
Andini tidak sadar kalau dia sedang diikuti seseorang. Wanita itu meneguk minumannya dan beranjak pergi dari cafe itu setelah membayar minumannya.
"Dulu dipuja-puja sekarang dibuang!" gumam Andini ketika masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan di mobil lain dua orang yang memang ditugaskan untuk mengikuti wanita itu ikut bergerak sejalan dengan mobil yang dikendarai Andini.
Di dalam mobil, Andini masih berpikir bagaimana caranya supaya mendesak Ratna supaya bisa menikahkannya dengan Firlan.
"Lagian aku masih cinta sama dia, dan seharusnya emang aku yang jadi calon pengantinnya bukan malah wanita itu!" kata Andini.
"Kenapa perutku sering sakit begini, ya? apa aku salah makan?" Andini memegangi perutnya.
Mobilnya berhenti di sebuah perusahaan. Sebenarnya ini sudah terlalu siang untuk seseorang berangkat ke kantor, pikir kedua orang yang mengikuti Andini sedari pagi.
Andini dengan percaya diri masuk, entah bagaimana caranya wanita itu sudah berganti dengan pakaian kerja saat keluar dari mobil.
Andini naik ke lantai paling atas, beberapa orang yang melihat Andini datang pun tak bisa menahan keinginan untuk membicarakan wanita itu dibelakang.
"Datang ke kantor sesiang ini, enak sekali hidupnya!" ucap salah seorang staff yang berpapasan dengan Andini di depan lift.
"Maklumin aja kesayangan si bos!" ucap wanita yang lain.
Andini tentu mendengar ucapan itu walaupun hanya sekilas.
"Dasar tukang gosip!" ucap Andini yang kini berdiri di dalam lift yang menariknya ke atas, dan setelah sampai di lantai tujuan lift pun terbuka.
Ia segera menempati meja kerjanya. Rambutnya yang masih tergerai ia tata sedemikian rupa seperti sanggul pramugari. Dan setelah penampilannya rapi, ia mengetuk pintu ruangan sang pemilik perusahaan.
"Permisi, Pak..." ucap Andini.
"Kau sudah datang? bagaimana sudah periksa ke rumah sakit?" tanya bos yang kini melepas kacamatanya dan memandangi sang sekretaris.
"Sudah, Pak! tadinya saya disuruh bedrest untuk beberapa hari, tapi yang ada saya digosipin yang tidak-tidak," ucap Andini berbohong.
"Berarti mereka harus sakit terlebih dahulu baru mereka bisa mendapatkan libur sepertimu," ucap si bos.
"Kalau begitu saya kembali ke meja saya, permisi, Pak..." kata Andini.
"Anda memang baik, Pak! tapi pelit!" gumam Andini di belakang pintu. Dia kembali ke meja kerjanya sebagai seorang sekretaris.
.
.
Sedangkan di tempat lesnya. Vira tak begitu bersemangat. Dan itu tak luput dari perhatian Zanna dan Fidya.
"Kenapa, tuh?" tanya Fidya pada Zanna.
"Nggak tau, mungkin lagi banyak pikiran," jawab Zanna asal.
__ADS_1
Mereka melihat Vira yang menghela nafasnya berkali-kali.
"Ehem, kenapa, Kak? Kak Vira lagi sakit?" tanya Fidya. Vira menggelengkan kepalanya.
Fidya melirik Zanna, Zanna mengendikkan bahunya. Mereka mendejat pada Vira yang duduk di sofa.
"Kalau Kakak capek, atau lagi kurang enak badan, kak Vira pulang saja. Nanti saya dan Fidya yang beres-beres..." ucap Zanna.
"Nggak, aku nggak capek kok! aku cuma lagi males," kata Vira dia menyenderkan punggungnya di sofa.
"Tapi beberapa hari ini kak Vira jadi lebih diem," kata Fidya.
"Iya bener, tuh. Atau kita berdua ada yang bikin kaka Vira kesel? kalau kita ada salah ngomong aja, Kak..." Zanna menimpali ucapan Fidya.
"Nggak, kok! kalian nggak ada salah, cuma q lagi ada masalah pribadi aja," kata Vira.
"Gimana kalau kita makan aja bareng-bareng di luar. Jarang-jarang kan bisa keluar bareng, daripada aku suntuk sendirian dan berakhir kena sawan..." ucap Vira.
"Gimana, Fid?" tanya Zanna pada Fidya.
"Ya oke lah, yuk berangkaat!" ucap Fidya.
"Kita beres-beres duly, Kak!" lanjut Fidya.
Vira mengangguk, dia memijit pelipisnya. Sedangkan mereka berdua saling membantu membereskan ruangan.
Beruntung hari ini dia tidak membawa motornya, sehingga dia bisa bebas pergi bersama Fidya dan Zanna menggunakan taksi online.
"Kita makan sepuasnya," ucap Vira pada Zanna dan Fidya.
Sore ini mereka makan di restoran yang mengusung konsep dimana pengunjung bisa menikmati semua hidangan yang tersedia dengan sekali bayar.
Kini semua bahan mentah sudah ada di meja, Zanna dan fidya mulai memasak daging, wanginya pun segera tercium membuat perut mendadak lapar.
Dan tanpa diduga ada seseorang yang menepuk pundak Vira.
"Ditelfon nggak diangkat," kata seorang pria. Vira mendongak dan wajahnya terlihat agak sedikit masam.
"Ehm, ya ... di-silent jadi nggak kedengeran!" ujar Vira.
Pria itu duduk di samping Vira, sedangkan Zanna yang melihat pria itu mendadak tak bisa bersuara. Dia tak berani menatap wajah pria yang sepertinya hanya melihat ke arah Vira.
"Ngikutin aku ya sampai ke sini?" tanya Vira.
"Kebetulan aja, Ay! ada client yang minta ketemuan disini, tuan Satya nggak bisa dateng. Dan otomatis aku yang wakilin," ucap Firlan.
Ya, pria yang ada di hadapan Vira kali ini adalah Firlan, calon suaminya.
"Mendingan kamu balik ke meja kamu aja deh, kita mau makan. Fidya dan Zanna pasti nggak nyaman kalau makan ada kamu..." kata Vira.
__ADS_1
"Kenapa harus nggak nyaman?"
"Astaga, kami kesini buat makan bersama, kalau ada kamu pasti kita semua makan sambil mengheningkan cipta. Udah deh, sana..." kata Vira mengusir Firlan.
"Ya udah, aku tunggu di sana. Pulangnya aku antar ya? sekalian ada yang mau aku bicarakan..." Firlan mengalah, dia memilih pergi dari meja yang dipesan Vira.
Zanna pun akhirnya bernafas lega ketika melihat punggung pria itu semakin menjauh. Fidya bisa mengerti apa yang Zanna rasakan, pasti ada rasa canggung dan tidak enak hati.
"Makan, Zan! dagingnya udah mateng!" kata Fidya memecahkan keheningan.
Mereka makan dengan diselingi obrolan ringan. Vira merasa memiliki teman baru, dulu dia lemana-mana dengan Amartha. Namun ketika wanita itu sudah menikah dan memiliki anak, tentunya hal itu tidak bisa setiap saat mereka lakukan. Walaupun mereka berdua masih sering brtemu namun tak seintens dahulu.
Firlan kini menunggu di luar, ia melihat Vira dan kedua wanita lainnya keluar dari restoran.
"Ay, kita pulang sekarang?" tanya Firlan yang menghampiri Vira, ia langsung memegang tangan wanitanya.
"Zanna, Fidya. Saya duluan, ya?" ucap Vira.
"Hati-hati, Kak..." ucap Fidya, sedangkan Zanna hanya diam.
Firlan segera menarik tangan Vira dan menyuruh wanita itu masuk ke dalam mobil.
Kenapa harus ketemu disini, coba. Batin Vira.
"Pakai dulu sabuk pengamannya," Firlan memasangkan sabuk pada Vira.
Ia pun menyalakan mesin dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Hari sudah gelap, yang dihadapan mereka hanya jalanan yang dipenuhi dengan kendaraan-kendaraan yang saling berpacuenuju tpat tujuannya.
"Ay ... kok diem aja, sih?" tanya Firlan.
"Terus aku harus apa? jingkrak-jingkrak apa gimana?"
"Ya nggak gitu juga, maksudnya kamu nggak ngomong kayak biasanya..." kata Firlan.
"Kan katanya kamu yang mau bicara," kata Vira.
"Oh iya. Aku lupa..." Firlan jadi terkekeh sendiri.
"Siang tadi aku udah ketemu sama dokter, untuk menanyakan soal tes DNA..." ucapan Firlan sukses membuat Vira menoleh padanya.
"Itu bisa dilakukan dalam waktu dekat," lanjut Firlan.
"Apa itu nggak beresiko?" tanya Vira.
"Aku nggak peduli, yang jelas kalau Andini memang merasa benar, dia pasti akan mau melakukan itu..."
"Lagipula, aku tidak yakin wanita itu sedang mengandung!" ucap Firlan yang mmbuat Vira menatapnya heran.
__ADS_1
"Maksud kamu?"
...----------------...