga hati-hati..." ucap Vira pada Gusti dan Kaylee.


"Kami permisi," ucap Gusti yang kemudian menggendong Gia dan tangannya satunya menggandeng tangan Kaylee.


Mereka terlihat seperti sati keluarga yang utuh dan bahagia. Vira tak bisa melepaskan pandangannya dari sosok Gusti, melihat tubuh tegap itu perlahan menjauh darinya.


"Dia masih memandangimu," Kaylee berbisik di telinga Gusti.


"Dia sudah milik orang lain, Kay..." jawab Gusti yang tak melepaskan tangannya dari Kaylee.


"Oke oke, jangan sensitif gitu dong. Tenang wanita di dunia ini banyak, pasti salah satu akan cocok dengan kamu dan Gia..." kata Kaylee.


"Kalau begitu salah satu wanita itu kau saja, Kay!" celetuk Gusti.


"Hemmm, bisa dipertimbangkan ... karena aku juga menyukai gadis kecil ini," kata Kaylee sambil mengelus pipi Gia.


"Apa kamu menyesal?" tanya Firlan.


"Menyesal apa?"


"Karena sekarang kamu jadi istriku," kata Firlan.


"Ngaco, kamu itu ngomong apa sih, Ay!"


"Ya kalau nggak nyesel kenapa kamu liatin dia terus," ucap Gusti.


"Cuma liatin aja, masa nggak boleh?" tanya Vira.


"Nggak boleh," Firlan merapatkan tubuh Vira pada dirinya.


"Karena aku nggak mau istriku mengagumi pria lain selain aku yang tampan ini," Firlan mengelus pipi Vira lembut.


"Ehem, ehem..." suara perempuan paruh baya membuyarkan aksi romantis Firlan.


"Mesra-mesraannya nanti kalau acara sudah selesai! sekarang kalian temui sanak keluaega dulu, mereka ada yang mau pulang!" ucap Ratna.


"Iya, Bu..." jawab Vira.


"Aissh, ibu mengganggu saja!" celetuk Firlan.

__ADS_1


"Apa tadi kamu bilang?" Ratna menatap putra semata wayangnya.


"Nggak ada, Bu. Kita kesana dulu..." kata Firlan, ia buru-buru menggandeng Vira yang masih nyeker menjauh dari Ratna.


"Issshhh, kamu tuh kebiasaan tau nggak suka nyeletuk nggak jelas?" Vira menepuk lengan Firlan.


.


.


Beberapa hari berlalu.


Gusti sudah pulang dari Sidney, dia kembali beraktivitas seperti biasa. Siang ini Gia ingin dibelikan macarons.


Gusti yang memang sedang jenuh di kantor pun akhirnya mengiyakan permintaan putri kecilnya.


Pria itu segera meluncur ke sebuah pusat perbelanjaan. Namun tak disangka ia bertemu dengan Vanya dengan bergandengan tangan dengan seorang pria.


Dan ternyata, Vanya pun menyadari keberadaan Gusti yang sedang melihat ke arahnya. Namun sepertinya wanita itu tak ingin sekedar menyapa, ia bahkan berpura-pura tidak melihat. Tapi Gusti tak mau ambil pusing dengan sikap Vanya. Dia malah bersyukur Vanya sudah berhenti mengganggunya. Mungkin dia merasa lelah dan memilih untuk menjalin hubungan dengan pria yang juga menyukainya.


"Syukurlah kalau dia sudah punya pasangan," ucap Gusti.


Sementara di tempat lain. Firlan yang sengaja ingin makan siang bersama istrinya pun pulang ke apartemennya dan saat membuma pintu tercium bau-bau gosong.


Firlan segera berlari menuju dapur. Dan asap mengebul dari oven yang sedang dibuka Vira.


"Ada yang kebakaran?" tanya Firlan.


"Eh, udah pulang..." Vira berbalik sambil loyang berbentuk persegi yang diatasnya ada ayam yang sudah berwarna gelap.


"Kamu lagi apa?"


"Masak, tapi ya gini gagal lagi gagal lagi. Gosong!" Vira menunjukkan ayam panggang yang sepertinya tak bisa dimakan.


"Astaga, jadi kamu nyoba masak? ya ampun kamu hampir bikin dapur kebakaran, Ay!" kata Firlan yang mengambil serbet dan mengambil loyang dari tangan Vira dan meletakkannya di meja.


"Maaf..." ucap Vira.


"Nggak apa-apa, cuma lain kali masaknya kalau lagia ada aku aja. Berhubung ayamnya gosong begitu, kita makan di restoran deket sini aja..." kata Firlan.


Firlan memeluk istrinya dari samping, dia tau Vira sedang berusaha belajar memasak karena Ratna yang sering memberi wejangan pada Vira agar sering memasak untuk suami.


"Masalah ibu nggak usah dipikirkan, lagian yang ngejalanin rumah tangga ini kita bukan ibu. Jadi kalaukamu nggak bisa masak ya, udah tinggal beli. Hidup udah ribet, jangan kamu bikin tambah ribet!" kata Firlan seraya mengajak istrinya keluar apartemen.


"Siaaaaaappp, bos!" kata Vira, Firlan membalas istrinya dengan mencubit sekilas pipi gemoy kesukaannya.


Cinta itu butuh perjuangan, keyakinan dan juga butuh proses untuk melebur ego satu sama lain. Setelah sekian lama akhirnya Vira bisa meyakinkan hatinya, bahwa hanya ada satu pria di hatinya, Firlan Anggara. Dan nyatanya tuhan mempersatukan keduanya dalam satu ikatan pernikahan. Jodoh memang di tangan tuhan, tapi kita juga wajib berusaha. Sekian terima nasib!


_SEKIAN TAMAT_

__ADS_1


__ADS_2