
Hari ini Vira bisa pulang lebih cepat daripada biasanya, dan minggu ini Gia tidak datang ke tempat privat nya. Mungkin gadis kecil itu masih memulihkan kesehatannya dulu, pikir Vira.
Baru juga dipikirin tiba-tiba ada telepon dari Penny, pengasuh Gia.
"Dengan Nona Vira?" tanya Penny.
"Iya, ada apa, Mbak?" tanya balik Vira.
"Begini, Mbak. Gia belum bisa datang untuk belajar lukis dan clay. Masih harus banyak istirahat dulu, padahal sih Non Gia udah pengen banget tuh ketemu mbak Vira..." jelas Penny panjang lebar.
"Nggak apa-apa, Mbak. Biar Gia sehat dulu," kata Vira.
"Ya sudah Mbak, Non Gia sudah datang. Soalnya sama tuan dibilangnya mbak Vira lagi keluar kota. Kalau nggak gitu, Non Gia pasti nggak mau istirahat dan diem di rumah..." bisik Penny, lalu wanita itu menutup panggilan itu sepihak.
"Astaga, main tutup aja..." ucap Vira yang sedang duduk di atas motornya yang sedang menyala.
Ketika wanita itu akan menyalakan motornya, Zanna dan Fidya keluar berniat untuk pulang.
"Saya duluan," kata Vira tersenyum tipis, lalu ia melajukan motornya meninggalkan tempat itu.
"Kayaknya kak Vira agak beda, ya?" tanya Zanna.
"Lagi buru- buru mungkin, jangan suudzon..." ucap Fidya.
Sementara Vira dengan santainya mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Dia tidak sadar kalau beberapa kali Gusti menghubunginya. Wanita itu menyetir sambil sesekali bersenandung.
Namun sebelum sampai rumah, motornya berhenti di depan gerobak penjual roti bakar.
"Lumayan buat ganjel laper, lagi males makan nasi..." gumam Vira.
"Mas, rotinya satu setengah coklat setengah keju..." ucap Vira.
"Okeee, siap!" jawab tukang roti.
Wanita itu masih duduk diatas motornya sembari merogoh uang yang ada di dalam dompet.
"Silakan, Neng..." ucap kang roti seraya menyerahkan satu keresek berwarna hitam.
"Makasih, Mas..." ucap Vira menyodorkan uang dan setelah menerima kembalian, barulah Vira kembali melajukan kendraaannya menuju kontrakan.
Tak butuh waktu yang lama, akhirnya Vira kini memarkirkan motornya di pelataran rumah. Ia membuka pintu dan langsung memasulkan motornya masuk.
"Malam jumat bukannya anteng di rumah malah mau nonton film horor, punya pacar kok rada aneh begitu, ya?" ucap Vira sembari mencangkolkan helm di spion motor.
Vira melenggang sambil membawa roti bakar yang masih panas. Dia meletakkan tasnya di atas meja makan dan juga roti yang ada di tangannya.
Wanita dengan rambut lurus sebahu itu meggulung lengan bajunya dan membasuh tangannya dan wanita itu duduk, membuka bungkusan roti yang membuat perutnya mendadak keroncongan.
__ADS_1
"Huuuuuuffh, masih panas!" Vira meniup roti dengan selai cokelat di tangannya.
"Emang kalau lagi laper, nasi sama tempe goreng aja pasti enak banget! loh kok malah nyambungnya ke tempe goreng sih, hahahah..." Vira malah terkekeh sendiri.
"Prediksiku nih ya, si Andini bakal ngerusuhin hubungan aku sama si ayang. Nih, kalau mantan udah mau pakai acara balikan, aku tuh harus punya ancang-ancang buat jungkelin tuh perempuan!" Vira mengoceh sambil menyobek roti dengan rasa keju.
"Aduh, seret!" Vira berlari ke lemari pendingin dan mengambil botol air miliknya. Rasa dingin segera meluncur ke kerongkongan, mendorong makanan yang sepertinya macet di pertengahan jalan.
Vira yang sudah lumayan kenyang menyimpan rotinya ke dalam kulkas. Dan wanita itu pun melesat ke kamarnya.
"Aaargghhh, mau rebahan nggak enak ya kalau nggak mandi dulu..." Vira mencium lengan bajunya.
Vira yang semula ingin langsung rebahan kini berpindah haluan, ia mandi untuk membersihkan diri. Menyegarkan tubuhnya dengan air.
.
.
.
Sementara di kantor Firlan sedang memengecek dokumen yang harus dibtabda tangani oleh bosnya.
Pria itu sesekali melihat arloji di tangannya.
"Astaga, udah jam 5 sore! aku harus segera pulang," ucap Firlan.
"Heh? sudah kau siapkan semuanya? berikut semua pasukan?" tanya Firlan.
"Sudah bos! sesuai rencana," kata pria yang ada di seberang telepon.
"Baguslah, ingat jangan sampai mencurigakan. Awas saja kalau sampai gagal, kau akan menerima akibatnya..." ancam Firlan.
"Santai, Bos! semua sudah diatur, anda tidak perlu khawatir..."
"Baiklah!" ucap Firlan. Ia segera menutup panggilan itu.
Firlan segera bangkit dan berjalan ke arah pintu keluar dari ruangannya. Ia berpapasan dengan Maura yang juga satu arah dengannya.
"Tumben pulang jam segini, Pak?" tanya Maura ketika berada di depan lift dengan Firlan.
"Capek nemenin nyamuk, Ra!" jawab Firlan asal.
"Mana ada nyamuk disini, pak Firlan suka aneh-aneh aja," ucap Maura.
Dan pintu lift pun terbuka, Firlan dan Maura segera masuk ke dalam kotak besi itu.
"Kamu mau turun di lobby atau di basement?" tanya Firlan.
__ADS_1
"Basement, saya bawa mobil hari ini..." kata Maura bangga.
"Wah kuat banget ternyata kamu, ya? aku saja tidak bisa,"
"Kuat? maksudnya?" Maura mengernyit.
"Ya utu bawa mobil. Kalau saya kan nyetir mobil, saya tidak kuat kalau garus bawa mobil, berat!" kata Firlan.
"Aih, Pak Firlan. Maksud saya ta nyetir lah, Pak. Masa iya saya manggul mobil? emangnya saya gatot kaca?"
Dan akhirnya perdebatan mereka selesai ketika pintu lift terbuka. Maura berjalan mengikuti langkah tegap Firlan. Merasa dibuntuti, Firlan pun akhirnya menghentikan badannya dan berbalik.
"Kenapa kamu mengikuti saya? katanya kamu bawa mobil?" tanya Firlan yang sudah di depan mobilnya.
"Jangan bilang sebenarnya kamu mau nebeng sama saya? saya lagi buru-buru," lanjut Firlan.
"Lah, siapa juga yang mau nebeng? itu mobil saya yang merah..." tunjuk Maura.
"Oh, ehm ... mobil itu punya kamu?" Firlan melihat sebuah mobil merah yang terparkir di samping mobilnya.
Tin.
Tin.
Firlan membuka kunci mobilnya.
"Ya sudah saya duluan, Maura..." kata Firlan seraya menengok ke arah wanita yang berada di belakangnya.
Firlan segera masuk ke dalam mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Maura. Pria itu menyalakan mesin mobilnya dan segera melesat meninggalkan parkiran. Sedangkan Maura hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan asisten bosnya itu.
"Ada-ada aja nih asisten bos kalau ngomong. Masa aku dituduh mau nebeng?" gumam Maura seraya membuka pjntu mobilnya.
Sedangkan Firlan, pria itu sudah melaju di jalan raya di bawah langit yang sudah berubah warna menjadi jingga. Firlan memilih untuk pulang ke apartemen, dia ingin segera sampai agar bisa bersiap-siap ngedate dengan Vira.
"Aku nggak boleh gagal," gumam Firlan sambil terus fokus menatap jalanan yang padat merayap.
Sementara di tempat lain, seorang wanita sedang menggosok rambutnya dengan handuk. Ia baru saja selesai mandi.
"Keringin dulu, lah!" Vira menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambut pendeknya. Ia menarik rambutnya dengan sisir bulat, lalu mulai menekan tombol on pada alat yang berada di tangan kanannya.
Vira dengan telaten menyisir rambutnya dan mengarahkan alat yang mengeluarkan hawa panas itu ke rambutnya yang setengah basah. Setelah selesai barulah dia mematikan dan mencabut alat itu dan bergerak ke arah ranjang. Ia merebahkan dirinya diatas kasur yang empuk.
"Padahal pulang kerja enakan kayak gini, tiduraaaaan. Lagian badan pada pegel semua..." Vira bergumam tidak jelas.
Wanita itu menarik sebuah bantal dan menaruh kepalanya di sana. Matanya mulai menutup perlahan, namun tiba-tiba...
...----------------...
__ADS_1