
Setelah sekian jam berada di kereta, akhirnya Vira sampai juga di stasiun tujuannya. Sebelym sampai tentu saja Firlan sudah cukup berisik dengan mengirimnya chat.
"Ay? dimana? aku udah di parkiran, kamu langsung kesini aja," ucap Firlan di balik telepon.
Belum sempat Vira menjawab sambungan telepon itu sudah diputus secara sepihak.
"Niar jemput nggak sih nih orang? dasar nyebelin!" gerutu Vira.
Beruntung wanita itu hanya membawa ras yang ia selempangkan di bahunya. Sehingga sewaktu kereta berhenti dia bisa langsung keluar tanpa repot mengurusi barang bawaan.
Vira langsung berjalan ke arah pintu keluar menuju parkiran mobil. Ia melihat seorang pria gagah dengan setelan jasnya yang sangat pas di badan, siapa lagi kalau bukan ayang embe milik Vira.
"Masuk!" Firlan membukakan pintu untuk Vira.
Tanpa babibu Vira juga masuk ke dalam mobil yang sangat nyaman baginya itu. Tak lama Firlan pun masuk dan duduk di kursi kemudinya, ia melirik Vira sekilas memastikan wanita itu sudah memakai seatbelt atau belum.
"Kita cari makan dulu," jata Firlan seraya menncapkan gas mobilnya perlahan menjauh dari area stasiun kota.
Lagi-lagi Vira tidak menjawab, dia hanya mengangguk kecil sembari melihat ke luar jendela.
"Bukannya jam segini kamu harus kerja?" tanya Vira tanpa menengok.
"Aku udah ijin bentar, dan untungnya nggak ada meeting penting. Jadi aman," kata Firlan.
"Kamu mau makan bubur ayam? perut kamu pasti kosong," tebak Firlan.
"Tadibya mau makan di kereta, cuma liat nasi gorengnya nggak anget kok jadi males. Jadi ya udah mending tidur aja..." Vira menengok sekilas melihat wajah kekasihnya, laku ia menatap lurus ke depan, melihat jalanan.
"Makanya ku jemput kamu. Lagian keras kepala banget sih naik transportasi umum?" Firlan mengusap kepaka Vira sebentar sambil fokus pada stir mobilnya.
"Ya nggak apa-apa kan memang aku pengen dan udah lama nggak naik kereta. Aku juga kangen masa-masa kayak gitu, Ay..." kata Vira.
"Ya ya, terserah kamu aja..." kata Firlan karena percuma juga berdebat dengan Vira, karena wanita itu pasti punya sejuta alasan untuk menjawab.
Setelah 20 menit menyetir, Firlan pun membelokkan mobilnya di sebuah kedai bubur ayam yang sudah terkenal enak di daerah itu.
"Kita makan dulu, aku juga laper!" kata Firlan seraya melepas sabuk pengaman yang membelit tubuhnya.
Mereka berdua keluar dan memesan dua mangkok bubur ayam dan dua gelas teh manis panas.
"Silakan," kata pelayan yang mengantarkan pesanan mereka, ditambah semangkok sate usus dan telor puyuh.
__ADS_1
Vira mebgambil botol yang isinya kuah kuning yang bisa mereka tuang sesuka hati.
"Sini, biar aku..." Firlan meraih botol yang lumayan berat dan mengucurkan kuah kuning ke atas bubur milik Vira.
"Udah, cukup!" kata Vira.
Firlan pun menuang kuah yang sama diatas mangkoknya. Sedangkan Vira sudah menuang sambal dan kecap.
"Jangan terlaku pedas, masih pagi. Nanti perut kamu eror!" jata Firlan mengingatkan.
"Iya, nggak kok! ini juga dikit..."
Mereka makan dengan tenang, tanpa adanya perdebatan yang berarti tentang bubur yang diaduk dan tidak diaduk.
"Habis ini kamu ikut ke kantor aja ya? bentar doang kok," kata Firlan.
"Ya, Ay ... asal nggak dimarahin bos kamu aja..."
"Nggak bakal, yang ada dia nanti yang dimarahin sama istrinya..." kata Firlan.
"Kok gitu?"
"Ya iya, dia berani melarang sahabat istrinya buat dateng ke kantor, nyonya Amartha bisa ngambek kalau tuan Satya sampai berbuat seperti itu," kata Firlan.
"Lagian kamu kan cuma duduk disana, nggak akan ganggu siapa-siapa juga. Aku punya ruangan pribadi, jadi nggak masalah..." kata Firlan yang kini sudah menghabiskan bubur dan meneguk minumannya.
Setelah membayar makanan dan minuman yang mengenyangkan walaupun mungkin hanya sesaat itu oun, Firlan segera menbawa kekasihnya ke kantor tempat ia bekerja.
Sebenarnya ini bukan kali pertama Vira datang ke perusahaan itu, namun hanya sampai di lobby dan tidak sampai naik ke atas apalagi ke ruangan Firlan.
Mereka berdua menaiki lift, beberapa pasang mata melihat Vira yang berjalan di samping sosok tegap Firlan.
"Kayaknya mereka nggak pernah liat bidadari lewat ya, Ay?" tanya Vira setelah masuk ke dalam lift.
"Ya bisa jadi. Lagi pula, kau memang nggak pernah mengajak wanita ke perusahaan ini..." ucap Firlan bangga sambil membenarkan jas miliknya.
"Terus aku kamu anggap apa? kucing?" Vira menatap kekasihnya kesal.
"Maksudnya sebelum kamu dan ebelum hari ini..." jelas Firlan.
"Ya lagian buat apa ngajak perempuan kesini? mau ngajak main catur apa gimana? kamu kan super sibuk," kata Vira.
__ADS_1
"Udah, ah. Jangan cemberut mulu!" Fitlanenarik tangan Vira keluar saat pintu lift terbuka. Maura yang melihat wanita yang sepertinya tal begiru asing di matanya berjalan berdampingan dengan Firlan pun hanya bisa menyunggingkan senyumnya.
"Kayak pernah liat," gumam Maura yang kemudian duduk di tempat duduknya.
Ceklek.
Firlan membuka pintu ruangannya, hawa dingin langsung menusuk kulit.
"Gila, inj ruangan atau kulkas? dingin banget?" kata Vira ketika varu menginjakkn kaki di ruangan itu.
Fitlan yang sedang menutup pintu hanya tersenyum.
"Ya tinggal diatur suhunya, gampang kan?" pria itu mengatur ulang suhu ruangan.
"Duduk aja disana, Ay..." Firlan menunjum satu sofa yang ada di ruangannya. Fia sengaja meminta itu karena dia sering lembur di kantor, badannya pegal jika terus duduk di kursi di meja kerjanya.
Vira pun menjatuhkan firinya di sofa empuk itu.
"Kamu bisa tiduran, lurusin kaki biar nggak pegel. Habis perjalanan jauh, kan?" kata Firlan pada wanita yang memakai jeans dan blouse warna putih gading.
"Nanti ketiduran..." ucap Vira sambil menyender.
"Nanti aku bangunin kalau ketiduran," kata Firlan.
"Nanti ada yang masuk," kata Vira melihat ke arah pintu yang tertutup.
"Nggak semvarang orang kok masuk ke ruangan aku kecuali Maura dan tuan Satya..." kata Firlan sambil mengetik sesuatu di leptopnya.
"Maura...?" Vira mengernyitkan dahinya.
"Sekretaris tuan Satya, yang tadi senyumin kamu..." kata Firlan tanpa melihat wajah kekasihnya yang sudah pasti berpikir macam-macam.
"Oh, aku kira siapa..." kata Vira, ia mulai ingat seseorang yang sempat menolong Amartha saat Ivanka mengerjai sahabatnya itu di basement.
Vira mulai menata bantal sofa dan meluruskan badannya di atas sofa empuk itu.
"Aarghh, nyamannya..." gumam Vira, Firlan hanya menipiskan bibirnya saat melihat Vira yang sudah mulai memejam.
"Dasar tukang tidur!" batin Firlan.
"Aku nggak tidur ya, Ay! aku cuma meremin mata aja, lama-lama pedes juga nih mata kena sorot pendingin ruangan..." kata Vira yang seakan menjawab suara batin Firlan.
__ADS_1
"Terserah kamu aja, Ay!" kata Firlan yang kembali fokus dengan pekerjaannya.
...----------------...