Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Batal Kencan


__ADS_3

"Gia? Kamu datang lebih awal, Sayang..." Vira menyambut kedatangan Gia dan juga Penny, pengasuh gadis kecil itu.


"Iya, aku sudah nggak sabar pengen ketemu Tante..." kata Gia manja, dia memeluk erat tubuh Vira.


"Jadi, pulang sekolah langsung ke sini?" tanya Vira yamg kemudian menjarak tubuhnya dengan Gia. Dia mengelus pipi gemoy gadis cilik itu.


"Hu'um, lagi pula aku ingin mengajak Tante makan siang," ucap Gia. Mendengar kata makan siang, Vira yang sudah terikat janji pada Firlan pun tak bisa menjawab ajakan Gia.


"Ehm, bagaimana ya?" Vira bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Gia.


"Tante? mereka siapa?" tanya Gia mrnunjuk Fidya dan Zanna.


"Oh, itu. Sini, Tante kenalin. Mereka pegawai baru disini," ucap Vira.


Vira mengajak Gia mendekat pada Zanna dan Fidya yang duduk di kursi.


"Nah, kalau yang berkacamata ini, namanya Kak Fidya. Dia yang mengurus administrasi di tempat ini. Dan kakak yang berambut panjang ini namanya Zanna, yang akan mengajari murid lain untuk melukis," ucap Vira.


"Hai," ucap Gia.


"Halo anak manis," ucap Zanna.


"Halo, nama kamu siapa?" tanya Fidya.


"Gia," jawab Gia seadanya.


"Tante, kita pergi sekarang..." ucap Gia menarik-narik tangan Vira.


"Ehm, bagaimana, ya?" Vira melirik Penny, sedangkan pengasuh itu mengendikkan bahunya. Pasalnya kalau Gia sudah merajuk, akan sulit sekali membujuknya. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh Gusti, papi Gia.


Tiba-tiba saja ponsel Vira berdering, tertera nama Firlan.


"Ya, Halo?" sapa Vira.


"Vira, maaf. Aku ada pekerjaan mendadak, bagaimana kalau aku pesankan makanan? pulang kantor aku nanti mampir kesana..." ucap Firlan dengan penuh penyesalan.


"Nggak usah, nggak apa-apa. Nanti aku makan sendiri aja," ucap Vira.


"Kamu marah?"


"Nggak, siapa juga yang marah?" ucap Vira, justru ucapan Firlan tadi membuatnya lega pasalnya dia tidak perlu membuat hati Gia menjadi kecewa karena dia menolak makan siang bersama.


"Ya sudah, jangan lupa makan. Bye..." kata Firlan yang terkesan terburu-buru.


"Bye..." sahut Vira seraya menutup telepon.


"Tanteeeee..." rengek Gia. Vira mengusap pucuk kepala gadis kecil itu.


"Iya, kita pergi sekarang. Gia mau makan apa?" tanya Vira.


"Beneran? asiiikk, ayo Tanteeee...!" Gia menarik Vira untuk mengikutinya keluar dari ruangan itu.


"Zanna, Fidya saya pergi dulu..." ucap Vira setengah berteriak, karena dia keburu ditarik oleh Gia.

__ADS_1


"Gia Gia ... Hey, hati-hati, nanti kamu bisa jatuh!" ucap Vira.


Dan kini mereka sudah menaiki mobil yang diperuntukkan khusus untuk antar jemput Gia.


"Jalan, Pak!" perintah sang nona kecil setelah semua orang sudah berada di dalam mobil termasuk Penny.


"Memangnya kita mau kemana Gia?" tanya Vira.


"Ke restoran kesukaan Gia," ucap gadis kecil itu.


"Mampus! dia kalau milih resto kan nggak kaleng-kaleng, bocah cilik tapi kalau makan mahalnya nggak kira-kira. Nggak mungkin si Gia ngajak makan ayam geprek, kan?" batin Vira.


"Penny beritahu pak supir kemana kita akan pergi," suruh Gia.


"Baik, Non Gia..." jawab Penny. Penny pun memberitahu kemana pak supir harus mengantar mereka.


"Memangnya Gia sudah ijin papi Gia?" tanya Vira.


"Sudah, nanti papi akan menyusul katanya," ucap Gia.


"Aiiih, kenapa harus sama bapaknya juga?" gumam Vira dalam hati.


"Memangnya papi Gia tidak sibuk, ya?" tanya Vira, sebenernya dia bingung bagaimana nanti bertemu dengan Gusti. Pasalnya, waktu itu kan dia selalu mengabaikan panggilan telepon Gusti. Dan hari ini dia akan bertemu dengan duda tampan itu.


"Kalau papi sibuk pasti papi bilang," kata Gia.


Dan tak lama, mereka sampai di sebuah restoran.


"Kita sudah sampai, Nona..." ucap pak supir.


"Selamat datang," ucap salah seorang pelayan.


"Apa masih ada meja yang kosong?" tanya Vira pada pelayan itu.


"Masih ada, Nyonya. Silakan disebelah sana, mari saya antarkan..." jawab pelayan ramah.


Vira emnggandeng Gia mengikuti pelayan tadi begitu juga dengan Penny.


"Silakan, Nyonya..." ucap pelayan setelah berhenti di satu meja yang berada di salah satu sudut di restoran tersebut.


"Terima kasih, ya?"


"Duduk, Sayang..." Vira mengangkat Gia untuk duduk di kursi. Dan Vira duduk berhadapan dengan gadis kecil itu. Peny juga ikut duduk di satu meja dengan nona kecilnya, dia duduk disamping Gia.


"Mau pesan sekarang atau ingin memilih terlebih dahulu, Nyonya?" tanya pelayan itu.


"Kami pilih dulu saja," jawab Vira.


"Baik, kalau sudah Nyonya bisa panggil saya atau rekan saya yang lain, permisi..." kata pelayan itu yang kini meninggalkan meja Vira.


"Gia..." Vira memanggil bocah kecil yang sedang asik membolak-balik buku menu.


"Ya Tante..." Gia berhenti dan menatap orang yang memanggilnya.

__ADS_1


"Gia, ehm ... sebaiknya nanti lagi kalau Gia mau datang lebih awal, Gia memberitahu Tante sebelumnya dulu, ya? karena takutnya tante sudah ada janji atau sedang pergi keluar," ucap Vira.


"Iya, Tante..."


"Anak pintar..." ucap Vira tersenyum pada Gia.


Namun, senyum Vira memudar kala mendengar suara seorang pria.


"Gia..." ucap pria itu.


"Papiiiiiii...." seru Gia yang menatap pria yang kini menarik kursi dan duduk di samping Vira.


"Iya, Sayang. Kalian sudah pesan?" tanya Gusti pada anaknya.


"Belum, Papiiii Gia sudah lapaaaar!" rengek Gia manja.


"Tunggu sebentar, ya?" ujar Gusti, dia melambaikan tangannya memanggil pelayan.


Pria itu pun menyebutkan menu tanpa melihat buku yang dipegang Gia atau Vira, seakan pria itu sudah hafal makanan kesukaan putrinya.


"Kamu ingin pesan apa, Vira?" tanya Gusti.


"Samain aja," ucap Vira yang menutup buku menu yang lumayan besar itu.


"Minumnya?" tanya Gusti.


"Ehm, jus strawberry..."


"Kalau kau Penny?" tanya Gusti pada pengasuh Gia.


"Saya, jus jeruk saja, Tuan..." jawab Penny.


"Gia jus stobeli, Piiiii..." Gia mengangkat telunjuknya.


"Oke," sahut Gusti.


Pria itu pun menyebutkan tambahan pesanannya tadi pada si pelayan.


"Baik, ada lagi, Tuan?" tanya pelayan.


"Tidak ada..."


"Baik kalau begitu saya ambil kembali buku menu-nya, dan mohon ditunggu pesanannya..." ucap si pelayan seraya mengambil dua buku besar dari atas meja.


Setelah pelayan itu pergi, Gusti pun menoleh pada Vira yang daritadi sepertinya tidak banyak bicara.


"Kamu kenapa Vira? sakit?" tanya Gusti.


"Emnh, tidak, saya baik-baik saja..." ucap Vira.


"Soalnya dari tadi kamu hanya diam saja. Oh, ya kenapa waktu itu kamu pergi dari rumah? padahal saya minta kamu tunggu, saya akan mengantar kamu ke kontrakan..." ujar Gusti.


"Ehm, itu saya ada keperluan mendadak. Maaf..." ucap Vira.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2