
Vira pun segera mandi, dan sebelum mandi ia pastikan dulu kamar Firlan sudah terkunci. Kan bahaya kalau Firlan main nyelonong masuk.
"Rapi juga kamar nih, orang!" puji Vira yang melihat segala sesuatunya ditata sedemikian rupa, tidak seperti kamarnya yang lebih sering berantakan daripada rapinya.
"Aku harus cepat mandi!" Vira segera masuk ke dalam kamar mandi.
Wanita itu segera menyalakan shower dan menghujani dirinya dengan air hangat. Dan tak lupa dia memberikan sentuhan sabun pada tubuhnya.
Setelah selesai, Vira keluar dari kamar mandi setelah mengeringkan rambut dengan mesin pengering rambut.
Dia masih mengenakan baju yang sama, karena Vira memang tidak membawa baju ganti. Wanita itu membuka tasnya dan menyemprotkan parfum kesukaannya. Ia pun mulai memoles wajahnya supaya terlihat segar.
Dan setelah memastikan penampilannya sudah sesuai, Vira segera keluar dari kamar Firlan. Ia menuruni anak tangga sambil celingak-celinguk mencari keberadaan pria yang menjadi ke kasihnya.
"Disana kali, ya?" gumam Vira saat mendengar suara Firlan yang sepertinya sedang menerima sebuah panggilan telepon.
Vira pun mendekati asal suara, dan benar pria itu sedang duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan.
"Akhirnya muncul juga, baru juga mau disamperin takut pingsan di dalem," ucap Firlan seraya memasukkan ponsel ke dalam saku jas nya.
"Lebay, masa iya aku pingsan di dalem?"
Vira pun menarik satu kursi tepat di depan Firlan.
"Sarapan, Ay..." kata Firlan yang mendekatkan piring yang sudah ada setangkup roti yang diolesi selai pada Vira.
Tak lama seorang pelayan datang membawakan teh hangat dan menaruhnya di dekat Vira.
"Makasih," kata Vira yang tersenyum pada si pelayan.
"Aku antar ke kontrakan atau?" tanya Firlan.
"Berhubung masih pagi, mending ke kontrakan aja. Aku nggak nyaman ketemu anak-anak pakai baju begini..." ucap Vira.
"Oke, sekarang kita sarapan dulu..." ucap Firlan.
Dan pelayan datang lagi membawa salad buah dan sayur dan menaruhnya di meja makan. Firlan langsung menyambar satu mangkuk salad buah dengan toping keju diatasnya.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa makan kayak gitu aja?" tanya Vira sebelum memasukkan roti ke dalam mulutnya.
"Ini buah, dan sehat untuk pencernaan terutama pagi-pagi. Sebenarnyabaku nggak terlalu suka sarapan pagi dengan nasi, karena perutku pasti terasa sangat penuh..." kata Firlan yang kemudian mengambil roti kering dan menaruhnya dia atas piring kecil.
"Aku sih relatif, bisa makan nasi bisa nggak. Cuma karena buru-buru, jadi lebih sering makan roti atau apel aja," ujar Vira.
"Semalem kenapa malah kesini bukan ke kontrakanku?" tanya Vira.
"Oh, aku udah capek banget. Rumahku lebih deket, ya udah aku bawa kamu kesini aja..." jawab Firlan santai.
Setelah menikmati sarapan, Firlan dan Vira masuk ke dalam mobil dan pergi menuju kontrakan Vira.
"Hari ini kayaknya aku bakalan sibuk banget," ucap Firlan memecah keheningan.
"Iya nggak apa-apa, kan emang kamu orang sibuk," ucap Vira.
"Kamu jadi perawatan?" tanya Firlan.
"Iya jadi, habis pulang ngajar paling..." jawab Vira.
"Kabarin aku, barangkali aku bisa nganter kalau sore..."
"Ya udah kalau gitu, tapi kamu hati-hati, ya?" ucap Firlan.
"Iya," sahut Vira.
Dan setelah memacu kendaraannya selama kurang lebih 30 menit, Firlan akhirnya sampai juga di rumah kontrakan Vira.
"Sudah sampai," ucap Firlan setelah sampai di pelataran kontrakan wanita itu.
Vira segera melepaskan sabuk pengaman, dan ketika ia akan membuka pintu, tangan Firlan mencegahnya.
"Kamu bisa memakainya," ucap Firlan seraya menyerahkan sebuah kartu ajaib.
"Nggak usah, aku bisa bayar sendiri..."
"Udah terima aja, dan pakai untuk membeli apapun yang kamu butuhkan. Lagian sebentar lagi kamu akan jadi istriku, anggap aja ini test drive buat kamu mulai pakai uangku," kata Firlan tidak mau dibantah. Vira tak bisa menolak, karena Firlan bersikukuh ingin Vira menggunakan kartu itu dan pria itu pun memberitahu Vira pinnya.
__ADS_1
"Harus dipakai, awas kalau nggak!" ancam Firlan.
"Iya iya, ih! ya udah aku turun ya?" ucap Vira setelah memasukkan kartu yang diberikan Firlan ke dalam dompetnya. Wanita itu pun keluar dari mobil kekasihnya.
"Aku pergi," ucap Firlan seraya menurunkan kaca mobil.
"Hati-hati, nggak usah ngebut!" seru Vira. dan mobil Firlan pun perlahan bergerak menjauh.
Vira segera masuk ke dalam rumah, dan mengunci pintunya terlebih dahulu. Dia pulang hanya ingin mengganti bajunya.
"Hari ini jadwalnya aku pakai baju yang ini," kata Vira sembari mengeluarkan setelan baju dan celana panjang berwarna putih tulang setinggi mata kaki. Kakinya akan terlihat sangat jenjang ketika mengenakan celana itu. Vira segera mencatok rambutnya agar terlihat rapi dan enak dipandang.
"Kayaknya aku harus beli baju, buat ketwmu camer. Aku nggak mau lah kesan pertamaku malah dibilang burik sama ibunya kak Firlan..." gumam Bira seraya menyasar rambutnya dengan catokan rambut.
"Tenang Vira, kalau pun ditolak kamu bisa cari yang lain," kata Vira mencoba menenangkan dirinya yang sebenarnya sangat gugup akan bertemu dengan ibunya Firlan. Dia tidak tahu, karakter wanita yang telah melahirkan pria yang kini menjadi kekasihnya itu.
"Semoga aja sebaik mertuanya Amartha ya," Vira kembali berucap sambil mencabut colokan catokan.
Sekarang wanita itu membuat bingkai mata dengan eye linner hitam selanjutnya ia memakai mascara untuk mempercantik bulu matanya.
Vira memakai jam tangan kanannya, "Waktunya cari uang!"
Wanita itu beranjak dari duduknya dan menyambar tas dan ponselnya.
"Aku pakai taksi online aja, kalau naik motor bakalan ribet. Percuma abis perawatan malah kena debu sama asap knalpot kendaraan umum, cemong-cemong juga!" gumam Vira sembari membuka aplikasi pemesanan taksi online. Setelah memastikan kamarnya sudah aman ditinggalkan, Vira pun keluar dari sana dan berjalan ke arah ruang tamu. Dia duduk sambil melihat peta taksi yang dipesannya sudah berjalan sampai mana.
Dan tak lama, ada panggilan telepon dari Gusti di ponselnya.
"Halo, selamat pagi..." sapa Gusti.
"Iya pagi, Mas. Ada apa?" tanya Vira tanpa basa-basi.
"Vira, hari ini ada jadwal Gia untuk melukis. Bisa kah kamu mengajarinya di rumah? karena kemarin Gia habis melakukan perjalanan jauh, jadi mungkin dia akan kelelahan jika harus datang ke tempatmu..." ucap Gusti.
"Ok, nanti aku akan mengajarinya di rumah..." kata Vira yang tidak mungkin menolak, karena Gia memang memesan kelas eksklusif dengan harga yang bukan kaleng-kaleng. Lagipula dalam satu sesi itu, Vira hanya mengajari Gia jadi dia pikir tidak masalah jika dia yang harus datang ke rumah gadis kecil itu.
"Terima kasih, aku akan sampaikan pada Gia..." ucap Gusti yang otomatis menarik senyumnya karena berhasil meminta Vira untuk datang menemui Gia.
__ADS_1
...----------------...