Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Gusti dan Gia


__ADS_3

Vira pun terbangun dan ingin mandi. Firlan yang sudah segar dan sudah berganti pakaian menawarkan bantuan.


"Aku ambilkan baju, nanti biar suster yang membantumu di kamar mandi..." kata Firlan.


"Jadi kamu beneran ke kontrakanku buat ngambil baju?" tanya Vira dan matanya terbelalak saat melihat benda yang sangat privacy buat dirinya.


"Dan apakah kamu juga yang mengambilnya?" tanya Vira ambigu.


"Menurutmu siapa lagi? nggak mungkin aku minta tolong tetangga kan?"


"Astaga, malu banget aku. Tapi kenapa dia sepertinya biasa saja?" batin Vira .


"Jangan-jangan Vira berpikir kalau aku tidak tau malu karena mengobrak abrik lemari bajunya!" tebak Firlan yang mencoba menbaca apa yang dipikirkan Vira tentangnya.


"Aku panggilakan suster ya buat bantuin kamu?" ucap Firlan.


"Nggak usah, aku bisa sendiri, kok!" kata Vira.


"Naanti susah," kata Firlan.


"Nggak susah, aku bisa kok! ucap Vira yang kemudian mengambil baju gantinya kemudian pergi ke dalam kamar mandi.


Sementara Firlan kembali menutup koper milik Vira dan duduk di sofa menunggui wanita itu sedang membersihkan tubuhnya.


"Aku ahrus menghubungi calon papa mertua atau bagaimana, ya? tapi nanti mereka khawatir. Ah, nanti saja aku tanya Vira. Lagipula Vira tak begitu parah sakitnga, dia cuma butuh istirahat dan minum obat. Semoga aja dia cepet sembuh..." ucap Firlan.


Pria itu memesan makanan untuknya, dia ingin pizza dengan toping daging dan keju. Perutnya sudah kelaparan ingin diisi, dan tak lama terdengar suara handle pintu diputar.


Ceklek.


Vira keluar dengan memegang cairan infus dengan tangan satunya. Firlan yang melihat itu segera beranjak dan membantu Vira.


"Hati-hati," ucap Firlan. Pria itu membantu Vira memasangkan kembali cairan infus ke tiang infus.


"Udah seger?" tanya Firlan.


"Udah..."


"Makan dulu kalau gitu, aku bantu..." Firlan menyuruh Vira untuk kembali naik ke atas ranjang pasien dan mulai menyuapi Vira.


"Jangan banyak-banyak," protes Vira.


"Nggak banyak lah segini, biar cepet sembuh..." kata Firlan, sepertinya dia ingin Vira cepat menyelesaikan makan malamnya.


"Iya tapi nggak gini juga, aku jadi seret tau nggak!" Vira kesal, Firlan hanya terkekeh melihat Vira dengan mulut penuh makanan.


Dan ternyata setelah Vira menyelesaikan makanannya, pesanan Firlan datang.


Firlan pun membuka boz pizza yang tidak terlalu besar karena ia makan seorang diri.


"Curang!" celetuk Vira saat Firlan akan menyuapkan suapan pertama pizza yang sangat menggiurkan itu.


"Curang apanya?" Firlan mengernyitkan dahinya, bingung.


"Nah itu makan pizza dan minum soda,"


"Kamu mau? ngomong aja kalau pengen, aku bakal kasih kecuali soda ini..."Firkan mengangkat gelas kertasnya.


"Ya jelas pengen lah!" sahut Vira dan Firlan segera mendekat dengan sekotak pizza di tangannya.


"Cobain..." Firlan menyodorkan pizza ke mulut Vira.


"Emmh, enak..." puji Vira, dan malam itu mereka berdua berbagi pizza.


.


.


.


Pagi harinya di kediaman Alvaro.

__ADS_1


"Morning, Piih..." sapa Gia ketika ia baru saja datang ke meja makan.


"Morning princess!" sapa Gusti.


"Kelihatannya ceria sekali anak papi hari ini?" tanya Gusti, Gia segera duduk di kursi yang sudah biasa ia duduki.


"Nggak apa-apa, hanya aaja aku mimpi bertemu tante Vira..." jawab Gia.


"Gia engen banget ketemu tante Vira?" tanya Gusti.


"Iya lah pengen, kangen udah lama nggak main sama tante Vira..." jawab Gia lagi.


"Tapi kalau seandainya Gia ketu dengan tamte Vira, Gia nggak boleh berisik ya? karena tante Vira sedang sakit harus banyak-banyak istirahat..." ucap Gusti.


"Pagi ini kita akan menjenguk tante Vira di rumah sakit. Papi akan ijinkan Gianggak berangkat sekolah, karena kalau siang papi nggak bisa. Papi ada meeting penting dengan client, bagaimana?" tanya Gusti.


"Iya iya Gia mau..." ucap Gia sangat bersemangat. Gadis kecil itu makan sarapannya dengan sangat lahap, dia sangat senang akhirnya dia bisa bertemu dengan tante Vira.


Gusti yang melihat itu pun ikut senang. Selesai sarapan, Gusti langsung mengajak Gia untuk menjenguk Vira ke rumah sakit. Sesampainya disana, kedua orang itu menyusurj koridor untuk menjangkau kamar Vira.


"Inget, yah jangan berisik. Karena sekarang ini rumah sakit..." lirih Gusti.


"Siap, Papi. Gia nggak akan berisik..." bisik Gia, sedangkan Penny yang mengikuti Gia dan majikannya dari belakang.


Gusti mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruang rawat itu.


Ternyata Vira sedang terpejam sedangkan tak ada siapapun ada disana. Gusti menfajak Gia u tuk mendekat sedangkan Penny menunggu kedua majikannya di luar ruangan.


"Tante Viranya lagi tidur..." ucap Gusti.


Gia mendekat, ia mengelus punggung tangan Vira yang terancam jarum infus.


"Tante pasti sangat kesakitan..." gumam Gia.


Gusti hanya bisa melihat interaksi satu arah yang dilakukan oleh Gia pada Vira.


"Papi ... tante Vira sakit apa? kenapa tangannya dipasang selang seperti ini?" tanya Gia.


Merasa ada yang berbisik seperti orang yang sedang mengobrol. Vira pun membuka matanya sedikit dan ia meluhat Gia sedang berdiri di samping ranjangnya.


"Gia?" cici Vira dengan suara seraknya.


"Benar, kamu Gia kan?" Vira mengucek matanya, dia takut kalau dirinya ternyata halusinasi.


"Mas Gusti?" lirih Vira ia juga melihat Gusti bersiri di samping Gia.


"Ini Gia, tante. Maaf mengaggu tante istirahat..."


"Ah, nggak. Maksudku, nggak ganggu kok Gia. Bagaimana bisa klaian tau aku dirawat disini? tanya Vira.


"Itu tidak perlu dipikirkan, aku kesini hanya untuk mengantar Gia menemuimu..." ucap Gusti.


Vira tersenyum pada gadis kecil yang kini dudul di samping ranjangnya.


"Tante cepet sembuh ya? tante sakit apa sih? tante tidak akan meninggal, kan?" tanya Gia.


"Astaga, Sayang. Kamu tidak boleh bertanya seperti itu, itu tidak sopan Sayang..." ucap Gusti.


"Masf ya Vir. Keingintahuan Gia sangat besar, terutama hal yang berkaitan denganmu..." jelas Gusti.


"Iyaa nggak apa-apa, kok..." ucap Vira


Dan saat Gia dan Gusti berkunjung menengok Vira, saat itulah Firlan masuk ke dalam ruamgan itu.


"Ehem, ada tamu..." ucap Firlan melihat kehadiran Gusti bersama dengan satu anak kecil. Ia segera mendekat ke arah calon istrinya.


"Maaf, aku keluar sebentar tadi..." Firlan mengelus puncak kepala Vira dan itu mendapat tatapan tajam dari Gia.


"Om ini siapa, Tante?" tanya Gia pada Vira.


"Hem ... dia ... dia..." Vira bingung bagaimana mengatakannya kalau Firlan ini adalah calon suaminya.

__ADS_1


"Siapa tante?" tanya Gia.


"Gia, tidak sopan bertanya seperti itu," ucap Gusti agar Gia tak bertanya lebih jauh lagi.


"Maaf, adik kecil. Saya ini calon suaminya..." ucap Firlan, sedangkan Vira hanya bisa menghela nafasnya dengan susah payah.


"Calon suami itu apa ya? Gia nggak ngerti..


" kata Gia.


"Astaga anak ini bertanya terus. Ada apa hubungannya anak ini, Gusti dan juga Vira?" batin Firlan.


"Calon suami itu ya..." belum sempat Firlan bicara, Vira segera menyerobot.


"Gia, Gia masih kecil tidak perlu tahu arti calon suami, oke?" ucap Vira


"Seharusnya biar aku yang menjelaskannya," ucap Firlan pada Vira.


"Dia masih kecil, bukan saatnya mengetahui hal yang belum sampai diumurnya..." ucap Vira, Firlan hanya mengangguk paham.


"Silakan duduk, kau padti pegal berdiri seperti itu terus..." Firlan menawarkan Gusti untuk duduk di sofa.


"Kita akan pulang sebentar lagi, kok!" sahut Gusti.


"Gia ... sekarang kita pulang ya? biarkan tante Vira istirahat..." ucap Gusti.


"Tapi Gia masih ingin disini..." Gia menggeleng.


"Disini rumah sakit, tidak baik anak kecil terlalu lama berada di tempat ini..." lanjut Gusti sedangkan Firlan hanya menyimak apa yang dikatakan pria itu pada gadis kecil yang seperti ya sangat dekat dengan Vira.


"Benar kata papi kamu, Gia. Gia, harus pulang. Tidak baik terlaku lama disini, disini toatnya oramh sakit, nanti takutnya Gia malah ketularan sakit..." ucap Vira.


"Baiklah, tapi tante janji cepet sembuh supaya bisa main lagi dengan Gia ya?" ucap Gia.


"Iya, Sayang. Tante Vira bakalan cepet sembuh, kan udah dijengukin sama Gia. Iya kan? sekarang Gia pulang dengan papi, ya? oke cantik?" ucap Vira.


Firlan hanya bisa memandang interaksi antara Gia dan Vira, Firlan merasakan kalau Vira tulus mebyayangi anak itu, yang baru Firlan ketahui sebagai anak dari Gusti.


"Baiklah, Vira. Maaf mengganggu waktu istirahatmu, kami pamit. Oh, ya aku bawakan kamu makanan, semoga suka ... cepat sembuh..." ucap Gusti. Ia meninggalkan beberapa paket makanan dan buah diatas meja.


"Iya, makasih..."


Pria itu lalu menggandeng anaknya keluar dari ruang rawat Vira. Dan kini Firlan menatap Vira meminta penjelasan.


"Dia anaknya Gusti, dia salah satu muridku di tempat les. Itulah kenapa aku akrab dengannya..." jelas Vira.


"Lalu, darimana dia tau kalau kamu dirawat disini? apa kamu yangemberitahunya?" tanya Firlan.


"Dari kemarin aja hapeku sengaja aku matiin, gimana aku mau ngasih tau? aku nggam tau kenapa dia sampai bisa tau aku disini, yang jelas bukan dari aku!" ucap Vira menggebu.


"Aku kira kamu yang ngasih tau, ya udahlah nggak usah dipikirin banget..." kata Firlan.


"Aku dekat karena aku mengajarinya melukis, bukan hanya dia aku juga dekat dengan semua anak yang ada di temoat les, jadi kamu nggam usah mikir yang aneh-aneh..." kata Vira.


Firlan hanya bisa mengangguk mengerti, baginya tak ada yang bisa menghalanginya untuk bersatu dengan Vira. Dam sebenarmya tadi ada sedikit kekhawatiran di hati Firlan tentang kedekatan antara anaknya Gusti dengan kekasihnya itu. Tapi Firlan yakin, Vira yang memang menyukai anak kecil memabg mempunyai sifat penyayang pada semua anak.


"Udah jelas kan?" tanya Vira.


"Iya yaa jelas. Nggak usah ngambek, kan aku cuma nanya!" kata Firlan.


"Nanya sih nanya, tapi nggak pakai sorot mata yang seakan mengintimidasi juga," kata Vira tidak suka.


"Iya iya aku minta maaf ya, Vira sayang..." ucap Firlan.


"Ya sudah, kamu habis dari mana tadi?" tanya Vira pada Firlan.


"Tadi ada telepon si bos, dia minta aku bua ngantor, tapi aku bilang masih cuti..." kata Firlan.


"ake kantor aja nggak apa-apa, lagian aku udah lebih baik. Nggak perlu ditungguin juga..." kata Vira.


"Beaok aja lah, aku juga pengen libur sekali-kali!" kata Firlan bersikeras tidak mau berangkat ke kantor. Vira hanya bisa menepuk jidatnya, kenapa bisa laki-laki seperti Firlan memikirkan ingin libur kerja.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2