
Gusti berharap Gia tidak akan bertanya lagi mengenai apa itu calon suami. Dia tidak ingin Gia terluka, dia juga tidak ingin Gia kecewa.
Meakipun Gia tak pernah bicara secara gamblang kalau dia menginginkan Vira menjadi ibu sambungnya, tapi dari cara Gia memperlakukan Vira dan hubungan kedekatannya dengan wanita itu cukup bisa ditarik kesimpulan kalau Gia itu sudah terlanjur nyaman dengan sosok Vira.
"Papi, kita sekarang kemana?" tanya Gia pada Gusti yang sedang fokus menyetir.
"Gia papi antar ke rumah bagaimana? Gia kan habis dari rumah sakut, Gia harus cuci tangan cuci kaki dan ganti baju. Papi ada meeting sebentar, tapi papi janji papi akan pulang cepat hari ini..." ucap Gusti.
"Oke, Papi..." ucap Gia.
Gusti bersyukur Gia mau menurut kali ini tanpa adanya perdebatan sama sekali.
"Baguslah, Gia nggak bertanya yang macam-macam..." batin Gusti.
Hari ini dia pikir akan lebih baik karena dia bisa melihat wajah Vira, tapi salah. Semuanya diluar dugaan, disana muncul lelaki yang mebgaku sebagai calon suami Vira.
"Bagaimana bisa aku melupakan kamu, Vira? sedangkan kamu sudah sangat melekat di hati putriku?" batin Gusti.
.
.
.
__ADS_1
Setelah dirawat selama dua hari, Vira merasa tubuhnya lebih sehat dari biasanya. Dia memaksa untuk pulang. Fia bahkan bersikeras meminta untul pulang hari itu juga, da. domter tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya berpesan agar wanita itu menjaga pola makan dan istirahat, tidak terlalu banyak berkegiatan dan juga kurangi stress.
"Harusnya kamu tuh masih dirawat tau, nggak?" ucap Firlan.
"Kan kamu sendiri yang bilang kalau akhir pekan ini kamu sama ibu kamu mau datang ke rumah?"
"Iya, tapi kan aku bilang kalau itu bisa diatur ulang..." kata Firlan yang masih mencemaskan keadaan Vira.
"Aku nggak mau ngecewain papa sama mama, mereka pasti udah riweuh sana sini..." ucap Vira.
"Terserah kamu aja lah, dasar keras kepala!" sahut Firlan.
"Malam ini biar kamu menginap di runahku. Rumah ya bukan apartemen, biar ada yang menasak makanan buat kamu. Karena kamu madih dalam masa pemulihan, nggak boleh makan sembarangan!" tegas Firlan.
"Oh ya, semua biaya pengobatan termasuk biaya ruangan semua dibayar eh Nyonya Amartha..." ucap Firlan.
"Kenapa? kenapa dibayarin?"
"Ya aku nggak tau! coba kamu tanya sendiri aja," ucap Firlan.
"Nanti deh aku tanya, kenapa juga pakai dibayarin segala. Aku tau itu rumah sakit punya dia tapi nggak digratisin juga lah ya!" gumam Vira dalam hatinya.
Sekian lama berada di dalam mobil, akhirnya Firlan dan Vira sampai juga di rumah pribafi Firlan. Pria itu segera memarkurkan mobilbya dan keluar dari sana. Ia berjalan memutar untuk membantu Vira untuk berdiri.
__ADS_1
"Hati-hati," ucap Firlan seraya memegangi Vira.
"Astaga, aku masih kuat jalan, nggak usah dipegangi banget kayak nenek tua..." kata Vira.
"Udah diem aja, ini demi kebaikan kamu juga. Kalau jatuh gimana? kalau jatuh ke hatiku sih nggak apa-apa, tapi kalau jatuh ke bawah kan sakit juga..." ucap Firlan
Dan Firlan mengajak Vira masuk ke dalam kamar tamu yang ada di lantai 1.
"Barangkali capek naik tangga..." kata Firlan.
"Tapi aku takut, aku takut kalau di ruangan yang baru!" keluh Vira.
"Ngfak usah takut, ada aku ... nggak ada yang aneh-aneh kok," Firlan mencoba menenangkan.
"Hem, y sudah
Lagian aku juga udah ngantuk, pengen tidur dulu..." ucap Vira yang ngantuk berat.
"Aku tinggal dulu, sekarang kamu istirahat aja di kamar ini..." kata Firlan seraya meninggalkan Vira di kamar tamu.
Vira yang sudah mengantuk, memilih untuk rebahan di kasur dan memejamkan matanya yang sudah sangat lelah.
"Nggak apa-apalah, daripada di ruangan runah sakit terus malah ngerepotin banyak orang. Kalau disini kan lumayan aja, ada yang ngurus," gumam Vira sebelum melayang ke alam mimpi
__ADS_1