Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Di rumah Siapa?


__ADS_3

Setelah menenangkan Vira, Firlan melajukan kembali mobilnya. Wanita itu kini memejam, mungkin dia lelah setelah banyak mengeluarkan air mata.


"Dia pasti capek," gumam Firlan sembari melirik Vira sekilas.


Firlan memutuskan untuk pulang ke rumahnya, hasil bonus dari tuan Abiseka pemilik Ganendra Group yang kini menyerahkan tampuk kepemimpinan perusahaan pada anaknya, Satya Ganendra. Menjadi tangan kanan Abiseka, membuat Firlan memiliki segalanya di usia yang terbilang muda. Rumah dan mobil mewah ia dapatkan dengan cuma-cuma, begitu juga dengan bonus liburan dan bonus yang lainnya.


Firlan memiliki rumah dan apartemen, kalau suasana hatinya sedang tidak baik atau sedang banyak pekerjaan biasanya dia akan menyendiri di apartemennya karena jarak apartemen dengan perusahaan cukup dekat. Jadi dia tidak perlu menempuh perjalanan yang jauh untuk menjangkau rumahnya.


"Mas Firlan..." ucap satpam yang bertugas. Karena dia jarang pulang, dia mempekerjakan satpam dan pelayan untuk mengurus rumahnya.


Tanpa disuruh satpam langsung menghubungi pelayan yang ada di rumah untuk membukakan pintu utama.


Firlan memarkirkan mobilnya di depan rumahnya dan perlahan mematikan mesin mobil.


Setelah melihat pintu sudah dibuka, Firlan segera keluar dan berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil untuk Vira.


Pria itu mengangkat tubuh wanita yang kini sedang tertidur lelap.


Firlan berjalan masuk ke dalam rumah, sang pelayan pun dibuat bingung melihat Firlan yang membawa pulang seorang wanita. Karena selain Andini, tak ada lagi wanita yang pernah datang ke rumah itu.


Sebagai pria, Firlan tak mungkin mengurus tempat tinggalnya sendiri ditambah lagi pekerjaannya sebagai asisten yang sangat sibuk sehingga dia pun memerlukan bantuan orang lain untuk menjaganya tetap bersih dan terawat.


Firlan kini berjalan naik menuju lantai dua rumahnya. Dia meletakkan Vira diatas ranjang.


"Kalau udah tidur bisa begitu, diangkat juga boro-boro bangun, ngerasa keganggu juga nggak!" Firlan menggeleng melihat Vira yang kini bertambah pulas.


Pria itu membuka lemari dan mengambil pakaian, lalu masuk ke dalan kamar mandi untuk berganti baju. Pria itu merasa lebih baik saat memakai celana pendek dan kaos yang menjadi kesukaannya.


"Tumben aku ngerasa capek banget! apa ini tanda-tanda penuaan dini?" gumam Firlan.


Pria itu merebahkan dirinya diatas sofa panjang yang ada disitu, tak lupa ia juga membawa bed cover lain untuk membuatnya nyaman saat tidur.


.


.


.


Sementara Gusti dan Gia kini sudah dalam perjalanan menuju rumahnya.


Mobil itu pelahan masuk ke sebuah rumah nan megah. Mengetahui majikan mereka pulang, pintu rumah pun segera dibuka lebar.


Gusti langsung menggendong tubuh putrinya untuk masuk ke dalam rumah.


Sedangkan para pelayan yang ikut dengannya langsung menurunkan barang-barang yang ada di mobil.

__ADS_1


Gusti membawa Gia menaiki tangga, ia membuka pintu kamar Gia dan meletakkan putrinya itu diatas ranjang. Tak lupa ia menutupi setengah badan Gia dengan selimut.


"Mimpi indah, Sayang..." Gusti mencium kening putrinya.


Pria itu lalu menyalakan pendingin ruangan sebelum meninggalkan Gia yang masih tertidur pulas.


Rasanya lelah sekali seharian berada di luar, pria gagah yang sayangnya masih betah sendirian itu pun masuk ke dalam kamarnya.


Ia melepas beberapa kancing bajunya dan masuk ke dalam toilet. Ia mencuci tabgan dan wajahnya.


"Aku belum tua-tua banget kan, ya? atau aku harus ganti style? supaya lebih terlihat fresh?" Gusti menatap wajahnya yang terlihat di pantulan cermin. Badannya yang banyak kotak-kotak seperti roti sobek membuatnya tidak terlihat seorang lelaki yang sudah mempunyai anak sebenarnya.


"Ah, mikir apa sih aku ini!" ucap Gusti seraya terkekeh, dia merasa seperti ABG yang sedang mencoba menarik simpati lawan jenisnya.


Pria itu pun keluar menuju ruang ganti, ia mengambil piyama kemudian memakainya.


Gusti berjalan mematikan sebagian lampu dan hanya menyisakan lampu tidur saja. Dia pun segera memejamkan matanya karena hari sudah malam, dan membiarkan tubuhnya beristirahat.


.


.


.


Namun kali ini dia membuka matanya perlahan dan dia sangat terkejut saat mendapati dirinya di sebuah ruangan yang sama sekali sangat asing. Apalagi cahaya ruangan ini temaram, membuat pandangannya tak terlalu jelas.


"Astaga, aku dimana?" pekik Vira yang kini mulai bangun dan melihat ruangan secara seksama.


"Dimana kak Firlan?" gumamnya.


Wanita itu akhirnya turun dan mencari saklar lampu dan setelah semua lampu menyala, baru lah dia melihat Firlan yang tidur di sofa.


"Ay ... bangun, Aaay!" Vira menggoyangkan tubuh Firlan.


"Emh, ada apa?" tanya Firlan setengah sadar.


"Kita dimana sekarang?" tanya Vira.


"Dirumah,"


"Dirumah siapa? ngomong yang jelas, ih!" Vira kesal pasalnya Firlan malah mengubah posisinya menjadi miring ke kanan memunggungi Vira yang kini sedang berdiri.


"Ay, ini di rumah siapa? ini bukan dikontrakan aku!" Vira membalik badan Firlan.


"Ya emang aku bilang ini di kontrakan kamu? ini di rumah aku, udah ah aku masih ngantuk..." kata Firlan.

__ADS_1


Vira pun berjalan menjauh dari pria itu yang semakin membungkus badannya dengan bed cover tebal.


"Lagian kenapa dia bawa aku kesini? kenapa nggak ke kontrakan aku aja? terus kenapa aku nggak kerasa juga kalau dibawa sampai kesini!" Vira melihat tasnya ada diatas nakas. Ia merogoh ponselnya disana.


"Masih jam 2 pagi," gumam Vira.


Vira pun merebahkan tubuhnya lagi sambil melihat Firlan yang tidur di sofa. Ia membiarkan lampu semua menyala. Lagi pula dia tidak bisa tidur jika lampu dipadamkan.


"Lebih baik aku tidur lagi," Vira pun memejamkan matanya lagi.


.


.


.


Pagi pun menjelang, matahari sudah menyapa sebagian manusia yang sudah membuka matanya.


"Vir ... Vira, bangun..." Firlan duduk di sisi ranjang, ia sudah gagah dengan setelan jasnya.


"Vir ... Vira?" pria itu masih berusaha untuk membangunkan wanitanya.


"Emmmh, iya, iya..." gumam Vira.


"Aku udah bayar kontrakan, jangan usir aku..." lirih Vira.


"Ngelindur nih orang!" Firlan geleng-geleng kepala.


"Vira, Vira bangun udah pagi. Kamu nggak ngajar?" tanya Firlan sembari menepuk-nepuk pipi Vira.


"Hh ... ngajar? astaga!" Vira seketika terbangun dari tidurnya.


"Jam berapa sekarang?" Vira segera membuka selimut.


"Jam 7 pagi. Heh, yang tenang kalau bangun tidur, jangan kayak lagi dikejar-kejar setan begitu. Tarik nafas dulu..." Firlan mengingatkan Vira yang dinilainya terlalu gugup saat bangun.


Vira pun menurut, dia menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan sebelum menjulurkan kakinya ke lantai.


"Kamu kok udah siap?" tanya Vira.


"Iya tadi aku bangun kepagian, jadi sekalian aja siap-siap, lagian jam 10 aku ada meeting penting..." jelas Firlan.


"Kamu mandi dulu, aku tunggu di bawah, kita sarapan bareng," kata Firlan seraya mengusap kepala Vira. Kemudian pria itu pergi dan menutup pintu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2