
2 hari kemudian...
"Pagi Papi..." sapa Gia ketika melihat Gusti sudah duduk di kurai meja makan.
"Pagi, Cantik!" ujar Gusti pada putri kecilnya.
"Gia pengen sereal!" ucap Gia pada Penny, pengasuhnya.
"Baik, Non!" Penny segera mengambil mangkuk dan mengisinya dengan sereal cokelat dan susu vanilla dingin kesukaan Gia.
"Gia nggak mau makan nasi goreng?" tanya Gusti.
Gia menggeleng, "Aku maunya sereal!" ucap Gia.
"Baiklah," kata Gusti.
"Ini, Non..." Penny mebaruh semangkok seral yang sudah beri susu pada Gia.
Gusti mengusap kepala anaknya, ia sangat senang karena Gia sangat begitu menikmati sarapannya.
"Oh ya, Piiiih ... besok Gia boleh datang ke tempat lesnya tante Vira? seminggu kemarin kan Gia sudah istirahat dan sekarang Gia sudah sehat," ucap Gia ceria.
"Hem, Sayang. Tempat les tante Vira terlalu jauh. Apa tidak sebaiknya Gia belajar melukis di rumah saja? nanti papi panggilkan guru untuk datang kemari..." ucap Gusti.
"Nggak mau, Gia nggak mau yang lain. Lagian kan Gia udah biasa kesana..." kata Gia.
"Papi cuma takut Gia kelelahan, harus sekolah dan les melukis juga..." kata Gusti.
"Pokoknya Gia nggak mau!" Gia menghentikan sarapannya.
"Gia sudah selesai sarapan, ayo Penny!" ucap Gia seraya turun dari kursinya.
"Gia ... Gia....!" panggil Gusti.
"Astaga anak itu! huufh, papi cuma nggak pengen Gia semakin dekat dengan tante Vira. Papi nggak mau nanti kamu berharap lebih..." gumam Gusti.
.
.
Sementara itu, sebelum berangkat ke kantor Firlan menyempatkan menelepon Raharjo, ayah Vira.
"Assalamualaikum, Om..." sapa Firlan.
"Waalaikumsalam, Firlan!" jawab Raharjo di seberang telepon.
"Bagaimana kabarnya Om dan Tante?" tanya pria itu sedikit basa-basi.
"Alhamdulillah baik, Lan. Kamu sendiri bagaimana?"
"Saya juga alhamdulillah sangat baik, Om..." sahut Firlan.
"Tumben pagi-pagi sampai menelepon Om? ada apa, Lan? apa ada sesuatu yang terjadi dengan Vira?" cecar Raharjo.
"Vira? Vira baik-baik saja, Om. Dia bahkan sangat sehat dan bahagia. Saya menelepon Om ingin menanyakan sesuatu..."
"Apa itu?"
__ADS_1
"Begini, Om. Sebenarnya saya sudah melamar Vira beberapa hari yang lalu, alhamdulillah Vira menerimanya. Dan rencananya saya ingin berkunjung ke rumah Om bersama ibu saya. Saya ingin melamar Vira secara resmi di depan keluarga..." kata Firlan dengan rasa was-was.
"Om sangat senang mendengarnya, Lan! syukurlah, Vira mau menerima lamaranmu. Kapan kamu akan datang kemari?" tanya Raharjo antusias.
"Kalau akhir pekan ini bagaimana, Om? apa Om dan Tante ada waktu?"
"Tentu ada waktu! datanglah, Om akan menerimanya dengan tangan terbuka..."
"Baiklah kalau begitu, Om. Terima kasih, salam untuk Tante Dewi..." ucap Firlan sebelum mengakhiri panggilannya.
"Iya, nanti Om sampaikan..." kata Raharjo.
"Assalamualaikum," ujar Firlan.
"Waalaikumsalam..." jawab Raharjo sebelum panggilan itu ditutup oleh calon menantunya.
Raharjo yang baru saja mendapat kabar baik pun langsung berteriak memanggil istrinya.
"Maaaah, Mamaaaa!" seru Raharjo.
"Iya, Pah. Ada apa?" Dewi datang dengan tergesa-gesa dari dapur menuju ruang tengah.
"Mah, alhamdulillah anak kita Vira akan segera dilamar," kata Raharjo.
"Dilamar? dilamar siapa, Pah? Papa jangan main jodoh-jodohin anak, mama nggak suka ya. Biarkan Vira memilih jodohnya sendiri, lagipula dia sudah punya pacar. Kita sebagai orangtua tidak boleh egois," ucap Dewi panjang lebar.
"Astaga, Mama! siapa juga yang mau jodohin Vira?"
"Lah itu tadi Papa bilang anak kita mau dilamar, Papa bagaimana sih? baru saja bicara sudah lupa!"
"Makanya dengarkan dulu, Papa baru ngong satu kalimat, Mama sudah ngomong satu paragraf!" ujar Raharjo.
"Beneran, Pah? alhamdulillah alhirnya anak itu mau menikah juga, mama sempat khawatir dengan Vira. Tapi alhamdulillah kalau dia sudah sadar. Berarti kita harus mempersiapkan semuanya, Pah. Jangan sampai mengecewakan. Oh ya, nanti mama suruh Vira pulang..." kata Dewi tak kalah senang.
"Pap akan suruh orang membantu kita membereskan rumah," kata Raharjo.
.
.
.
Hari ini Vira datang ke tempat privatnya lebih awal daripada biasanya.
"Zanna?" Vira mengernyitkan dahinya dan mendekati karyawannya itu.
"Iya, Kak..."
"Aku kira oranglain, karena kamu memotong pendek rambutmu," kata Vira yang heran dengan penampilan Zanna.
"Iya, Kak. Sebenarnya kemarin itu saya mau merapikan rambut di salon, tapi orangnya salah denger, dia malah potong rambutku sependek ini. Awalnya kesel, tapi mau bagaimana lagi? sudah terlanjur!" jelas Zanna.
"Wah, sayang sekali ya. Kamu pasti kesel banget! tapi kamu cantik juga dengan rambut sebahu seperti itu," puji Vira.
"Padahal saya nggak pede, Kak!"
"Kamu cantik, kok! Oh, ya? Fidya belum datang?" tanya Vira yang tak melihat salah satu karyawannya.
__ADS_1
"Dia sakit, Kak. Katanya badannya demam..." terang Zanna.
Dan tak lama ponsel Vira berdering.
"Halo, Fidya?" sapa Vira setelah mengetahui yang meneleponnya adalah Fidya.
"Pagi, Kak. Saya hari ini ijin tidak berangkat, saya demam dari semalam, Kak..."
"Ya udah kamu istirahat saja. Sudah minum obat belum?" tanya Vira.
"Sudah, Kak..."
"Istirahat saja sampai keadaanmu pulih," kata Vira.
"Terima kasih, Kak..."
Dan panggilan pun berakhir. Vira yang belum sarapan memilih untuk duduk dan membuka sebungkus roti dan susu kotak.
Hari ini, berjalan seperti biasanya. Vira masih ikut mengajari anak-anak untuk melukis. Dan jadwal sepertinya lumayan padat hingga ia melewatkan makan siangnya.
Vira memegangi perutnya, ia merasakan perih di lambungnya.
"Kenapa, Kak? Kak Vira sakit?" tanya Zanna.
"Nggak, kok. Aku keluar bentar ya? aku mau beli obat lambung dulu," kata Vira.
"Saya saja, Kak yang belikan..." kata Zanna.
"Nggak usah, saya sendiri aja. Lagian saya mau mampir ke kedai makan juga nanti..." kata Vira.
"Kamu disini saja, lagian tinggal sebentar lagi kan sesi terakhir selesai?" kata Vira, Zanna hanya mengangguk.
Vira bangkit dari duduknya dan mengambil dompet dan juga ponselnya.
Hari ini kebetulan dia tidak membawa motor, dia naik ojek. Karena rencananya dia akan mampir ke rumah Amartha pulang kerja nanti.
Vira pergi dengan memesan ojek menuju apotek.
Sedangkan Firlan yang seharian ini sangat sibuk, sengaja pulang 1 jam lebih awal daripada biasanya. Dia inginemberikan kejutan untuk Vira, sekalian ingin memberitahu kalau akhir pekan ink dia akan melamar gadis itu.
Firlan keluar dari kantornya dan melesat menuju tempat les seni Vira. Sebelumnya dia membeli satu buket bunga lili putih. Beberapa kali Firlan menelepon Vira namun tak mendapatkan jawaban dari kekasihnya.
"Mungkin lagi sibuk..." gumam Firlan. Pria itu segera melajukan mobilnya ke tempat yang dia tuju.
Di tempat privat, anak-anak sudah pulang. Ruangan sudah dibersihkan dan lampu juga dimatikan tinggal pendingin ruangan saja yang masih menyala.
"Ya ampun, lupa belum matiin..." ucap seorang wanita yang membungkuk mencari remot ac.
Namun tiba-tiba saja pintu dibuka dan menutupnya kembali. Belum sempat wanita itu melihat siapa yang datang, seseorang memeluknya dari belakang.
"Kejutaan!" ucap pria itu sembari memberikan bunga lili yang ada ditangannya. Wanita itu memegang bunga lili yang diberikan padanya. Sedangkan sang pria memeluknya erat.
"Parfum kamu beda, Ay?" ucap pria itu, sednagkan sang wanita hanya bisa diam dan menelan salivanya dengan susah payah.
"Maaf ya, seharian ini aku sibuk..." pria itu perlahan membalik wanita yang ada di dekapannya.
Dan tiba-tiba...
__ADS_1
...----------------...