Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Ingin Bertemu Vira


__ADS_3

Brukkkk!


Vira menutup pintu mobil setelah keluar dari mobil Firlan. Pria itu menurunkan kaca mobilnya.


"Dah sana kerja..." ucap Vira yang mengibaskan satu tangan menyuruh Firlan pergi, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk menenteng papper bag.


"Nanti pulang kerja aku jemput, ya!" kata Firlan.


"Iya..." Vira mengangguk.


"Aku pergi..." ucap Firlan melambaikan tangannya.


"Hati-hati..." kata Vira yang juga menggerakkan tangannya.


Vira yang datang lebih dari jam 10 pagi pun segera bergegas masuk.


Ceklek.


"Assalamualaikum," ucap Vira setelah membuka pintu.


"Waalaikumsalam," ucap Zanna yang menoleh ke belakang.


"Kaakaaaaaakk!" suara cempreng Flo langsung menggema seantero ruangan.


"Hai, Flo ... hai angel, Rania, Dara..." Vira menyapa satu persatu anak-anak.


"Loh, Fidya mana Zann?" tanya Vira karena tak melihat Fidya di dalam ruangan.


"Lagi beli minuman yang biasa dia minum kalau datang bulan, Kak..." ucap Zanna yang memperhatikan penampilan Vira yang tak seperti biasanya.


Vira langsung melakukan kegiatannya seperti biasa dengan anak-anak. Dengan telaten wanita itu mengajari anak-anak melukis.


.


.


Sementara di tempat lain.


"Huuuufhhhh!" berulang kali Gusti membuang nafasnya. Dia melihat layar ponselnya yang menampilkan kontak bernama Vira.


"Aku nggak tau kenapa Gia suka banget sama kamu, Vira. Bahkan bukan hanya Gia tapi juga aku..." Gusti membayangkan wajah Vira. Pria itu tersenyum dan sedikit melonggarkan dasinya.


Pagi tadi Gia merengek ingin meminta Gusti mengajak Vira ke rumah. Dan saat ini pria yang berstatus duda itu bingung bagaimana caranya mengabulkan keinginan putrinya.


"Aku telfon sekarang atau nanti saja, ya?" Gusti mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.


Pria itu meraih lagi ponsel yang tergeletak di atas mejanya.


Dan baru saja ia akan menelepon Vira, ada panggilan lain masuk.


"Rumah?" gumam Gusti.


"Ya, Halo..."


"Halo, Tuan. Ini saya, Penny..."


"Ya, ada apa Penny?" tanya Gusti yang heran mengapa pengasuh anaknya sampai menelepon ke nomor ponselnya.


"Begini, Tuan. Non Gia ingin bicara," kata Penny.

__ADS_1


"Haloooo, papiiiiii..." suara renyah putrinya seketika langsung menyapa pendengarannya.


"Halooo, putri kecil papi,"


"Bagaimana sekolahmu hari ini?" lanjut Gusti.


"Kok yang ditanyain sekolah sih, Pih..." Gia nampak tidak bersemangat.


"Hahahaha, kenapa? kenapa putri cantik mendadak lesu begitu?"


"Gia hanya ingin mengingatkan agar papi jangan lupa ajak tante Vira ke rumah sore ini," ucap Gia.


"Papi tadi masih sibuk, jadi papi belum sempat telfon tante Vira..." kata Gusti.


"Aiiiih, papi sibuk terus!" Gia mulai ngambek.


"Nanti ya, nanti papi coba bilang sama tante Vira. Tapi papi nggak bisa janji karena kita kan nggak tau kalau tante Vira sedang sibuk atau nggak..." kata Gusti yang tidak mau Gia berharap lebih.


"Ya sudah kalau begitu, Gia mau makan puding dulu, pih..." Gia sepertinya tidak puas dengan jawaban sang papi.


"Baiklah, Sayang. Hati-hati di rumah ya..." ucap Gusti dan setelah mengatakan itu panggilan itu pun di putus secara sepihak oleh Gia.


Gusti hanya bisa menghela nafasnya sembari memandangi layar ponselnya.


"Andai saja mami mu masih hidup, Gia..." lirih Gusti. Dia memijit pangkal hidungnya.


Pria itu kembali memegang ponselnya untuk menghubungi Vira.


"Halo, ehm Vira..." ucap Gusti sembari memperbaiki posisi duduknya.


"Ya kenapa, Mas?" tanya Vira.


"Vira, begini ... ehm,"


"Vira, Gia ingin kamu main ke rumah. Kamu ada waktu nggak sore ini?" tanya Gusti.


"Bagaimana, ya? masalahnya aku udah ada janji," jawab Vira setengah tidak enak hati.


"Oh, begitu ya? ya sudah, nanti aku sampaikan pada Gia..." ujar Gusti.


"Sampaikan maaf aku buat Gia, ya?" kata Vira.


"Nggak apa-apa, Vir. Nyantai aja, nanti aku jelasin sama Gia. Gia pasti ngerti kok..." kata Gusti.


"Oh ya, terima kasih ya waktu itu kamu antarkan Gia ke rumah. Dia kalau kekenyangan pasti suka ketiduran di mobil," lanjut Gusti.


"Oh yang waktu itu, iya nggak apa-apa. Lagian kasian juga kalau dipaksakan buat masuk les, walaupun disini juga konsepnya bermain, tapi kasian kalau ngantuk begitu..."


"Maaf aku jadi ganggu waktu kamu," ucap Gusti.


"Nggak kok, Mas. Karena aku juga baru selesai main lukis-lukisan sama anak-anak..."


"Syukurlah kalau aku nggak mengganggu..."


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Ya sudah, aku tutup telfonnya. Sepertinya ada yang mengetuk pintu ruanganku," kata Gusti.


"Oke, bye!" ucap Vira dan panggilan pun terputus.


Setelah mengakhiri sambungan telepon, Gusti pun membenarkan jas dan dasinya lagi.


"Masuk!" seru Gusti.


Dan pintu pun terbuka.


"Permisi, Tuan ada Nona Vanya ingin bertemu," ucap sekretaris Gusti.


"Hai, Varo!" Vanya langsung masuk ke dalam ruangan itu.


"Kamu boleh pergi," kata Gusti pada sekretarisnya.


"Ada apa, Van? tumben kesini," tanya Gusti yang heran dengan kedatangan Vanya ke kantornya. Wanita itu duduk tepat di hadapan Gusti.


Vanya memang dari dulu lebih suka memanggil Gusti dengan nama Varo, bahkan ketika mereka kuliah bersama di luar negeri.


Vanya yang mengejar cinta Gusti justru harus menelan pil pahit karena cinta Gusti yang berlabuh pada seorang wanita cerdas bernama Putri Sarasvati yang kebetulan kuliah di jurusan yang sama dengan Gusti.


Dan setelah menyelesaikan studinya Gusti dan Putri pun menikah, dan melahirkan seorang putri cantik bernama Gia Putri Alvaro.


Pernikahan mereka yang terkesan buru-buru membuat gosip tidak sedap berhembus terutama di kalangan teman-teman yang mengira kalau mereka menikah karena accident, padahal Gusti dan Putri memang sudah sepakat ingin menikah muda karena mereka saling mencintai.


Namun kebersamaannya dengan Putri ternyata hanya sebentar, Gusti kehilangan belahan jiwanya ketika Putri melahirkan Gia. Dan sampai saat ini Gusti belum bisa membuka hatinya untuk orang lain, termasuk untuk Vanya. Yang satu tahun belakangan ini masih saja mengejar cinta Gusti walaupun pria itu menunjukkan sikap biasa saja.


"Aku mau ngajak kamu makan siang di luar," ucap Vanya.


"Kamu lagi nggak sibuk, kan?" lanjut Vanya.


Baru juga Gusti ingin menjawab ajakan Vanya, ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar.


Tok.


Tok.


Tok.


"Ya, masuk," seru Gusti.


Ternyata yang datang sekretaris Gusti yang bernama Lova.


"Permisi, Tuan. Semua berkas sudah saya siapkan, dan meeting 15 menit lagi akan dimulai," kata Lova mengingatkan jadwal sang CEO.


"Ya, sebentar lagi saya kesana," kata Gusti.


Dan Lova pun pergi keluar meninggalkan ruangan sang pemimpin perusahaan.


"Maaf, Van. Bukannya mau mengusir, tapi aku harus menghadiri rapat," kata Gusti yang memasukkan ponsel di saku jas nya.


"Aku tunggu disini kalau gitu..."


"Mungkin akan sangat lama, lebih baik kamu pulang saja..." ucap Gusti.


"Ya sudah kalau begitu, kalau kamu ada waktu telfon aku..." kata Vanya yang segera bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan priq itu sendirian di ruangannya.

__ADS_1


...----------------...


"


__ADS_2