Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Makan Siang Bersama


__ADS_3

Vira pun ikut keluar dari mobil mengikuti Firlan. Pria itu segera memencet remot mobil untuk mengunci mobilnya.


"Mama sama papa mana?" tanya Vira.


"Udah di dalem," ucap Firlan.


Vira pun berjalan di belakang tubuh tegap Firlan, asap sate sudah menyeruak dari depan warung makan itu.


"Duduk, Sayang..." kata Dewi.


"Siapa nih yang lagi pengen makan sate?" tanya Vira seraya menarik kursi dan duduk di samping Firlan.


"Tuh, papa kamu, Sayang..." jawab Dewi.


"Jangan sering-sering, Pa. Inget kolesterol..." ucap Vira.


"Ini juga sudah lama banget papa nggak makan sate kambing. Oh ya tadi papa sudah pesan satu kodi, polos semua..." tanya Raharjo.


"Jadi nggak ada lemaknya gitu ya, Om?" tanya Firlan.


"Iya Nak Firlan. Tanpa lemak dan jeroan," ucap Raharjo.


"Panggilnya Firlan saja, Om. Biar enak di dengernya..." celetuk Firlan.


"Hahahahah, iya iya Firlan..."


"Permisi Pak, nasinya berapa dan minumnya apa?" tanya seorang pelayan wanita.


"Saya jeruk panas," kata Raharjo.


"Sama saya juga jeruk panas," sambung Dewi.


"Kalau saya es jeruk, jeruknya yang manis kayak saya, jangan yang asem kayak dia..." kata Vira sambil menunjuk Firlan. Pria itu menangkap jari Vira yang menunjuk dirinya.


"Saya es jeruk," kata Firlan singkat.


"Nasinya?" tanya pelayan itu sambil mencatat pesanan.


"Nasinya 4, tambah sop kambingnya dua porsi..." ucap Firlan.


"Pesennya banyak banget emang perut kamu muat?" Vira bertanya pada Firlan.


"Kan ada kamu," sahut pria itu.


"Kalian ini suka sekali ribut, seperti kami dulu sewaktu pacaran..." kata Raharjo yang disenggol lengannya oleh sang istri.


"Dih, Papa kayak gitu aja diceritain sama anak..." kata Dewi malu.


"Emang dulu siapa yang ngejar siapa?" tanya Vira sambil membuka usus ayam goreng yang kriuk- kriuk saat dikunyah.

__ADS_1


"Ya jelas papa kamu lah, Vira! mama nggak ada tuh sejarah ngejar-ngejar laki-laki..."serobot Dewi sebelum keduluan suaminya.


"Masa sih?" Vira menaik turunkan alisnya menggoda sang mama.


"Wah, mama kamu tau nggak ya kalau dulu kamu yang ngejar-ngejar aku?" bisik Firlan sambil mencomot usus goreng milik Vira.


"Dih, pede banget siapa juga yang ngejar situ!" gumam Vira.


"Kalau dulu, mama itu paling suka diajak jalan ke taman kota. Disana pasti nggak pernah absen minum es cincau hijau..." kata Raharjo.


"Ih, papa masih inget aja..." kata Dewi.


"Ih papa to twit juga ya ternyata, masih inget kesukaan mama..." ucap Vira.


"Papa emang tipe romantis, Vira. Kamu bisa tanya mama kamu," ucap Raharjo.


"Tipe romantis tapi kenapa punya anak cuma satu, Pa?" celetuk Vira.


"Itu karena papa nggak tega melihat mama kamu harus bertaruh nyawa buat melahirkan. Rasanya papa ingin sekali menggantikan semua rasa sakit itu, tapi tidak bisa. Papa hanya bisa melihat mama kamu berjuang sekuat tenaga, bahkan papa belum pernah merasakan genggaman tangan mama kamu sekuat itu..." kata Raharjo sambil melirik istrinya.


"Ditambah lagi, papa sakit dan ya sudah kita putuskan supaya hanya memiliki satu anak saja..." lanjut Raharjo.


"Oh, jadi itu alasan yang sebenarnya..." Vira manggut-manggut.


"Nanti kamu akan merasakan sendiri Firlan. Ketika istrimu berjuang antara hidup dan mati, rasanya hati ini dikoyak-koyak..." kata Raharjo yang sudah jelas sangat mencintai Dewi lebih dari apapun.


"Kalau papa nggak sayang sama mama kamu Vira, papa nggak akan mau itu transplantasi ginjal. Tapi karena dulu aku berjanji untuk menjaganya seumur hidupku pada mendiang orangtua mama kamu, papa mau menjalani operasi itu dan lagi papa ingin melihat kamu menikah dan memiliki anak..." jelas Raharjo.


"Kan kan kan ujung-ujungnya nikah lagi nikah lagi..." Vira memutar bola matanya.


"Silakan, Pak..." ucap seorang pelayang yang menyediakan sate dalam piring hot plate. Ia juga meletakkan sambal kecap yang ditaruh dalam 4 piring kecil.


Kemudian datang pelayan yang lain membawa nasi, sop kambing dan juga minuman sesuai pesanan.


"Alhamdulillah terselamatkan dengan pembicaraan seputar kapan kawin..." batin Vira.


"Kamu mau berapa tusuk?" tanya Firlan pada Vira.


"5 aja cukup," ucap Vira. Firlan pun mengambilkan 5 tusuk sate yang begitu menggiurkan itu.


"Makasih..." ucap Vira.


"Kamu mau sopnya nggak?" tanya Firlan.


"Nanti aku ambil sendiri aja, deketin aja kesini..." ucap Vira yang sedang melumuri satenya dengan sambal kecap.


"Sop nya, Pa..." ucap Dewi yang menuang sop kambing ke piring suaminya.


"Sudah cukup, Ma..." kata Raharjo.

__ADS_1


Firlan mulai ikut melumuri satenya dengan sambal kecap yang dicampur dengan potongan bawang merah dan juga tomat, ia mulai menggigit satenya.


"Hmmmm," Firlan merasakan daging kambing yang sangat lembut.


"Bagaimana? enak kan?" tanya Raharjo.


"Enak, Om! dagingnya nggak terlalu besar dan lembut banget, aku belum pernah makan sate seenak ini..." ucap Firlan yang kini mengambil tusukan kedua.


Vira mengambil sop yang sengaja di taruh di dekatnya dan juga Firlan.


"Cobain sopnya, enak banget, Vir..." kata Raharjo pada anaknya.


Vira pun menyuapkan sop yang ia campur dengan nasi. Rasanya berbeda dengan sop kambing pada umumnya, rasa sop ini lebih segar dan lagi tidak berbau kambing yang sangat menyengat. Membuat Vira ketagihan untuk menyuapkan lagi sop ke dalam mulutnya.


Dan ia juga mengigit satenya, rasanya sangat enak makan sate dengan sop seperti ini.


"Minum dulu," Firlan menyodorkan es jeruk pada Vira.


"Makasih..." ucap Vira seraya meminum minuman dingin yang sangat segar dan sangat cocok ketika makan makanan yang berlemak seperti ini.


"Tambah lagi satenya, Lan!" ucap Raharjo.


"Ini udah banyak, Om!" kata Firlan yang memang sudah mengambil 5 tusuk sama seperti Vira.


"Disini selalu ramai sepertinya ya?" tanya Firlan yang melihat ke sekeliling.


"Iya, apalagi jam makan siang. Pasti ramai," kata Raharjo.


"Doyan banget kayaknya ya, Bapak?" lirih Vira pada Firlan.


"Doyan lah," sahut Firlan yang ternyata mendengar ucapan Vira.


"Wah tajem juga ya kupingnya," ucap Vira pelan.


"Jelaslah, suara hati kamu aja bisa denger," kata Firlan yang dengan santai menikmati satenya.


"Cih, mana ada..."


"Dih, nggak percaya..." ucap Firlan dengan mulut yang masih mengunyah daging.


"Ya nggak percaya, orang ngibul doang!" kata Vira.


"Ck, ya udah kalau nggak percaya. Tapi aku yakin dalam hati kamu lagi ngomongin aku yang super tampan ini," kata Firlan sambil menyembunyikan senyumnya.


"Astaga, ada banget orang pedenya begitu," Vira geleng-geleng kepala. Wanita itu tidak sadar kalau dirinya juga sama-sama super pede seperti Firlan.


Firlan telah menyelesaikan makannya, ia menyeruput es jeruknya. Begitu juga Vira, wanita itu juga sedang menikmati rasa manis dari es jeruk yang ada di dalam gelas.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2