Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Mawar Dan Lily


__ADS_3

Vira tak mengendarai motornya. Dia memakai jasa ojek online untuk mengantarnya ke tempat ia bekerja. Karena rencananya pulang kerja nanti ia akan pergi ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan pribadinya, terutama bahan makanan.


Vira yang menyadari Firlan sudah menghubunginya tadi pagi namun tak sempat ia angkat pun mengirimkan chat berisikan permintaan maaf, dia tak bisa menelepon karena sudah buru-buru ke tempat privatnya.


Firlan sudah membalasnya juga dan mengatakan hal itu tidak perlu dipikirkan. Vira lega akhirnya ada tanda-tanda kehidupan dari pria yang kini berstatus kekasihnya itu. Hanya saja tubuhnya kurang fit, karena tidur yang tak berkualitas membuat Vira sedikit loyo dan tak bersemangat.


"Mas, Mas! berhenti dulu, aku mau beli cakwe sama odading!" Vira menepuk pundak sang ojek.


"Iya, Mbak sebentar..." kata kang ojek.


Dan kang ojek yang sangat pengertian itu berhenti tepat di depan penjual cakwe dan juga odading. Vira sengaja membeli makanan u tuk di bawa ke tempat kerja, karena tiba-tiba saja dia menginginkan jajanan yang biasa di jual di pagi hari itu.


"Sudah, Mas! ayo jalan lagi!" Vira seenaknya sendiri memerintah kang ojek.


Dan motor bebek itu pun melanju membelah jalan raya menuju sebuah ruko. Tak lama mereka pun sampai dengan selamat sentosa tak kurang sesuatu apapun.


"Ini ongkosnya, makasih, ya," hcap Vira seraya mengeluarkan uang, sengaja ia melebihkan ongkos ojek itu.


"Kelebihan, Mbak!" seru kang ojek, karena Vira sudah ngibrit duluan.


"Ambil aja, rejeki masnya hari ini!" seru Vira sebelum masuk ke dalam ruangan yang dijadikan tempat privatnya.


"Assalamualaikum..." Vira mengucapkan salam ketika masuk.


"Waalaikumsalam, Kak..." ucap Zanna yang sudah menyiapkan bahan untuk mengajar hari ini.


"Waalaikumsalam, Kak Vira..." sahut Fidya belakangan.


"Udah pada sarapan belum?" tanya Vira pada Zanna dan juga Fidya.


"Belum, saya bangun kesiangan..." jawab Fidya.


"Kalau belum sini saya bawa cakwe sama odading, minumnya kamu ambil aja di dalem kulkas, sekakian buat saya maksudnya..." ucap Vira yang kini berjalan ke wastafel untuk mencuci tangannya.


"Ayok, Zan! kamu doyan cakwe nggak?" tanya Vira yang kembali ke sofa dan membuka makanan yang ia bawa.


"Kakak saja dan Fidya..." jawab Zanna seraya mendekat.


"Dia lagi diet, Kak..." Fidya menimpali jawaban Zanna.


"Padahal odadingnya masih anget, enak banget loh! lagian badan bagus begitu kenapa pakai diet segala?" tanya Vira.


"Berat badan naik sekilo, Kak..." jawab Zanna.


"Kalau Kak Vira makan banyak tapi kan badannya nggak cepet gemuk," kata Zanna.

__ADS_1


"Aku capek kali, Zan..." sahut Vira.


"Nah ya, Zan. Jangan samain kayak kita yang pulang langsung rebahan..." celetuk Fidya.


"Beneran nih nggak mau?" Vira mengangkat odading yang masih hangat.


"Nggak, Kak makasih..." ucap Zanna menolak secara halus.


Vira pun memakan makanan yamg sangat ia sukai itu bersama dengan Fidya. Zanna mebggelengkan kepalanya saat melihat Vira makan dengan lahapnya begitu juga dengan Fidya.


"Astaga, apa di depan pacarnya dia juga makan seperti itu?" batin Zanna


Merasa diperhatikan Vira pun menaikkan satu alis ya, "Kenapa, Zan? kok geleng-geleng?" tanya Vira.


"Emh, nggak apa-apa, Kak. Leher saya lagi pegel..." ucap Zanna berbohong.


Fidya yang sudah mengenal Zanna lumayan dekat pun bisa membaca gerak-gerik temannya itu kalau dia memang sedang memperhatikan Vira yang sedang makan.


"Agak aneh si Zanna nih..." batin Fidya.


"Dimakan lagi, Fid. Masih banyak loh, jangan ngelamun terus!" ucap Vira membuyarkan pikiran Fidya terhadap Zanna.


"Padahal aku di kontrakan udah sarapan mie instant jumbo plus susu, loh! tapi kok masih muat aja nih perut," kata Vira sambil menertawakan dirinya.


"Uhuk, apa? ngidam? mana ada, suami aja belum punya!" jawab Vira, lalu ia meneguk minumannya.


"Iya kamu ini ada-ada aja, Zan!" timpal Fidya.


"Heheheh iya yah, aku lupa. Soalnya tadi kak Vira bilang kalau udah makan tapi masih pengen makan itu kan..." Zanna sedikit canggung.


"Nggak apa-apa, nggak usah dipikirin..." kata Vira.


Dan hari ini berjalan seperti biasanya, Vira kini hanya memperhatikan Zanna mengajar. Dia berencana akan mencari satu tutor lagi untuk mengajar seni rajut. Tapi dia belum membicarakannya dengan Firlan, karena bagaimanapun ia membutuhkan pria itu untuk melakukan semua itu.


"Kok ngantuk ya?" ucap Vira seraya bangkit dri duduknya dan mengambil minuman kopi kaleng rasa tiramisu.


.


.


.


Sedangkan di tempat lain, matahari mulai beranjak naik dan kini Firlan sedang meninjau lahan yang sekiranya akan menjadi tempat dibangunnya cabang rumah sakit milik Amartha, istri dari bosnya Satya. Dan dia juga akan membicarakan tentang pak Irwan yang merupakan tangan kanan dari Kenan.


"Kayaknya ini udah yang paling cocok deh, tempat strategis banget, dekat dari mana aja!" ucap Firlan sambil melihat-lihat sbil di dampingi seseorang.

__ADS_1


"Bagaimana, Pak?" tanya orang yang ada di hadapannya.


"Begini, saya harus melaporkannya dulu pada atasan saya. Jika beliau oke, maka kita akan membeli lahan ini. Tenang saja, saya akan menghubungi anda secepatnya..." tutur Firlan.


"Baiklah, kalau begitu. Saya tunggu kabar baiknya, Tuan..." ucap pria itu.


"Saya permisi," ucap Firlan.


Pria itu berjalan dengan gagah ke arah mobilnya, ia masuk dan segera menyalakan mesin.


"Gila panas banget!" ucap Firlan seraya mengatur suhu ruang mobilnya.


Ia melihat arlojinya dan ternyata sekarang sudah mendekati jam makan siang. Firlan menelepon sebuah restoran untuk melakukan reservasi.


"Done! untung masih bisa, sekarang aku harus cari apa supaya terlihat sedikit romantis?" Firlan mencoba berpikir, dan sayu senyuman tergambar di wajahnya. Pria itu kemudian melajukan mobilnya ke tempat privat Vira.


Di dalam perjalanan tak lupa ia membelikan Vira seikat bunga lili putih. Firlan tertarik karena mencium baunya yang harum, dan tidak ada urusan mengenai arti dari bunga yang ia beli. Tapi kata si penjual lili ini ibarat ratu yaman, wanginya yang semerbak membuat siapapun ingin memilikinya.


Setelah membeli seikat bunga, Firlan kembali melanjutkan perjalanannya. Pria itu memperlambat laju kendaraannya saat berbelok dan masuk ke dalam parkiran sebuah ruko.


Pria itu menyemprotkan parfum yang sengaja ia simpan di dalam mobilnya.


"Mau ketemu ayamku harus wangi..." ucap Firlan.


Pria itu dengan gagahnya keluar dari mobil dengan membawa satu ikat Casablanca Lily di tangannya.


Firlan mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan itu, dan ternyata kelas sudah berakhir.


Vira yang melihat kedatangan Firlan yang sangat tiba-tiba pun sangat terkejut.


"Ayang?" ucap Vira spontan. Zanna yang mendengar Vira berucap pun segera menoleh, ternyata sosok Firlan yang berdiri di sana, di dekat pintu.


"Kok nggak bilang mau kesini?" tanya Vira sembari berjalan mendekat, begitu juga dengan Zanna. Wanita itu berjalan ke arah Fidya.


"Sengaja, biar jadi kejutan! oh, ya ini bunga buat kamu..." ucap Firlan sembari memberikan bunga yang ada di tangannya.


"Hemmm, wangi..." puji Vira.


"Wah, senangnya kak Vira. Kemarin dapat mawar dan sekarang dapat lily..." ucap Zanna pada Fidya dengan lirih namun masih terdengar oleh Firlan, sontak saja kening pria itu berkerut. Sedangkan Fidya langsung menginjak kaki Zanna.


"Aaawhhh! jangan injak kaki ku," protes Zanna pada Fidya.


"Mawar?" Firlan menatap Vira penuh tanya, sedangkan Vira hanya tersenyum tipis. Dia bingung harus bagaimana.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2