
Buat Vira weekend adalah hari dimana bisa full bermalas-malasan, seperti sekarang ini. Dia sengaja tidur lagi setelah shalat subuh.
Beberapa panggilan dari Firlan pun dia abaikan. Dia ingin tetap fokus untuk mager seharian.
Drrrrttttt.
Ddrrrrrtt.
"Astaga, ngapain dia nelfonin aku terus, ya ampun!" Vira menutup telinganya dengan bantal mencoba untuk terlelap lagi.
Drrrrrrt.
Drrrrrt.
Ponselnya bergetar lagi.
"Mau tiduuuuuuurrr!" seru Vira, tapi ponselnya tak kunjung berhenti.
"Ya ampun aku lagi pengen mager sehariaaaan!" Vira membuka bantalnya dan menyamber ponsel dan menjawab panggilan dari Firlan.
"Heh? lama banget angkat telfonnya? cepat buka pintu, aku ada di depan!" suruh Firlan.
"Di depan?" Vira terlonjak kaget dan segera menyibak tirai jendelanya dan benar saja ada mobil Firlan di depan.
Dengan langkah gontai, Vira turun dari ranjang dan membuka pintu.
Ceklek.
Sosok Vira yang acak-acakan merusak pemandangan pria itu.
"Astaga! sudah jam berapa penampilanmu masih seperti itu?" Firlan mendorong jidat Vira dengan telunjuknya, dan pria itu menerobos masuk ke dalam tanpa permisi.
"Penampilanmu penampilanmu, nih orang kesambet apaan sih?" gumam Vira yang membiarkan pintu rumahnya terbuka, ia segera menyusul Firlan ke belakang.
"Ini hari minggu jadi wajar dong kalau..."
"Cepetan mandi!" suruh Firlan pada Vira.
"Ck, iya iya, aku mandi!" Vira balik kanan dan masuk kembali ke dalam kamar sedangkan Firlan sedang menata makanan yang ia beli untuk disantap bersama dengan Vira.
Vira secepat kilat mandi dan bersiap, dia hanya memakai baju santai. Karena Vira pikir Firlan hanya akan mengajaknya sarapan di kontrakan.
"Loh kok belum siap?" tanya Firlan.
"Lah, emang mau kemana? kan cuma mau sarapan di rumah, kan?" tanya Vira.
"Iya sarapannya di rumah, tapi aku pengen ngajak kamu ke rumah ibu lagi. Kamu harus sering-sering ketemu sama ibu biar kalian bisa lebih deket," ucap Firlan.
"Sekarang? jangan sekarang deh," Vira mencoba bernegosiasi dengan kekasihnya.
"Terus kapan?" tanya Firlan.
Vira hanya diam, dia belum siap mental bertemu ibu dari Firlan lagi setelah kemarin sikap wanita itu jelas terlihat tidak menyukainya.
"Ya sudah, kita makan dulu aja. Aku yakin kamu pasti belum sarapan..." ucap Firlan yang sudah membelikan nasi uduk.
Vira duduk sambil menikmati sepiring nasi uduk dengan telor balado yang sudah dibeli Firlan.
"Kamu marah, Ay?" tanya Vira ragu.
__ADS_1
Firlan tak menjawab, Vira hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
"Salah kayaknya nolak, tapi mau gimana lagi. Aku belum siap ngadepin emaknya yang juteknya nggak karuan itu," batin Vira meronta.
"Ay, kamu beli nasi uduknya dimana? kok enak banget ya?" Vira kembali mencoba mengajak Firlan bicara.
"Makan makanan kamu, sebelum lambung kamu sakit," ucap Firlan.
"Jangan diem aja dong, iya iya nanti aku nyoba deketin ibu kamu tapi nggak hari imi ya? aku capek banget suwer..." ucap Vira, tapi tal mendapat tanggapan dari Firlan.
"Hadeh, dia ngatain aku kalau ngambek kayak bocil. Nah, dia nggak ngaca, kalau dia lagi ngambek juga sama aja kayak bocil..." batin Vira.
"Ay ... Ayank!" Vira mulai sewot.
"Aku lagi nelen makanan, susah buat jawab," kata Firlan yang kini meneguk air putih yang ada di gelas tak jauh darinya.
"Kamu marah?" tanya Vira lagi.
"Nggak,"
"Nggak tapi mukanya kok tongkol?"
"Dongkol! bukan tongkol...!"
"Iya dongkol, kok kayak dongkol gitu?" tanya Vira.
Firlan memaksa sebuah senyuman agar terpasang diwajahnya.
"Ya ampun senyumnya maksa banget," ucap Vira. Sekarang wanita itu berpindah duduk di samping Firlan.
Dia mengambil sendok yang ada di tangan pria itu, lalu memakan makanan yang ada di piring yang sama dengan Firlan.
"Hey, bukannya nasi kamu masih banyak?" tanya Firlan.
"Nggak ada, mana ada lebih enak. Lauknya sama, nggak usah ngarang kamu..." kata Firlan yang udah mulai kamu kamu-an.
"Iya, beneran. Atau mungkin karena makannya barengan sama kamu, Ay? jadi rasanya beda gini?" tanya Vira sambil tersenyum jahil.
"Halah, pagi-pagi udah ngerayu..." ucap Firlan.
"Aku suapin, ya? kamu pasti masih laper," ucap Vira yang mengarahkan satu sendok ke arah mulut Firlan.
"Kerupuknya," kini Vira menyuruh pria itu kembali membuka mulutnya.
Firlan kini menyelipkan rambut Vira ke belakang telinga.
"Aku cuma pengen kita segera dapet restu," kata Firlan.
"Iya aku ngerti, tapi aku hari ini capek banget. Minggu depan aja gimana?" tanya Vira.
"Ya udah, minggu depan..." ucap Firlan.
"Berarti sekarang udah nggak marah?" tanya Vira.
"Nggak,"
"Ya udah, nih terusin makannya sendiri..." Vira mengembalikan piring Firlan.
"Ohh, jadi..." Firlan menyipitkan matanya menatap Vira.
__ADS_1
"Canda kaliiii! gitu aja ngambek, ah..."
"Hmmm, udah mulai nakal, ya?" Firlan mencubit hidung Vira.
"Makanya jangan marah- marah mulu, ntar cepet jadi tua bangka!" kata Vira.
.
.
Setelah sarapan Firlan tak kunjung pulang, dia malah asik-asikan tiduran di depan tivi dengan ditemani bantal-bantal empuk.
"Nggak pulang, Ay?" tanya Vira.
"Kamu ngusir aku? aku ini pacar kamu loh, Ay!" ucap Firlan.
"Ya nggak ngusir, aku kan cuma nanya..." kata Vira.
"Mau aku ambilin jeruk sunkist nggak?"
"Apa? kiss? mau..." Firlan sudah memonyongkan bibirnya ke depan.
"Jeruk sunkist bukan kiss..." Vira mencomot bibir Firlan yang sudah maju-maju.
Wanita itu sekarang pergi ke dapur untuk mengambil beberapa buah jeruk. Vira sengaja memotong-motong jeruk dengan pisau agar memudahkan Firlan untuk memakannya, kira-kira bentuknya seperti buah semangka yabg dipotong, namu. masih menyisakan kulitnya.
Setelah menaruhnya di atas piring, Vira kembali menemui Firlan.
"Mau nggak?" tanya Vira.
"Mau..." Firlan yang semula rebahan kini duduk bersila, ia mengambil buah jeruk yang sudah dipotong-potong itu.
"Besok hari senin, dan pasti akan menjadi hari yang super sibuk..." ucap Firlan tiba-tiba.
"Tapi bukannya kamu emang udah sibuk tiap hari, Ay?"
"Iya sih, tapi lebih sibuk kalau awal weekend..." Firlan memakan jeruk yang ada ditangannya dan menyisakan kulitnya.
"Dulu nggak pernah ngeluh perasaan," ucap Vira.
"Ya sebelum kenal makan lebih enak kalau ditemenin pacar," ucap Firlan.
"Bukannya dulu kamu punya pacar juga,"
"Sama-sama sibuk, nggak ada waktu. Mungkin itu yang bikin dia berpaling dengan yang lain. Dan aku nggak mau itu terulang lagi dalam hubungan kita. Udahlah, kenapa malah ujung-ujungnya bahas mantan, sih? nggak penting banget!" ucap Firlan seraya mencomot satu potong jeruk lagi.
"Nggak ada tontonan yang bagus..." ucap Firlan.
"Aku juga jarang nonton tivi, paling buat bunyi-b unyian aja biar nggak ngerasa sendiri..." kata Vira.
"Mau jalan nggak?" tanya Firlan.
"Nggak ah, kan kemaren udah jalan. Aku capek..." ucap Vira.
"Daripada di kontrakan terus, suntuk!" kata Firlan.
"Muter-muter aja, deh..." Firlan memaksa.
"Ya, mau ya?" lanjut pria itu.
__ADS_1
"Huufh, dasar kang maksa!" gerutu Vira.
...----------------...