Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Sekedar Masa Lalu


__ADS_3

Dan disinilah mereka, di sebuah resort yang jauh dari perkotaan. Suasana malam yang semakin dingin tak membuat keduanya menghentikan pembicaraan.


"Jadi ini yang kamu bilang penting? sampai kamu ngotot ingin menyetir sampai sejauh ini hanya untuk mengatakan semua omong kosong ini? kau sudah mmbuang waktu istirahatku Andini..." kata Firlan.


"Lan, hubungan kita sebenernya masih bisa dilanjutin lagi..." kata Andini.


"Dilanjutkan bagaimana Andini? bukannya kau sudah dengan pria tua itu? kemana dia? kita sudah sepakat berpisah," tegas Firlan.


"Iya Lan aku tau. Aku salah. Aku salah waktu itu udah duain kamu. Dan aku sadar kalau aku sebenernya nggak bisa jauh dari kamu, Lan..."


"Astaga, kita putus kapan kamu bilang sepeerti ini kapan! sudahlah, Andini. Jangan bercanda, ini bukan hal yang lucu. Kalau hanya ingin mengatakan kalau kau ingin kembali padaku, aku jelas menolaknya. Hubungan kita sudah berakhir, aku hanya menganggapmu sebagau bagian dari masa lalu dan bukan masa depan," Firlan menatap mata Andini dengan tajam.


"Nggak, Lan! aku mau kamu kasih aku satu kesempatan, buat mengulang kisah kita lagi. Aku yakin kamu masih cinta sama aku, buktinya sampai saat ini kamu belum menikah," Andini memeluk Firlan posesif.


"Astaga, aku belum menikah bukan karena aku tidak bisa move on dari kamu. Dengar Andini, lupakan semua hal tentang kita, kita sudah berakhir. Kau kembali pada kehidupanmu begitu juga aku," Firlan melepaskan pelulan di tubuhnya, namun wanita itu kembali mengikis jarak diantara dirinya dan Firlan.


"Sudahlah, aku mau pulang! besok aku harus bekerja, aku bukan bos yang bisa libur seenaknya!" sindir Firlan, dia dengan cepat melepaskan diri dari Andini.


"Tapi ini sudah malam, Lan..." kata Andini memelas.


"Ya sudah, kamu disini dan habiskan waktumu untuk menikmati udara sejuk cenderung dingin ini. Ya mungkin itu bisa membuat pikiranmu kembali tenang, dan bisa melupakan hal yang sudah berlalu..." kata Firlan yang meninggalkan mantan kemasihnya begitu saja.


"Kau begitu mencintaiku, Firlan! Aku yakin sikap dinginmu ini hanya sementara, aku akan mendapatkanmu kembali..." batin Andini.


"Lan ... Firlaaaaaan...!" teriak Andini yang menyambar tasnya dan mengejar Firlan.


"Buat apa aku disini kalau tidak dengan kamu, Firlan?" batin Andini.


Firlan yang kini sudah membuka pintu mobilnya dikagetkan dengan Andini yang tiba-tiba masuk ke dalam kursi penpang bagian depan. Firlan hanya geleng-geleng kepala, dan kemudian masuk ke dalam mobilnya.


"Bukankah ini sudah malam?" sindir Firlan.


"Kau bisa pulang besok pagi," lanjut pria itu tanpa menoleh pada Andini.


"Buat apa aku disini kalau nggak sama kamu, Lan..." kata Andini mendekatkan wajahnya dan setengah berbisik di telinga Firlan.

__ADS_1


Rasanya Firlan sangat mual mendengar bualan Andini. Wanita itu seperti orang yang baru tersadar dari tidurnya dan mencari orang yang sudah lama pergi dari kehidupannya.


"Lan..." panggil Andini saat Firlan sudah menekan pedal gas di kakinya.


"Ada apa?" tanya Firlan ketus.


"Jangan terlalu ketus padaku, Lan. Kamu jadi terlihat seperti orang lain begini..." kata Andini.


"Aku memang seperti ini Andini, kalau kau lupa..." jawab Firlan.


"Sudahlah, jangan terlalu banyak bicara dan mengganggu konsentrasiku menyetir..." protes Firlan.


Andini pun kini terdiam sembari matanya melihat ke arah pria dengan rahang yang sangat tegas dan mata yang tajam.


Wanita itu tak habis akal, dia pura-pura mengantuk dan bersender pada lengan Firlan.


"Astaga, Andini. Duduklah yang benar di kursimu..." suruh Firlan.


Namun wanita itu tak mengindahkan kata-kata Firlan. Dia terus saja menempel seperti lem.


"Apapun yang kamu lakukan aku nggak bakalan balik sama kamu, Andini! nggak akan pernah..." batin Firlan.


Andini sudah sangat merindukan momen seperti ini, wanita itu yakin kalau dengan jalanan yang berliku seperti ini Firlan tak akan mudah kehilangan konsentrasinya hanya karena dirinya yang tak mau berpindah ke posisi duduknya yang semestinya.


Sementara di kontrakannya, Vira sampai sekarang tak bisa tidur walaupun ia berusaha memejamkan matanya.


"Ada yang aneh, perasaanku nggak enak banget ya..." Vira gelisah.


"Ya ampuuuun, aku harus tidur atau besok aku bakalan ngantuk saat bersama anak-anak..." gumam Vira.


"Ngitungin domba aja deh! eh, tapi dombanya siapa yang mau diitungin? nggak ada..." Vira ngomong sendiri.


"Udah lah, tidur tidur tidur udah malem ikan bobo..." seru Vira.


Vira mencoba memejamkan matanya, tapi tetap saja gagal. Akhirnya dia membuka kembali benda pipih itu dan mencoba menonton sesuatu.

__ADS_1


"Nonton drakor malah nggak bakal ngantuk, yang ada lanjut terus sampe pagi! hummmphh," Vira menaruh kemvali ponselnya dan menarik selimutnya.


Malam ini hujan turun lagi, seakan seperti lagu pengantar tidur yang sengaja di siapkan tihan untuk Vira.


"Kalau kayak gini suasana mendadak adem banget, suara ujan di luar..." Vira memejam, ia menikmati suaranyang sangat merilekskan pikiran.


Sedangkan di dalam mobil, Firlan mrncoba membangunkan Andini.


"Hey, banguuun! Andini!" seru Firlan yang menjauhkan kepala Vira dari pundaknya.


"Emmmh, kita udah sampai?" tanya wanita itu.


"Sudah..." ucap Firlan.


Andinibyabg masih belum terkumpul nyawanya langsung membuka pintu mobil dan menyambar tasnya.


"Loh, di depan hotel?" gumam Andini.


Sedangkan Firlan menurunkan kaca mobilnya dan berkata, "Kau menginaplah disana, aku tidak tau dimana kau tinggal sekarang!" seru Firlan sebelum menancapkan mobilnya pergi mrninggalkan Andini di sebuah hotel bintang 5.


"Dia sudah dewasa, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri..." gumam Firlan yang sudah sangat ingin sampai di unit apartemennya.


Jalanan sudah sangat lengang, hujan turun membuat suasana menjadi sangat syahdu tapi sayangnya di dalam mobil ini Firlan sendirian dan tak ada Vira di sampingnya.


Firlan mencobaenikmati music jazz sambil terus fokus menyetir, sesekali ia ketuk-ketukkan jarinya di stir mobil.


"Aku yakin Andini mencariku tiba-tiba itu ada alasannya, sudah berapa taun kita lost contact, dan dengan ajaibnya dia muncul kembali seperti setan. Aneh!" ucap Firlan. Dia tidak mau hubungannya diganggu oleh Andini ataupun Alia, dia sudah mrmantapkan hatinya untuk Vira tidak untuk wanita yang lain.


Andini sudah menjadi masa lalu, lagipula dengan berakhirnya hibungannya dengan Andini kini dia merasakan kebahagiaan yang lain. Memiliki Vira yang sudah memberikan warna baru di kehidupannya, dirinya yang kaku kini mulai bisa mengimbangi tingkah Vira yang seenak jidat.


"Ah, aku bahkan tak sempat memberi kabar pada ayamku. Besok aku akan datang ke tempat privatnya, aku akan bawa bunga sebagai permintaan maaf..." ucap Firlan.


Dan kini pria itu sudah smapai di basement apartemennya. Firlan segera keluar dan berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai yang ia tuju.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2