Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Mantan Pengganggu


__ADS_3

"Kayaknya buburnya enak, aku pengen, Ay..." kata Firlan mencoba mencairkan suasana. Dai memegangi perutnya.


"Perutnya mual atau gimana?"


"Disini kayak cekit-cekit, sakit..." Firlan menunjuk ulu hatinya.


"Minum obat lambung aja dulu, biar meredakan nyeri..." Vira mengambil kantong obat dia memberikan obat lambung pada Firlan.


"Tunggu beberapa menit dulu, biar obatnya bekerja. Habis itu baru boleh makan..." ucap Vira.


"Coba inget-inget tadi pagi itu kamu makan apa, Ay. Bisa sampai sakit kayak gini,"


"Aku belum makan malah, dan langsung ke peternakan lebah ... dan disana aku nyobain sedikit sarang madu, tapi itu cuma satu gigit aja..."


"Sarang madu?"


"Ya, jadi tuan Satya nyuruh aku pergi ke peternakan lebah yang ada di luar kota. Katanya sih, istrinya lagi pengen makan madu langsung dari sarangnya. Karena sampai sana udah keburu malam, jadi ya aku besoknya baru ke tempat peternakan lebah itu..."


"Bisa jadi perutmu sakit karena makan sarang madu sebelum ada makanan untuk mengalasi lambung terlebih dahulu..." kata Vira.


"Bukannya madu baik buat kesehatan ya?"


"Tiap orang punya reaksi berbeda terhadap suatu makanan. Contoh aja, seafood. Makanan laut kan baik buat kesehatan, tapi ada beberapa orang yang mengalami reaksi alergi saat memakan makanan dari laut, begitu juga dengan madu, mungkin nih lambung ngasih reaksi berlebihan saat makan sarang madu. Dan setauku, sarang madu itu kalau dikunyah chewy dan sarangnya nggak boleh ditelan..." jelas Vira.


"Kemarin ditelen nggak sarangnya?" tanya Vira.


"Iya,"


"Pantesan sakit perut!" ucap Vira, sementara Firlan hanya bisa meratapi perutnta yang kini terasa nyeri.


"Kalau mau lihat ada di kardus yang ada di ruang tamu, coba kamu buka, kamu ambil dan bawa kesini..." lanjut Firlan.


"Makan buburnya, mumpung masih hangat!" Vira memberikan mangkok yang baru saja ia tuangkan kuah kuning.


Wanita itu berjalan ke arah ruang tamu. Ia membuka sebuah box yang ternyata berisikan banyak sarang madu yang sudah dikemas dengan rapi dan higienis. Vira mengambil sagu dan pergi ke dapur untuk membukanya.


Dia melewati begitu saja Firlan yang sedang makan bubur.


Vira mengambil sebuah papan kayu yang biasa dipakai untuk alas memotong sayuran, ia membuka kemasan dan menaruh satu sarang lebah diatas papan itu dan memotongnya menjadi beberapa bagian.


Vira kembali ke sofa depan tivi.


"Udah habis?" tanya Vira pada Firlan.


"Udah..."


"Nih minum dulu," Vira memberikan minuman pada Firlan. Dan ia meletakkan cangkir diatas meja saat Firlan sudah meneguk minuman itu.


"Nih, bentuk sarang madu kan begini ya?" Vira memperlihatkan papan kayu yang terdapat honeycomb.


"Ini setelah dikunyah jangan ditelan, ini keras dan perut bisa sakit..." ucap Vira lalu mengambil satu potong sarang madu dan memasukannya ke dalam mulut.


Rasa manis langsung lumer di mulut Vira. Tidak ada rasa asam, kebetulan Vira mengambil sarang yang berwarna sedikit gelap.


"Kenapa kamu makan? kamu bisa sakit!" kata Firlan.


Vira mengeluarkan hasil kunyahan sarang itu dan menaruhnya diatas tisu.


"Nggak sakit kalau perut sudah diisi makanan, dan juga sarangnya nggak ditelan. Jadi yang kita makan itu pure madunya," jelas Vira, kali ini Firlan hanya manggut- manggut.


"Perutnya masih sakit banget atau udah mendingan?" tanya Vira.


"Mendingan kok,"


"Ya sudah, tiduran lagi. Biar telapak kakinya aku pijat-pijat," ucap wanita yang kini meletakkan papan kayu diatas meja dan beralih pada Firlan.


"Makasih, ya ... kamu udah dateng,"


"Makasih doang?" tanya Vira.


"Kamu pengen apa? nanti aku beliin..."


"Nggak, nggak, aku cuma bercanda kok..." ralat Vira.

__ADS_1


"Tiduran lagi, segini sakit nggak?" tanya Vira yang kini memangku kaki Firlan dan memberikan pijatan-pijatan di telapak kaki dan juga jari- jarinya.


"Sedikit sakit, tapi malah enak pas dipijit begitu..." kata Firlan jujur, mata pria itu seperti terhipnotis untuk memejam.


Vira yang melihat Firlan mulai terlelap pun tersenyum, paling tidak ia berguna saat pria itu membutuhkannya. Vira meletakkan kaki Firlan perlahan. Ia pergi ke kamar pria itu untuk mengambil selimut dan bantal.


"Dah, tidur yang nyenyak!" Vira menyelimuti Firlan.


Sedangkan bantal yang ada di tangannya, ia letakkan di atas karpet dan Vira mulai rebahan.


"Ya ampun, akhirnya bisa ngelurusin badan juga!"


Karena mungkin sangat lelah, Vira pun akhirnya tertidur.


.


.


.


Wanita itu ingin bergerak, namun seperyinya ada sesuatu yang berat seperti menimpanya.


"Ya ampun ini apaan sih!" gunam Vira yang sulit sekali saat ingin mengubah posisi tidurnya.


Setelah ia membuka mata ternyata dia tidak di ruang tivi melainkan di kamar Firlan. Dan ia melihat tumpukan bantal dibelakang punggungnya.


"Pantesan nggak bisa gerak!" Vira bangun dan melihat ada banyak bantal yang mengelilinya.


"Kenapa aku disini? bukannya tadi aku rebahan di karpet?" Vira bingung.


Wanita itu menyingkirkan tumpukan bantal dan turun dari ranjang.


Ia bergerak ke arah ruang tivi tapi tidak mendapatkan Firlan.


"Kemana dia?" gumam Vira, ia duduk di sofa sambil mencoba menghubungi kekasihnya


"Halo, Ay? kamu dimana?"


"Asgaga, kamu kan lagi sakit! bisa-bisanya ngantor?"


"Ya, ada urusan penting. Ini udah perjalanan ke apartemen, kok!"


"Hati-hati, aku tunggu!" kata Vira.


Vira sangat kesal saat tahu Firlan pergi ke kantor. Padahal pria itu jelas masih sakit dan belum sembuh betul.


"Apa dia nggak bisa bilang kalau dia lagi sakit?" ucap Vira sembari menyandarkan punggungnya di sofa dan menyetel televisi.


Ting tong!


Ada suara bel.


"Cepet banget sampainya?" Vira beranjak dn pergi untuk membuka pintu.


Namun setelah pintu dibuka bukan sosok Firlan yang ia temui, melainkan mantan kekasih tunangannya.


Wanita itu menggunakan kemeja putih oversize dengan yang memperlihatkan kaki jenjangnya.


Tangannya membawa nampan yang berisi makanan.


"Minggir!" Andini menerobos masuk begitu saja.


"Astaga wanita itu!" Vira segera mengejar wanita tadi.


"Lan...?" Andini memanggil Firlan, wanita itu meletakkan nampannya di meja ruang tamu dan ia berjalan menuju kamar Firlan. Sepertinya wanita ini sudah hafal seluk beluk apartemen milik Firlan.


"Firlan tidak ada, mau apa kamu kemari!" Vira menarik paksa Andini untuk keluar dari kamar.


"Singkirkan tanganmu itu!" Andini tak menghiraukan pertanyaan Vira. Dia malah kembali ke ruang tamu.


"Ya ampun wanita ini menyebalkan sekali!" gumam Vira.


"Heh, mau apa kamu kesini dengan pakaian seperti itu?" tanya Vira lagi yang sudah sangat gemas ingin menjambak rambut panjang Andini.

__ADS_1


"Aku tidak ada kepentingan buat ngejelasin sama kamu," ucap Andini.


Dan ketika sorot mata tajam Andini bertemu dengan sepasang mata milik Vira, sesorang membuka pintu dan iti adalah Firlan.


Dia tetkejut dengan kehadiran Andini apartemennya.


"Kamu darimana saja, Lan? kamu kan lagi sakit..." Andini segera beranjak dan menghampiri Firlan.


Pria itu tak habis pikir mengapa Andini berpakaian seperti itu, ia melihat Vira yang melipat tangannya di depan dada dengan wajah yang tak bersahabat.


"Pergilah, aku tidak mau diganggu!" ucap Firlan membuka pintu lebar-lebar.


"Jangan bersikap seperti itu, Lan! kamu lupa aku yang membawamu kemari? aku datang buat nganterin makanan buat kamu..."


"Iya, tapi aku nggak butuh!" Fian segera menyeret Andini keluar dari unitnya.


"Lan, sakit tau!" Andini mengerang kesakitan saat tangan Firlan mencengkram kuat lengannya.


"Dengar baik-baik, aku tidak meminta bantuanmu saat itu dan aku minta jangan pernah datang kemari lagi!" Firlan melepaskan Andini dengan kasar saat wanita itu sudah berada di luar.


BRAKKKK!


Pria itu membanting pintunya, membuat Andini mundur beberapa langkah.


"awas saja kamu, Lan! aku nggak akan berhenti, alu bakal dapetin kamu lagi, Lan..." ucap Andini seraya memegang perutnya.


Sementara Firlan segera menghampiri Vira yang pasti sangat kesal dan marah dengan tingkah mantan kekasih dari pria yang kini sudah menjadi tunangannya.


"Ay ... kamu mau kemana?" tanya Firlan yang melihat Vira pergi mengambil tasnya.


"Pulang," ucap Vira. Firlan segera mengambil tas yang ada di tangan Vira dan melemparkannya ke atas sofa.


"Kamu apa-apaan, sih?" Vira kesal.


"Jangan pergi, aku bisa jelasin..."


"Apa?"


"Yang mana yang mau kamu jelasin? dia bilang dia yang nganter kami kesini, berarti kemarin kalian ketemu dan jangan-jangan..."


"Jangan-jangan apa? nggak ada, aku ketemu dia di jalan. Aku lagi berehenti karena aku bgerasa perutku sakit banget dan nggak tau darimana datangnya, dia muncul dan maksa buat nyetirin mobil!" jelas Firlan.


"Masa sih? tau-tau muncul? emang dia titisan setan? nggak mungkin tiba-tiba dia kebetulan lewat..."


"Malamnya memang aku sempat bertemu dia di restoran sewaktu aku makan malam, tapi beneran aku nggak sengaja ketemu dia..."


"Kamunya nggak sengaja tapi dia jelas sengaja! Oh, ya ... dan menurutku, dia juga nggak kebetulan pakai baju kedombrangan menerawang kayak gitu buat ngejengukin orang yang lagi sakit," kata Vira.


Grep!


Firlan memeluk Vira, dia mengelus punggung wanita itu.


"Aku nggak peduli soal Andini, aku hanya peduli sama kamu. Yang jelas, aku nggak bakal ngebiarin dia ngerusak hubungan kita. Kamu harus percaya sama aku, Vir..."


"Nggak tau lah!" Vira melepaskan pelukan Firlan dan memilih duduk di sofa.


"Aku cuma heran, kenapa dia datang ke sini dengan pakaian kayak gitu? apa dia nggak malu kalau ada orang papasan sama dia?" Vira melihat Firlan dengan kesal.


"Sebenarnya dia tinggal di unit sebelah," lirih Firlan.


"Apaaaaaaaaaaa...!" suara Vira langsung naik satu oktaf.


"Ya aku juga nggak tau awalnya. Tapi ya gitu, ternyata dia tinggal satu lantai denganku..."


"Pantesan aja, coba aja dia nggak kesini, pasti sampai kapan pun aku nggak akan pernah tau kalau penghuni unit sebelah itu sang mantan terindah!" sindir Vira.


"Nggak usah lebay! nggak ada tuh ada mantan terindah!" ralat Firlan, dia membawa Vira di atas pangkuannya.


"Terus itu mau diapain?" tanya Vira menunjuk nampan yang tadi di bawa Andini, dia menaruh dua mangkuk entah apa isinya.


"Terserah kamu mau diapain!" kata Firlan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2